Administrasi Pondok Pesantren

Administrasi Pondok Pesantren

Oleh Agung Kuswantoro

 

Berbicara Pondok Pesantren berbasis Salafi, apa yang terbesik dalam otak Anda? Pertanyaan itu, sebagai dasar acuan saya untuk menuliskan administrasi pondok. Jawaban yang saya himpun adalah (1) pondok pesantren Salafi itu khas dengan NU, (2) pondok pesantren Salafi itu identik dengan Kiai karismatik yang mengasuh, (3) pondok pesantren Salafi itu bersifat sederhana, dan (4) pondok pesantren Salafi itu memiliki santri yang tadzim dengan Kiainya.

 

Jawaban-jawaban itulah yang saya temukan dari angket sederhana, yang saya tujukan kepada responden. Yang menarik dari jawaban itu semua adalah pondok pesantren itu bersifat sederhana. Kalimat “sederhana” ini, saya kaitkan dengan materi yang akan saya sajikan mengenai administrasi, khususnya administrasi pondok pesantren.

 

Makna administrasi menurut Kamus Bahasa Indonesia (1) Arti sempit, administrasi adalah kegiatan yang meliputi mencatat, surat-surat, pembukuan ringan, ketik-mengetik, agenda, dan sebagainya yang bersifat teknis ketatausahaan. (2) Arti luas, administrasi adalah seluruh proses kerja sama antara dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan dengan memanfaatkan sarana prasarana tertentu secara berdaya guna dan berhasil guna.

 

Pondok pesantren sebagai wadah yang mendidik santri berdasarkan Alquran dan Alhadis, pasti dalam kegiatan kesehariannya melakukan kegiatan administrasi, baik administrasi dalam arti sempit dan luas. Misal, administrasi bermakna sempit adalah mencatat pembayaran kas bulanan, menghitung dan melaporkan keuangan saat ada kegiatan, mengirimkan surat ke orang tua/ wali santri, menyimpan surat atau berkas pondok pesantren, dan kegiatan lainnya. Sedangkan, misal administrasi bermakna luas adalah mengadakan kegiatan Tasyakuran Akhirussanah, dimana melibatkan semua komponen yang terdiri dari santri, ustad, kiai, dan kegiatan administrasi (pencatatan, persuratan, penyimpanan, pembiayaan, sarana dan prasarana, logistik, dan sumber lainnya).

 

Dengan demikian, santri harus memahami kegiatan administrasi. Meskipun, ada orang yang mengatakan bahwa pondok pesantren itu tidak “kolot”, saya rasa itu tidak pas. Oleh karena, santri harus mampu membuktikannya melalui kegiatan-kegiatan administrasi yang bersifat luas, bukan kegiatan administrasi yang bersifat sempit.

 

Bagaimana cara membuktikannya? Jawabannya, sederhana yaitu melakukan kegiatan administrasi dari hal kecil. Orang yang terbiasa melakukan kegiatan administrasi secara kecil (baca:disiplin), maka ia sedang belajar menyelasaikan permasalahan adminstrasi yang luas. Sebagai santri, harus tanggap terhadap perbuatan-perbuatan yang kecil. Misal, pencatatan pembayaran uang. Langsung tulis, jangan menunda kegiatan pencatatan tersebut.

 

Jadi, kalau kita bicara administrasi pondok pesantren sangat luas. Bisa dilihat dari pelakunya, yaitu santri, ustad, dan Kiai. Bisa dilihat dari sarana dan prasarana. Dan, bisa dilihati dari materi atau kurikulum dari pondok pesantren. Jelas, banyak sekali administrasi pondok pesantren. Oleh karenanya, harus tertib dalam melakukan kegiatan administrasi.

 

Ngaji OK, administrasi juga OK. Santri alim, administrasi tertib. Prinsipnya itu. Jangan sampai, ngaji jalan, administrasi amburadul. Jelas, santri seperti ini akan susah dalam mencapai tujuan. Mengapa demikian? Karena bicara administrasi bicara pula, tujuan yang akan dicapai. Jadi, saya punya keyakinan, saat ada santri yang tertib administrasi, maka ia akan mudah merencanakan dan membuktikan akan mudahnya menggapai tujuan.

 

Dengan cara seperti ini, paradigma santri “kolot” dan “tidak tertib” administrasi akan terkikis. Anggapan itu muncul, mungkin perilaku itu ada pada diantara para santri yang ada di pondok pesantren. Sebagai santri, mulai sekarang harus tertib administrasi. Kerjakan dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Setelah itu, administrasi yang berskala luas akan mudah dilakukan. Bukankah, sangat mungkin sekali, santri bisa menjadi pemegang utama bangsa ini? Maka, lakukanlah kegiatan adminisrasi dari yang terkecil terlebih dahulu.

 

 

Agung Kuswantoro, dosen Universitas Negeri Semarang (UNNES) dan alumni Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang lulus Diniah Ulya tahun 2001

Materi disampaikan saat kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang, 12 Agustus 2017

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: