Menuntun Hidup

hidup harus pintar ngegas dan ngeremMenuntun Hidup

Oleh Agung Kuswantoro

 

Emha Ainun Najib atau Cak Nun sangat piawai dan cerdas. Tidak harus sekolah yang tinggi, strata satu saja, tidak lulus. Namun, ilmu mengenai “hikmah” – menurut saya – sangat luar biasa sekali. Segala sesuatu yang ada di sekitar kita, menjadi sangat berharga, jika kita mengetahuinya.

 

Hidup itu indah. Hidup itu menjalan. Hidup itu harus disyukuri. Hidup itu, tidak ada yang susah. Hidup itu, tidak ada yang bersedih. Dan, hidup itu tak ada yang beban. Hidup itu, mengalir saja. Itu yang saya rasakan, setelah membaca buku ini. Buku yang berjudul Hidup Itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem, karya Cak Nun.

 

Buku ini sebenarnya belajar ilmu Sufi – mungkin istilah yang tepat – karena mempelajari hakikat kehidupan. Kajiannya dalam buku ini, sangat tinggi. Namun, kepiawaian Cak Nun dalam membuat perumpamaan atau analogi itu sangat mudah. Ia membuat perumpamaan yang ada disekitar kita. Saya yakin, orang awam mengetahui perupamaan-perumpamaan tersebut. Sederhana sekali, perumpamaannya. Didalam buku tersebut sangat banyak. Oleh karenanya, menurut Ahmad Najib selaku pengantar dan penerbit memberikan judul “Kabar Langit dengan Bahasa Bumi”. Jelaslah, maknanya langit sebagai simbol pesan dari Allah yang dimaknai oleh manusia. Dalam memaknai itulah dibutuhkan alat yaitu bahasa. Disinilah letak  bahasa Cak Nun yang sangat membumi. “Membumi” yang sangat menyentuh manusia dari golongan mana pun.

 

Awal membaca buku ini, saya kesulitan untuk memaknai. Kemudian, saya membaca ulang, Alhamdulillah, ternyata Cak Nun itu luar biasa. Mampu memberikan makna yang orang jarang mengetahuinya. Bahkan, ia menggunakan pendekatan ilmu Fiqih, Tajwid, Nahwu, Shorof, dan Tasawuf. Ilmu-ilmu itu yang saya belum pahami, menjadikan saya belajar dengan mudah. Mengapa mudah? Karena Cak Nun menuntun saya (sebagai pembaca) dengan bahasa bumi- uang relatif – bisa dicerna oleh orang awam seperti saya.

 

Awalnya, saya pernah belajar bahwa hidup itu seperti “ngegas” dan “ngerem”, setelah membaca buku ini, menjadikan saya “ngegasnya” tambah banter dan “ngerem-nya” tambah pakem. Mengapa demikian? Karena, kita tambah pandai. Sehingga, saya sepakat dengan judul dalam buku tersebut dengan kata “harus pintar”. Kalau tidak pintar, maka akan “nyasar”. Kalau tidak direm, maka akan nabrak. Dan, kalau tidak digas akan berhenti atau glundung. Lalu, bagaimana? Harus tetap jalan, tetapi pelan. Tetapi, dengan membaca buku ini, menjadikan kita cepat dan tepat.

 

Artinya, cepat itu tidak kebawa kepada perbuatan negatif. Dan, tepat itu sesuai dengan koridor agama Islam. Imbanglah, istilahnya. Awalnya, hidup saya banyak “ngeremnya”. Tetapi setelah membaca buku ini, ternyata ngerem, juga harus pandai. Sebaliknya, saat “ngegas” juga harus pandai pula, agar tidak nabrak.

 

Mari, kita lihat nasihat Cak Nun berikut:

Jangan memasuki suatu sistem yang membuat Anda melampiaskan diri. Tapi, dekat-dekatlah dengan sahabat yang membuat Anda mengendalikan diri. Karena, Islam itu mengendalikan, bukan melampiaskan. Hidup itu harus bisa ngegas dan ngerem”.

 

Sangat jelas nasihatnya. Itulah pesan yang ada dalam buku itu. Mari, kita jeli dan pandai dalam memerankan hidup. Saya yang merasa “kurang” ilmu, menjadikan buku ini sebagai acuan hidup. Terima kasih, Cak Nun, atas ilmu-ilmunya. Semoga, Bapak sehat selalu. Amin.

 

Semarang, 26 November 2017

Sisi Lain Arsip

Sisi Lain Arsip

Oleh Agung Kuswantoro

 

Bicara arsip, biasanya orang akan mencarinya, saat ia kehilangan akan arsip tersebut.  Bingung atas keberadaan arsip yang hilang. Dan, biasanya, ia mencari saat ada suatu kepentingan, bahkan kasus. Lihatlah, kasus di Negara kita, Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Itu dikategorikan sebagai Daftar Pencarian Arsip (DPA). Negara ini, “bingung” akan keberadaan arsip bersejarah tersebut, sehingga informasi yang ada dalam arsip tersebut menjadi kurang ampuh. “Keampuhan” isi dari Supersemar pun, tak sekuat waktu zaman saya Sekolah Dasar (SD), sekitar tahun 1990an.

 

Demikian juga, orang bicara arsip, kebanyakan pada sisi teknis. Apa itu teknis? Yaitu penataan. Jika kita perhatikan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, ada petunjuk mengenai arsip dinamis dan statis. Sangat jelas, bagaimana cara mengelolanya. Pengelolaan arsip dinamis meliputi dari penciptaan, penggunaan dan pemeliharaan, serta penyusutan arsip (Undang-Undang Nomor 43/ 2009 Pasal 1 ayat 25), sedangkan pengelolaan arsip statis meliputi akuisisi, (baca:pemindahan), pengelolaan preservasi, dan akses arsip statis (Undang-Undang Nomor 43/ 2009 Pasal 59 ayat 2).

 

Menurut saya, melihat arsip tidak cukup dari sisi penataan saja. Ada hal-hal yang menarik dari arsip itu. Apa itu? Misal, diorama, kilas balik (sejarah), pameran, buku kearsipan, dan telusur arsip. Selain itu berbicara arsip, juga tidak terlepas dari kebijakan, sarana dan prasarana, sumber daya manusia (arsiparis/penata arsip) dan keuangan.

 

Mari kita lihat satu-satu. Pertama, diaroma. Diorama adalah sejenis benda miniatur tiga dimensi untuk menggambarkan suatu pemandangan atau suatu adegan (www.wikipedia.com). Dalam perkembangannya–menurut saya– diaroma disajikan dalam bentuk video, sebagaimana yang sering kita lihat. Orang akan tertarik dan mengambil suatu “nilai” dari arsip tersebut (arsip yang disajikan dalam diaroma). Orang menjadi tahu melalui diaroma.

 

Kedua, sejarah atau kilas balik “perjalanan” suatu peristiwa. Sejarah berasal dari kata syajarotun, yang artinya pohon. Sejarah adalah rekaman perputaran masa dan pergantian kekuasaan yang terjadi pada masa lalu (Ibnu Khaldun dalam www.kanalinfo.web.id). Nah pertanyannya, bagaimana merangkai itu semua? Sumbernya dari mana? Jawabnya, jelas arsip. Ingat, arsip itu tidak hanya dari kertas saja.

 

Ketiga, pameran. Pameran adalah pertunjukan, hasil karya, seni, barang produksi dan lainnya (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Arsip pun layak kita dipamerkan. Di IPB, UI, dan UGM rutin menyelanggarakan pameran arsip. Masyarakat menjadi tahu mengenai arsip-arsip yang ada di lembaga tersebut.

 

Keempat, buku kearsipan. Arsip yang dipelajari dapat kita susun menjadi sebuah buku, seperti buku-buku sejarah. Demikian juga pengalaman dalam mengelola atau menata arsip dapat kita tulis menjadi sebuah buku. Seperti arsiparis UGM yang sangat sukses dengan dunia kearsipan yaitu Muscliihah. Ia menuliskan buku tentang pengalaman kearsipannya, bukunya berjudul Bunga Rampai Kearsipan. Demikian juga, Profesor Nandang. Ia adalah pakar hukum bidang kearsipan. Beberapa produk hukum tentang kearsipan, ia kaji, hingga menghasilkan buku.

 

Kelima, telusur arsip. Telusur arsip merupakan kegiatan untuk mengetahui informasi yang terkandung dalam suatu arsip. Misal, menelusuri sejarah IKIP Semarang. Bagaimana asal mulanya? Siapa rektor pertamanya? Letak pertama kali, ada dimana? Dan, pertanyaan lainnya. Otomatis, nanti kita akan ada tokoh yang ada di balik arsip tersebut. Kita akan melakukan pendekatan berupa wawancara. Tujuannya, agar mendapatkan informasi yang utuh dan rinci. Itulah telusur.

 

Kelima hal tersebut terlihat dari sisi arsip. Namun, saat berbicara sisi arsip tersebut, maka tidak bisa lepas komponen-komponen yang ada dalam kearsipan. Apa saja itu? Komponen tersebut adalah kebijakan dan sumber daya seperti SDM (arsiparis), sarana dan prasarana (mobile file, filing cabinet, map, dan box), serta keuangan (program kearsipan). Berikut contoh abstrak hasil penelitian.

 

Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui kebijakan penyelenggaran kearsipan Fakultas Ekonomi UNNES, (2) Untuk mengetahui pembinaan kearsipan Fakultas Ekonomi UNNES, dan (3) Untuk mengetahui sumber daya kearsipan Fakultas Ekonomi UNNES. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Subjek  penelitan  ini adalah arsiparis atau penata dokumen, tata usaha, dan Wakil Dekan bidang Administrasi Umum. Kebijakan kearsipan di FE UNNES sudah ada yaitu SK Dekan FE UNNES Nomor 84/TU/2015 tentang Tata Naskah Dinas di Lingkungan FE UNNES dan SK Dekan FE UNNES Nomor 83/TU/2015 tentang Pedoman Pola Klasifikasi kearsipan di Lingkungan FE UNNES. Pembinaan kearsipan FE UNNES dilakukan dengan cara pelatihan dan bimbingan teknis yang dilakukan oleh Fakultas, Universitas, dan lembaga diklat. Sarana dan prasarana kearsipan FE UNNES berupa record center atau depo arsip yang menyimpan arsip-arsip Fakultas. Fasilitas record center meliputi mobile file, box arsip, map, dan odner. Anggaran kearsipan dilakukan dengan mengajukan proposal kegiatan berupa pelatihan dan workshop kearsipan yang ditujukan kepada Wakil Dekan bidang Administrasi Umum. Selain untuk anggaran pelatihan dan workshop juga, ada anggaran untuk fasilitas kearsipan. Saran dalam penelitian ini adalah (1) Penata arsip lebih intensif dalam melakukan pekerjaan kearsipan di record center. Penata arsip lebih fokus dalam mengelola kearsipan dibanding dengan mengelola administrasi lainnya, (2) Perlu ada standar jam kerja bagi penata arsip di record center, agar arsip-arsip yang di record center dapat dikelola lebih baik lagi, (3) Pimpinan perlu mengevaluasi secara periodik kearsipan, mulai dari arsip yang disimpan oleh subunit dan jurusan, sehingga keberlangsungan (keberadaan) arsip dapat dikontrol.

 

 

 

Itulah hasil penelitian yang saya lakukan. Dari tulisan diatas, dapat disimpulkan bahwa

  1. Berbicara arsip tak semata-mata pada ranah teknis, tetapi ada sisi lain, yaitu diaroma, sejarah, pameran, buku, dan telusur arsip. Namun, sisi lain arsip dapat ditampilkan, jika pengelolaan arsipnya baik.
  2. Dalam pengelolaan kearsipan dibutuhkan kebijakan dan sumber daya. Sumber daya meliputi arsiparis, sarana dan prasarana dan pendanaan.

Itu saja, semoga bermanfaat tulisan ini.

 

 

Agung Kuswantoro,  Dosen Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang

 

Materi disampaikan di workshop kearsipan Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi UNNES, Semarang, 23 November 2017

 

Daftar Pustaka

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2017. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

 

Kuswantoro, A dan Pramusinto, H. 2017. Penyelenggaraan Kearsipan Fakultas Ekonomi Unnes (Ditinjau Dari Kebijakan Kearsipan, Pembinaan Kearsipan,  dan Sumber Daya Kearsipan). Hasil Penelitian.

 

Ibnu Khaldun dalam www.kanalinfo.web.id

ww.wikipedia.com

Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan

Sarana Menuju Ke Surga (3)

Sarana Menuju Ke Surga (3)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Setelah Nabi Muhammad SAW bertanya mengenai amalan yang bisa menyebabkan masuk surga dan terhindar dari api neraka. Kemudian, Nabi Muhammad menanyakan kepada Mu’adz yaitu “Maukah, Engkau (Mu’adz), beritahu tentang pintu-pintu surga?” Mu’adz menjawab: “Ya, Rasul mengatakan: “Pintu-pintu surga itu adalah (1) puasa, (2) sedekah, dan (3) sholatul lail. Rosul menjelaskan, bahwa puasa adalah benteng, sedekah itu akan menghapus (mematikan) kesalahan, sebagaimana air mematikan api. Saat Nabi Muhammad SAW mengatakan sholatul lail, kemudian Nabi Muhammad membaca ayat yang ada di surat Assajadah (tataja fa junubuhum ‘anil madho ji’i).

 

Hal ini menunjukkan ada kaitan sholatul lail dengan ayat tersebut. Menurut saya, hadist ini banyak menunjukkan “gerak-gerik” Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikannya. Nabi Muhammad SAW sangat aktif berkomunikasi dengan Mu’adz, bahkan gesture (gerakan) Nabi Muhammad sangat terlihat dalam percakapan dengan Mu’adz, sebagaimana tadi, yaitu Nabi Muhammad SAW langsung membaca ayat tataja fa junubuhum ‘anil madhoji’i dan seterusnya. Nabi Muhammad SWA menuntun kepada seseorang untuk beramal menuju surga. Adapun amalan tersebut yaitu (1) menyembah Allah dan tidak menyekutukannya, (2) mendirikan sholat, (3) membayar zakat, (4) puasa di bulan Ramadhan, dan (5) naik haji, jika mampu.

 

Lalu, hadist ini memaparkan tentang pintu surga. Adapun pintu-pintu surga yaitu puasa, sedekah, dan sholat malam. Setelah menjelaskan pintu-pintu surga, Nabi Muhammad SAW menjelaskan tentang pokok perkara, tiang, dan puncaknya. Nabi Muhammad SAW menjawabnya, Islam, sholat, dan jihad. Setelah itu, perbuatan yang bisa mengantarkan ketiga perkara adalah menjaga lisan. Bisa dikatakan inti dari hadist ini adalah menjaga lisan.

 

Sisi lain dari hadist ini yaitu Nabi Muhammad SAW sangat dekat dengan Mu’adz hingga bertanya berkali-kali. Hadis ini tidak semata-mata diucapkan dengan lisan, tetapi juga perbuatan. Buktinya saat mengatakan “jagalah ini”. Nabi Muhammad SAW mengarahkan jarinya ke mulutnya. Sehingga Mu’adz pun menjadi paham akan yang dimaksudkannya. Selesai.

 

 

 

Semarang, 20 November 2017

 

 

Sarana Menuju Ke Surga (2)

Sarana Menuju Ke Surga (2)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Setelah Nabi Muhammad SAW menyampaikan tentang pintu-pintu surga, kemudian Nabi Muhammad SAW bertanya kepada Mu’adz, “Hai Mu’adz, maukah saya tunjukkan pokok dari segala perkara, tiang, dan puncaknya?” Nabi Muhammad SAW melanjutkan dengan jawabannya, yaitu “pokok sebuah perkara adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad”.

 

Perbincangan antara Mu’adz dan Nabi Muhammad pun belum selesai. Kemudian, Nabi Muhammad SAW berkata kepada Mua’adz “Maukah saya beritahu sesuatu yang jika kalian laksanakan akan dapat memiliki semuanya?” Maksud dari memiliki semua itu yaitu Islam, sholat, dan jihad. Nabi Muhammad SAW langsung memegang lisannya. Lalu, mengatakan “Jagalah ini dari perkataan kotor/buruk”.

 

Jawaban Nabi Muhammad SAW menegaskan, bahwa pentingnya menjaga lisan, menjaga lisan dapat mengantarkan kepada perbuatan baik. Sebaliknya, akibat dari tidak menjaga lisan menyebabkan seseorang dapat terjungkal wajahnya di neraka di atas hidungnya.

 

Jika saya runtutkan dari hadist yang kemarin kita bicarakan, bahwa hadist ini maknanya, bisa dikatakan, Nabi Muhammad SAW memberikan dalil mengenai sholatul lail. Hadist ini belum selesai, masih ada lanjutannya. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 19 November 2017

Akhir Cerita Pemilik Kebun

Akhir Cerita Pemilik Kebun

Oleh Agung Kuswantoro

 

Pembahasan kita telah masuk pada tahap akhir dari kisah pemilik kebun yang dikisahkan dalam surat Alkahfi. Akhirnya, Allah menghancurkan kebun milik orang kafir yang sombong, dengan mendatangkan hujan lebat disertai petir. Hujan dan petir memporak-porandakan kebun milik orang Kafir. Air hujan surut dan membanjiri kebunnya. Pohon-pohon yang ada di kebun tersebut pun tersambar petir. Kurang lebih gambarannya seperti itu.

 

Kalimat yang diucapkan oleh pemilik kebun tersebut yaitu “Aduh, sekiranya dulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan seorang pun”. Jika kita perhatikan, kalimat tersebut adalah bentuk penyesalan orang kafir atas tindakannya yang melupakan Allah. Ia lebih memilih kekayaan dan “perhiasan” dunia dibanding dengan beribadah kepada Allah. Ia lupa akan karunia Allah. Ia tergoda oleh kenikmatan dunia. Namun, penyesalan itu sudah tidak ada artinya. Karena Allah sudah memberikan azab padanya.

 

Allah tidak bisa menolongnya. Dan tidak ada seorang atau makhluk satupun yang bisa menolongnya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Alkahfi ayat 43 yaitu, “Dan tidak ada bagi dia segolong pun yang akan menolongnya selain Allah, dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.

 

Ayat di atas menunjukkan ketegasan Allah terhadap sikap orang kafir (baca: pemilik kebun) yang telah lalai akan perintah Allah di dunia. Bahkan, menghina pemilik kebun orang muslim. Inti dari pembahasan tentang kebun adalah (1) manusia harus bersyukur terhadap nikmat Allah, (2) jangan lalai terhadap nikmat Allah, (3) peringatan (baca: azab) Allah pasti akan datang bagi hamba yang lalai akan nikmat Allah, (4) hanya Allah-lah penolong yang paling hak, bukan manusia. Penolong dalam keadaan apapun.

 

Semoga pembelajaran mengenai pemilik kebun bisa kita ambil hikmahnya. Dan, semoga kita bukan termasuk bagian dari kisah pemilik kebun orang kafir. Amin

 

 

Semarang, 17 November 2017

Sisi Lain Nabi Muhammad SAW

 

Sisi Lain Nabi Muhammad SAW

Oleh Agung Kuswantoro

 

Berbicara sosok Nabi Muhammad SAW, pada akhirnya kita akan kagum akan kepribadiannya. Dalam kitab atau buku, baik dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris mengkaji tentang Nabi Muhammad SAW dengan detail tentang kesolehan dan akhlaknya. Sebagai umatnya, kita wajib mengimaninya. Mengimaninya sebagai bentuk rukun iman kepada Rosulnya. Ini merupakan rukun iman yang ke-4. Lalu adakah sisi lain dari Nabi Muhammad SAW sebagai manusia?

 

Dari beberapa referensi buku yang saya baca, ada beberapa sisi lain mengenai Nabi Muhammad SAW. Pertama, Nabi Muhammad SAW waktu lahir dalam keadaan yatim. Nama ayahnya bernama Abdullah, sedangkan ibunya Aminah. Abdullah meninggalkan Nabi Muhammad SAW (anaknya) saat ia dalam kandungan. Abdullah meninggal saat pulang dari negeri Syam. Setelah membawa barang dagangan, kemudian saat pulang, Abdullah sakit dan dimakamkan di desa sekitar Madinah. Usia Abdullah waktu itu adalah 24 tahun.

 

Kemudian, Nabi Muhammad SAW lahir. Pada hari Senin 12 Robiul Awal tahun Gajah. Saat Nabi Muhammad SAW lahir dalam keadaan sudah dikhitan, sebagaimana hadist yang diriwayatkan Aisyah yaitu Rasulullah bersabda, “Termasuk dari kemuliaanku adalah aku dilahirkan dalam keadaan telah dikhitan dan tidak ada seorang pun melihat aurotku”. Hadist ini, sangat jelas, bahwa Nabi Muhammad SAW lahir sudah dalam keadaan dikhitan.

 

Kedua, menikah. Nabi Muhammad SAW itu menikah, layaknya manusia pada umumnya. Istri pertamanya adalah Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu ‘Anha. Khadijah, dalam tarih (sejarah), bahwa Khadijah sebelum menikah dengan Nabi Muhammad SAW pernah menikah dengan Abu Halah dan Atiq. Saat menikah dengan Abu halah dikaruniai dua anak, bernama Hindun dan Halah. Kemudian, saat menikah dengan Atiq, dikaruniai seorang anak bernama Hindun pula.

 

Adapun Putra-Putri Nabi Muhammad SAW bernama Qosim, Zainab, Ruqoyyah, Umi Kulsum, dan Fatimah, sebagaimana dalam Nadhom dalam Kitab ‘Aqidatun ‘Awam

 

Kelima putra-putri tersebut dilahirkan di Mekkah sebelum menjadi Nabi. Sedangkan putra yang dilahirkan setelah menjadi Nabi adalah Abdullah. Dan, ibu yang melahirkan mereka adalah Khodijah. Yang pertama kali meninggal dunia diantara putra-putri Nabi Muhammad SAW adalah Alqosim dan Abdullah.

 

Ketiga, sedih ditinggalkan (baca:wafat) Khadijah. Nabi Muhammad SAW sangat berduka dengan wafat Khodijah. Karena, pada tahun yang sama Nabi Muhammad SAW sedang ada permasalahan situasi yang tidak mendukung yaitu pembekotan. Bahkan, di tahun yang sama, Abu Tholib pun meninggal dunia, dalam tarih disebutkan 2 bulan setelah Khodijah meninggal, Abu Tholib pun meninggalkan Nabi Muhammad SAW.

 

Ketiga peristiwa ini, mari kita kaji dari sisi kemanusiaan seorang Muhammad SAW. Point pertama yaitu Nabi Muhammad SAW seorang manusia “murni”. Ia bukan “dewa” atau “titisan dewa”. Ia bukan orang yang “sakti”. Bahkan, posisi kelahirannya sudah dalam keadaan yatim. Umumnya manusia lahir, lengkap dengan orang tua dan orang tuanya menyambut kelahiran anaknya dengan bahagia. Tetapi, Nabi Muhammad SAW, justru seorang yatim. Namun, keadaan yang demikian, tidak membuat Nabi Muhammad SAW “hati”nya menjadi kecil. Terbukti Nabi Muhammad SAW, bisa menjadi seorang pemimpin dan Rasul. Orang yang lahir dengan kedua orang tua  (Bapak-Ibu) saja, belum tentu bisa sukses. Maknanya, dalam diri Nabi Muhammad SAW penuh dengan perjuangan.

 

Mau bicara warisan? Jelas, tidak ada, karena ia lahir sudah yatim. Mau bicara jabatan? jelas tidak ada, karena saat lahir kedua orang tuanya sudah meninggal. Lalu, apa yang ia dapat? Yang ia dapat adalah diri dan Allah untuk selalu optimis dalam menjalani kehidupan.

 

Ia menjadi pemimpin karena ditunjuk oleh Allah dan dibesarkan oleh lingkungan. Saat berumur 7 tahun, sudah belajar menggembala kambing atau angon. Saat masih muda, sudah belajar berwirausaha. Saat usia 25 tahun sudah menikah dengan mahar dari uangnya sendiri. Menarik hidupnya. Tidak ada catatan “harta turun dari langit”. Semua proses dilalui dengan usaha dan tawakal.

 

Point kedua, adalah Nabi Muhammad SAW manusia yang juga menikah. Naluri seksualnya ada. Jangan berpikiran Nabi Muhammad SAW itu seperti Malaikat. Tidak! Nabi Muhammad SAW punya nafsu, sebagaimana manusia lainnya. Nabi Muhammad SAW pun bisa sakit. Bahkan, Nabi Muhammad SAW memiliki putra putri (anak). Maknanya, ada perkawinan dengan perempuan. Ada naluri seksual. Wajar sebagaimana manusia lainnya, sebagaimana dalam Nadhom dalam kitab ‘Aqidaul ‘Awam berikut:

 

Point ketiga, adalah Nabi Muhammad SAW merasakan sedih, sama halnya manusia lainnya. Wajarnya, manusia jika ditinggalkan oleh orang yang tercinta, yaitu istri (Khadijah) dan Pamannya (Abu Tholib) meninggal dunia, Nabi Muhammad SAW pun berduka, sehingga tahun tersebut diberi nama Yaumul Khazan atau hari berduka.

 

Melihat keadaan seperti itu, Allah pun tak tega, melihat hambanya larut dalam bersedih, sehingga di tahun tersebut ada peristiwa Isro’ Mi’roj, yang juga sarana menghibur Nabi  Muhammad SAW dengan terbang menembus batas, sekaligus menerima wahyu berupa sholat.

 

Ada beberapa catatan dari ketiga point tersebut, sosok Nabi Muhammad SAW, yaitu berjuang, ulet, sabar, dan tidak balas dendam. Karakter it muncul pada diri beliau. Dapat dilihat darimana karakter itu?

 

 

Pertama, karakter tidak balas dendam. Ternyata Nabi Muhammad SAW pun pernah luka, hingga berdarah. Bahkan giginya pun lepas. Sakit? Pasti! Namun, Nabi Muhammad SAW tidak dendam dengan suku Quraisy. Malah berdoa, semoga keturunannya bisa menjadi hamba yang beriman.

 

Kedua, karakter “guyup” atau kebersamaan. Terlihat saat “sayembara” membawa Hajar Aswad. Yang menang adalah Nabi Muhammad SAW, karena Ia datang paling awal ke masjid untuk Sholat. Berarti dialah yang berhak membawanya, namun ada empat qabilah yang membawa dan mengangkut Hajar Aswad. Justru Nabi Muhammad SAW melepaskan sorbannya untuk membawa Hajar Aswad, lalu pemuka suku (qabilah) yang lainnya ikut membawa hajar aswad di ujung sorbannya.

 

Ketiga, karakter “sabar’. Tampak saat Nabi Muhammad SAW tidak membalas air ludah yang ia terima saat akan sholat. Ia selalu menerima air ludah saat akan ke masjid, hingga ia meninggal dunia. Jadi, peristiwa itu berlangsung lama. Ia sama sekali tidak membalas perlakuan orang meludahi tersebut.

 

Dari pembicaraan di atas, intinya ada dua garis besar yaitu :

  • Nabi Muhammad SAW sama halnya manusia biasa. Ia merasakan sedih, senang, sakit, dan sehat. Nafsu seksualitas pun beliau tetap ada.
  • Yang membedakan antara manusia lainnya, dengan sosok Nabi Muhammad SAW adalah akhlaknya, contoh teladan akhlak terbaik untuk level manusia adalah Nabi Muhammad SAW. Pilihlah contoh yang paling tepat untuk teladan kehidupan, yaitu Nabi Muhammad SAW. Jangan sampai keliru. Karena “tokoh” manusia yang selama ini kita kagumi, belum tentu memiliki akhlak, sebagaimana Nabi Muhammad SAW. Waallahu’alam.

 

Semarang, 16 November 2017

 

 

Ingin Buat Diaroma UNNES

Ingin Buat Diaroma UNNES

Oleh Agung Kuswantoro

 

Diaroma adalah sejenis benda miniatur tiga dimensi untuk menggambarkan suatu pemandangan atau adegan (Wikipedia). Misalnya, diaroma dalam Monumen Jojga Kembali, yang menggambarkan suasana gedung agung (Istana Kepresidenan RI tahun 1959).

 

Itulah pesan yang saya tangkap selama workshop SIKD, kunjungan di arsip UGM dan museum Soeharto di desa Kemusuk, Yogyakarta. Acara ini diselenggarakan ole ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). Selama acara tersebut, dalam hati, saya bertanya pada diri sendiri. Adapun pertanyaannya, “Apakah kita bisa membuat diaroma UNNES? Dimana, metamorfosis UNNES  sangat panjang, dimulai sejak tahun 1965?

 

Itulah, tantangan saya dan teman-teman UPT Kearsipan. Membuat diorama, bahannya harus kuat dulu dan mendiskripsikan sebuah arsip harus valid. Berarti, arsipnya harus ada dulu. Diaroma tidak bisa ada, kalau arsipnya hilang.

 

Saatnya, untuk mengumpulkan arsip-arsip statis UNNES untuk menyusun diaroma UNNES. Menarik menurut saya. Meruntut dan membuat sejarah perjalanan UNNES. Menantang? Pasti. Namun itulah salah satu tugas UPT Kearsipan UNNES.

 

Yogyakarta, 10 November 2017

 

 

 

 

Previous Older Entries