Ibadah Berkesinambungan

Ibadah Berkesinambungan

Oleh Agung Kuswantoro

 

Dan sembahlah Rogmu sampai datang kepadamu alyaqin (ajal) [alhijr ayat 99]

 

Ramadhan telah kita lalui selama 29 hari. Ramadhan tidak meninggalkan kita, kitalah yang telah meninggalkannya. 11 bulan ke depan, Ramadhan yang menjadi tuan rumah dan kita menjadi tamu di rumah Ramadhan.

 

Dulu, saya mengibaratkan Ramadhan adalah sekolah. Ramadhan telah usai, berarti sekolah tersebut telah meluluskan anak didiknya menjadi sarjana “takwa”, sebagaimana dalam surat Al Baqarah 183, yaitu tujuan orang yang berpuasa menjadi orang yang bertakwa (la’alakum tattaqun).

 

Ibarat orang yang baru lulus sekolah, maka ia akan melakukan (mempraktikkan) segala sesuatu yang telah diberikan di sekolah tersebut. Ia tidak bingung dengan yang akan dilakukan nanti. Misal, ia akan bekerja dimana? Ia mau melakukan apa? Dan ia akan menuju kemana?

 

Pertanyaan-pertanyaan itu, tidak mungkin terjadi, jika ia melakukan semua pembelajaran di sekolah Ramadhan dengan baik. Saat di sekolah Ramadhan ia sahur, berpuasa, sholat subuh berjamaah, mengaji Alquran (tadarus), sholat Dhuha, sholat tahyatul masjid, sholat sunah qobliyah – ba’diyah, berbuka puasa, sedekah, sholat Isya, taraweh, dan witir berjamaah, mengikuti kajian, serta sholatul lail.

 

Siswa yang baik dan berprestasi pasti akan mengikuti pelajaran-pelajaran selama di sekolah Ramadhan dengan khusyuk. Saat ia lulus dari sekolah tersebut, pasti tidak bingung. Ia melanjutkan atas pelajaran-pelajaran di sekolah tersebut. Misal, puasa. Ia akan berpuasa sunah di bulan Syawal atau Senin-Kamis. Sholatul lail (sholat tengah malam), ia tetap rajin bertahajud dan sholat witir. Tadarus Al qur’an tetap ia laksanakan. Tahyatul masjid tetap ia dirikan sebelum ia melakukan sholat wajib. Bahkan, terasa ringan karena sudah dilatih di sekolah Ramadhan.

 

Saat ini, syawal sudah masuk pada tanggal 20. Sudah 20 hari kita melalui bulan kelulusan setelah Ramadhan. Pertanyaannya, apakah kita sudah melaksanakan (baca: mengamalkan) pelajaran-pelajaran selama Ramadhan? Apakah, kita sudah puasa sunah Syawal? Ataukah, apakah kita sudah melakukan sholat tahajud dan witir? Dan, apakah, kita sudah membaca Al qur’an selama 20 hari?

 

Pastinya, saya tidak akan menanyakan pertanyaan ini semua kepada tiap individu. Pertanyaan tersebut kita yang tahu akan jawabannya. Hati yang menjawab, bukan mulut kita. Jika mulut kita yang menjawab, maka ada kekhawatiran untuk berdusta. Padahal, salah satu ciri orang munafik adalah apabila ia berbicara, ia dusta, tetapi harus diamalkan. Mulut mengatakan puasa, tetapi siang hari mulut dan perut menerima asupan makanan, namun sore harinya, mulut tetap berkata, “Aku berpuasa”. Sah-sah saja, jika ada orang yang berkata seperti itu. Oleh karenanya, hatilah yang harus menjawab  atas pertanyaan tersebut.

 

 

Sudah saatnya, kita mempertahankan label takwa. Proses pembelajaran Ramadhan harus dipertahankan pula. Kalimat sederhananya adalah meramadhankan bulan selain Ramadhan. Bulan Syawal, kita Ramadhankan. Ada puasa 6 hari, kita puasa. Sebagaimana hadist Nabi Muhammad SAW yang artinya: Barang siapa berpuasa Ramadhan satu bulan seperti seperti sepuluh bulan dan berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka itu merupakan kesempurnaan puasa setahun penuh.

 

Logikanya, kita melakukan perbuatan atau amalan sebagaimana dalam pembelajaran selama di sekolah Ramadhan, saya rasa lebih mudah. Ada beberapa trik agar bisa mengesinambungkan – menyinergikan  amalan bulan Ramadhan ke bulan yang lainnya.

 

Pertama, bangun budaya dan iklim Ramadhan ke keluarga. Keluarga sebagai model dalam menerapkan pembelajaran di rumah. Bapak sebagai leader atau pemimpin harus mengingatkan anggota keluarganya. Misal, berapa puasa Ramadhan yang ditinggalkan bagi istri dan anak perempuan dewasa yang belum menikah. Mengapa, Bapak menanyakan itu kepada istri dan anak perempuannya? Karena, mereka tanggung jawabnya. Diingatkan dan mengajak untuk meng-qodho puasanya secepatnya. Seperti di bulan Syawal. Jika berpuasa Bapak, Ibu, dan anak perempuannya, maka terbangun iklim puasa di bulan Syawal.

 

Berarti dalam keluarga tersebut, ada “kehidupan malam” seperti sahur, sholat malam, sholat fajar, atau qobliyah subuh, tahyatul masjid, dan sholat subuh berjamaah. Minimal di keluarga. Tidak berharap pada “pujian” manusia. Satu keluarga tersebut berharap pada ridho Allah.

 

Kedua, merasa kehadiran Allah setiap saat dan dalam keadaan apa pun. Allah selalu ada dalam kehidupan kita, baik di bulan Syawal atau pun Ramadhan. Allah membimbing dan memudahkan kita saat beribadah. Kita akan tidur, dalam hati berniat akan tahajud, maka Allah akan membangunkan di tengah malam. Sebelum tidur, kita berniat untuk berpuasa di bulan Syawal atau Senin – Kamis, Insya Allah, Allah akan memudahkan niat dan perbuatan tersebut.

 

Apabila kedua trik  ini kita lakukan, Insya Allah, masjid tidak akan sepi. Sholat Isya pada bulan Syawal, seperti sholat Isya berjamaah di masjid pada bulan Ramadhan. Ramai masjid dan musholla setiap hidup mencari keberkaan. Demikian juga Alquran akan tetap terbuka dan terbaca tiap hari.

 

Pada intinya, Ramadhan akan selalu hidup, meskipun tidak berada di bulan Ramadhan. Tidak ada istilah ibadah istirahat. Ibadah harus berkesinambungan atau istiqomah. Jangan sampai, Ramadhan “jor-joran” ibadah. Syawal “pol-polan” berkurang ibadahnya.

 

Syawal memiliki arti peningkatan. Peningkatan iabdahnya. Seharusnya, lebih meningkat ibadah di bulan Syawal, setelah melewati bulan Ramadhan. Namun, faktanya, sebaliknya. Justru pada bulan Syawal ibadah menjadi turun. Masjid menjadi sepi. Puasa terasa berat. Membaca Alquran pun terasa berat.

 

 

Ibadah (baca : amalan) yang baik adalah berkesinambungan, ajeg, atau terus-menerus. Asy Syibly pernah ditanya, “Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban? Beliau pun menjawab “jadilah rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin”. Maksudnya adalah jadilah hamba yang rajin beribadah setiap bulan dan tahun. Bukan hanya beribadah pada bulan sya’ban saja. Atau bisa dimaknai beribadah secara terus-menerus, bukan hanya beribadah pada bulan Ramadhan saja.

 

Cerita ini mirip dengan cerita Alqomah yang bertanya kepada Aisyah mengenai amalan Rosul. Apakah beliau (Rosul) mengkhususkan hari tertentu untuk beramal? Jawab Rosul: Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinyu.

Ada hadis dari Aisyah, bahwa Rosul bersabda yang artinya Amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan yang kontinue, walaupun itu sedikit. (HR. Muslim no. 782)

 

Dari kedua hadis tersebut jelas sekali, bahwa  beribadah yang baik adalah beribadah yang berkesinambungan. Ramadhan sebagai bekal untuk menghadapi 11 bulan berikutnya. Ada kesimpulan dari khutbah ini :

 

  1. Ramadhan tidak meninggalkan kita. Kita yang telah meninggalkan bulan Ramadhan. Ramadhan tetap hadir, nanti 11 bulan Kita yang belum tentu hadir.

 

  1. Pembelajaran selama bulan Ramadhan berupa sholat tarawih, puasa, tadarus, dan ibadah lainnya harus dipertahankan di bulan selain bulan Ramadhan.

 

  1. Perlu trik agar bisa menghadirkan bulan Ramadhan pada bulan-bulan berikutnya. Adapun triknya adalah (a) perlu adanya iklim dan budaya yang mendukung, salah satunya keluarga, (b) selalu menghadirkan Allah dalam situasi dan keadaan apa pun.

 

  1. Amalan (baca: ibadah) yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang berkesinambungan, meskipun sedikit.

 

  1. Melalui cara di atas, makna syawal yaitu peningkatan, insya Allah dapat diraihnya, sehingga predikat takwa tetap terjaga. Amin.

 

 

Demikian khutbah singkat ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

 

 

Semarang, 9 Juli 2017

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: