Mantel dan Pesawat Terbang

Mantel dan Pesawat Terbang

Oleh Agung Kuswantoro

 

Gerimis turun di Batam. Terasa dingin udaranya. Banyak orang menggunakan jaket. Saya pun merasakan apa yang dirasakan oleh mereka. Saya ada keperluan pergi ke Bandara untuk pulang ke Semarang. Sesekali saat di pesawat, saya melihat jendela. Saya melihat rintikan hujan jatuh membasahi bumi.

 

Saya kagum dengan pesawat yang saya tumpaki. Semua penumpang manut dengan instruksi awak pesawat. Barang-barang tertib dan rapi tertata di bagasi, handphone dimatikan saat akan tinggal landas, semua penumpang memakai sabuk pengaman. Dan, yang paling penting meskipun hujan, penumpang tenang dan tidak ada yang memakai mantel/ jas hujan dan tidak ada wiper dibagian jendela. Kurang lebih ada 100-an orang yang ada di pesawat tersebut. Alhamdulillah tenang dan (Insya Allah) selamat  sampai tujuan.

 

Biasanya saat bepergian dalam keadaan hujan, yang naik sepeda motor menggunakan mantel. Yang mengunakan mobil, wipernya menyala. Lalu, kenapa di pesawat pilotnya tidak turun untuk memasangkan mantel ke pesawatnya?

 

Mari kita perhatikan. Pesawat memiliki kecepatan yang tinggi, keamanannya pun juga tinggi, dan mampu membawa orang banyak. Maknanya, saat kita ingin menjadi orang yang sukses, menurut saya, jadilah seperti pesawat. Buatlah pesawat. Buatlah organisasi yang besar. Standar atau regulasi (aturan) yang ada dalam organisasi tersebut juga harus jelas, sebagaimana penjelasan di atas. Yaitu, penumpang atau pengikutnya tertib mengikuti instruksi pimpinan atau “awak” organisasi.

 

Tidak ada pengikut yang protes atas aturan-aturan yang dibuat oleh pimpinan dan regulasinya. Karena organisasilah yang mengantarkan nafkah untuk keluarganya dan memberikan jaminan kesehatan dan keselamatannya.

 

Coba, sekarang lihat, sepeda motor saat hujan, pasti pengemudi harus turun untuk memasang mantel untuk satu penumpangnya. Organisasinya kecil, penumpangnya hanya satu. Pengikutnya hanya satu. Orang yang dijamin kesehatan dan keselamatannya, hanya satu. Lalu ribet harus membuka jok dan cari tempat teduh untuk memasang mantel.

 

Pembelajaran penting dari cerita ini adalah jika Anda ingin sukses, maka jangan tanggung-tanggung suksesnya. Buatlah organisasi yang besar, dimana pengikutnya banyak. Pengikutnya pun tertib dan tidak banyak protes. Dengan organisasi besar, kecepatan dalam mobilitasnya tinggi. Organisasinya mampu mengelola pengikutnya. Namun, membuat organisasinya atau “pesaratnya” tidaklah mudah. Butuh perencanaan, bahan yang digunakan, sumber daya yang kuat, dan yang terpenting memiliki tujuan yang jelas.

 

 

Pesawat terbang tidak langsung jadi dalam wujud pesawat yang siap terbang. Ia terdiri dari komponen-komponen yang dirakit. Teknisinya pun harus profesional. Standar dan aturannya harus dibaca oleh semua orang yang akan membuat dan menumpanginya agar selamat.

 

Mulai sekarang, latihanlah berpikir menjadi orang besar. Wujudkan cita-cita yang belum tercapai. Jangan tanggung-tanggung dalam bertindak. Jangan ragu dalam melangkah. Hidup harus berani mengambil resiko. Pilih mana, kehujanan memakai mantel dengan memakai sepedan motor untuk jarak tempuh yang pendek atau memakai pesawat tanpa harus menggunakan mantel untuk jarak yang panjang? Waallahu’alam.

 

 

Ditulis dalam perjalanan pulang ke Semarang dari Batam, pukul 10.50 WIB,

Batam, 29 September  2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: