Judul Sederhana, Isi Berbobot

Judul Sederhana, Isi Berbobot

Oleh Agung Kuswantoro

 

Saya sejak SD (tahun 1995) gemar sekali membaca buku M. Quraish Shihab. Termasuk ceramahnya. Beberapa buku sudah saya baca, pahami, dan amalkan.

 

Menurut saya, buku yang ditulisnya begitu mendalam. Gayanya khas sekali. Alhamdulillah, saya sudah mendapatkan intinya dari beberapa buku yang saya baca. Dimana untuk memahaminya harus membaca semuanya. Tidak cukup, hanya membaca bab 2 saja atau sesuai kebutuhan. Jika kita melakukan itu, kita akan kesulitan untuk memahami secara utuh. Karena, kata pengantarnya saja sangat berbobot. Kata pengantarnya, berisi dan bergizi.

 

Masalah-masalah keseharian di lingkungan bisa diangkat menjadi buku, seperti pernikahan, perempuan, jilbab, curhat, kumpulan pertanyaan, kultum, dan tema lainnya. Namun cara pengemasannya “kuat” sekali. Unsur filosofinya terbentuk. Mulai dari ontologi, aksiologi, dan epistemologinya.

 

Taruhlah, kita akan belajar (baca buku) tentang “Yang Hilang Dari Akhlak” karyanya. Tidak langsung belajar memahami contoh-contoh akhlak. Namun kita diantarkan pada “nilai”, hukum akhlak, ilmu filosofis ilmu akhlak, beberapa pandangan filosofis ilmu akhlak (Plato, Socrates, dan pakar lainnya). Setelah itu, diantar belajar tentang baik dan buruk, islam dan akhlak, dan intinya yaitu contoh sopan santun. Sopan santun mulai dari ibu-bapak, suami-istri, murid – guru, beberapa pendapat, menghadiri majlis ilmu, sahabat, tetangga, tamu, musuh, buruh, pelajar, hingga sopan satun dalam makan, minum, berbicara, dan berada di toilet.

 

Yang tak kalah pentingnya adalah dipelajari sopan-santun dalam berperang. Berperang saja harus ada sopan-santunnya. Itulah beberapa “jurus” pakar tafsir Indonesia ternama, M. Quraish Shihab dalam menuliskan sebuah buku.

 

Kesan saya adalah judul sederhana, tapi isi berbobot. Buku yang sedang saya “cemil” saat ini (belum khatam) dibaca, begitu terasa dihati. Judul “populer”, isi “ilmiah”. Khasnya penulis  begitu kuat. Keilmuannya, begitu terasa. Dan, filosofi atas masalah yang dibawakannya begitu kuat. Jarang ada penulis seperti itu.

 

Paradigma berpikirnya deduktif. Pola umum-khusus begitu terasa. Teori, dalil, dan kaidah, serta proposisi ada dibagian awal. Sitasinya bersumber dari kitab rujukan utama. Babon, istilahnya. Hal ini, jelas tidak mudah untuk mendapatkan dan mempelajarinya. Inilah, kelebihan penulis yang sangat santun itu, M. Quraish Shihab.

 

Misal lagi, membahas tentang jilbab pada latar belakangnya dipaparkan mengenai pandangan para pakar terdahulu hingga sekarang mengenai jilbab. Kemudian dalil-dalilnya. Setelah itu, pembaca diberi pilihan untuk mengambil sikap atas pemikiran-pemikirannnya. Jadi, tidak ada pemaksaan untuk wajib mengikuti alirannya. Mengapa? Dia memaparkan semua pendapat para ahli. Ada, dalilnya. Pembaca pun diajak “dewasa” dalam bersikap. Tidak asal baca saja. Inilah gayanya, dia dalam menjelaskannya.

 

Pesan-pesan keluarga untuk anak-anaknya tentang pernikahan dibingkai dengan buku “Pengantin Alqur’an: Kalung Permata Buat Anak-anakku”. Buku ini sederhana, namun secara isi sama dengan diatas. Filosofi kita mendapatkannya ilmu, jelas pasti dapat. Dan, yang terpenting adalah tidak menggurui. Maknanya, kita diberi kesempatan untuk berpikir dan mengambil tindakan atas apa yang telah dibaca.

 

Itu saja, ulasan saya di tengah asyik membaca buku “Yang Hilang Dari Kita Akhlak”. Semoga bermanfaat.  Sekali lagi, saya sangat salut dan kagum dengan bapak. Semoga Bapak sehat selalu agar bisa berbagi ilmu dengan sesama. Amin.

 

Semarang, 13 Januari 2018

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: