Agung, Afgan, dan Agnes Monika

Agung, Afgan, dan Agnes Monika

Oleh Agung Kuswantoro

 

Tak kenal, tak sayang. Pepatah itulah yang sering kita dengar saat perkenalan pada mahasiswa baru. Bagi saya, perkenalan dengan menyebut nama diri, alamat, umur, dan seterusnya, itu adalah hal biasa. Namun, kenapa Afgan atau Agnes Monika saat dipanggung atau di sebuah acara, tak perlu mengenalkan diri?

 

Disinilah menurut saya, adalah ada permasalahan. Saya sebagai dosen, nyaris satu kelas tidak ada yang kenal. Saat ada Afgan naik panggung, semua penonton mengenalnya. Padahal dosen “panggung” akademiknya adalah kelas.

 

Pada pertemuan pertama, yang biasanya dosen berkenalan dengan mahasiswa. Namun, saya membuat “permainan kecil-kecilan”. Sebagaimana cerita di atas. Kemudian saya bertanya kepada mahasiswa. “Apakah Anda yakin, bahwa yang duduk dan berdiri di depan Anda adalah dosen Anda?” mahasiwa semua diam tidak ada yang menjawabnya.

 

Lalu, siapakah dosen pada mata kuliah ini? Mahasiswa menjawab, “Bu X”; selaku dosen pertama, dan Pak Agung, selaku dosen kedua. Jawaban ini mementahkan bahwa, dosen yang berdiri di hadapan mahasiswa bukan seorang perempuan. Jadi, jelas laki-laki, jenis kelaminnya. Kemudian, yakinlah, kalau dia adalah Agung? Sebut saya kepada mahasiswa. Mahasiswa diam. Akhirnya, ada mahasiswa – Umar, namanya – karena Bapak tadi berbicara tentang ilmu tersebut dan bertemu dengan Ibu X. Ada juga mahasiswa, menyatakan bahwa saya melihat Bapak di simpeg.unnes.ac.id, saya yakin bahwa Bapak adalah Agung Kuswantoro.

 

Akhirnya, saya mengiyakan, bahwa saya adalah Agung Kuswantoro. “Geli” mendengar mahasiswa tidak mengetahui atau belum mengenal tokoh-tokoh yang telah menginspirasi. Masa Rhenald Kasali, mereka tidak kenal? Kan, aneh! Sebaliknya, Agnes Monika, dan Afgan, langsung mengenalnya? Jadi, lucu nanti seorang Rhenald Kasali kenalan di kelas. Sekali lagi aneh!.

 

Itu, maknanya ada mahasiswa yang keliru dalam cara memandang tokoh seseorang. Kita tidak mengucapkan terima kasih kepada orang yang berjasa di sekitar kita. Buktinya, Wakil Rektor 1, 2, 3 dan 4 hanya beberapa yang mengenalnya. Belum lagi berbicara karyanya.

 

Saya mengajak kepada mahasiswa coba, ketik nama Anda di Google, disitulah awal orang akan mengenal Anda. Carilah orang yang mampu merubah hidup Anda menjadi suskes. Jangan cari orang yang hidupnya datar. Rubahlah cara pandang Anda dalam memilih sosok idola Anda. Disitulah gambaran, bahwa Anda luar biasa. Jelas, kehidupan Anda akan luar biasa. Sebaliknya, jika contohnya adalah sosok yang tidak terkenal dan hidupnya “datar”, dapat dipastikan hidup Anda datar pula. Salam sukses!

 

 

Semarang, 30 Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: