Mencari Media Pembelajaran Administrasi Perkantoran

Mencari Media Pembelajaran Administrasi Perkantoran

Oleh Agung Kuswantoro

 

Berselancar di internet bersama satu kelas prodi Administrasi Perkantoran yang saya ampu dalam mata kuliah pengembangan media pembelajaran. Logika mata kuliah ini yaitu mengembangkan/menghasilkan media yang telah ada. Lalu, pertanyaan yang muncul, media apa saja yang ada dalam prodi administrasi perkantoran?

 

Pertanyaan itu pula, saya lontarkan kepada mahasiswa. Mereka terdiam. Ada yang menjawab mesin ketik, komputer, alat scan, penghancur kertas, dan alat pengganda, LCD, dan alat-alat perkantoran lainnya.

 

Menurut saya, jawaban atas mereka tidaklah salah. Namun, bagaimana yang mengembangkannya? Atau, siapa yang mengembangkannya? Misal, komputer siapa yang mengembangkan? Lalu, bagaimana pengembangannya? Mesin fotocopy, siapa yang mengembangkan dan bagaimana pengembangannya? Dan, pertanyaan yang serupa dengan alat perkantoran yang berbeda?

 

Apakah yang mengembangkan itu SAMSUNG, DELL, SONY, dan perusahaan teknologi perkantoran itu? lalu, bagaimana peran Anda dan saya sebagai pendidik, dimana akan menyampaikan “pesan” melalui media?

 

Mereka sempat diam dengan pertanyaan saya di atas. Lalu, saya mencoba buka google, mengetik media pembelajaran biologi. Munculnya alat-alat organ, peraga manusia, dan aneka media tentang hewan, dan lainnya. Saya buka google, mengetik media pembelajaran geografi. Munculnya, globe, peta, gambar gunung meletus, skema siklus air, dan lainnya. Saya mencoba buka lagi di google, mengetik media pembelajaran matematika. Munculnya alat peraga segitiga, bola, dan bangun ruang lainnya.

 

Saking penasaran, saya mencoba buka media pembelajaran administrasi perkantoran, yang keluar dari google, sama sekali tidak ada. Kebanyakan justru gambar naskah. Itu pertanda, belum ada yang mempopulerkan media administrasi perkantoran.

 

Dengan begitu, berarti jelas, bahwa masih minimnya media pembelajaran di prodi kita. Apakah Anda tahu selama 3 tahun ini dikenalkan media pembelajaran atau sosok yang sangat membawa perhatian Anda dalam menyampaikan materi dengan menggunakan media? Ada Pak, yaitu media freezi.

 

Ohya, betul. Jawab saya. Itulah pengembangan media. Bagus itu. pasti itu menariknya. Nah, seperti itulah yang dimaksudkan pengembangan media pembelajaran. Dari powerpoint ke freezi. Yang powerpoint saja, itu betul-betul powerpoint yang bagus itu, juga jarang. Poin sebagai power. Bukan, power word. Memindahkan word ke power point.

 

 

Mengenalkan media administrasi perkantoran. Anda tahu gudman pada mengetik? Anda tahu audio pada stenografi? Dan, Anda tahu e arsip pembelajaran? Jika belum, mari kita kenali satu-satu.

 

Media gudman. Kita cari saja di google. Google mengarahkan ke journal Lembar Ilmu Pendidikan (LIK). Media audio stenografi, google mengarahkan ke journal Dinamika Pendidikan. Dan e arsip pembelajaran, google mengarahkan pada jurnal Efisiensi.

 

Jelas media-media di atas adalah media yang ada di administrasi perkantoran. Mohon Anda, download artikel-artikel tersebut di jurnal yang sudah saya sebutkan dengan kata kunci sebagaimana di atas.

 

 

Pesan yang Utama

Pesan adalah materi yang akan disampaikan. Media itu alat untuk menyampaikan pesan. Perhatikan kalimat berikut ini. Saya ke kampus untuk mengajar dengan menggunakan mobil sedan Mercedes Benz. Pesannya adalah saya pergi ke kampus untuk mengajar. Medianya mobil sedan Mercedes Benz. Bisa, tidak medianya diganti? Bisa! Dengan apa? Dengan motor atau jalan kaki.

 

Jadi, intinya yang utama. Pesan itulah intinya. Pesan itulah yang utama. Bukan medianya yang dibesar-besarkan. Tetapi, pesannya tidak tersampaikan.

 

Jika Anda perhatikan dari media gudmen pada mengetik, media audio pada stenografi dan e arsip pembelajaran pada kearsipan. Jelas sekali, pesan yang disampaikan, bukan medianya. Media sebagai alat saja. Bukan tujuan utama, tetapi tujuan akan mudah digapai, jika ada media yang memadai. Oleh karenanya, penekanannya, pahami pesannya dahulu, lalu cari yang tepat medianya. Bukan medianya dicari-cari dulu, tetapi pesannya tidak paham.

 

Bagaimana memahami pesan? Pesan adalah ilmunya. Pelajari ilmunya yang dalam, seperti mengetik, kearsipan, dan stenografi. Kuasai betul teori-teorinya, maka akan muncul proses bisnisnya. Seperti media gudmen itu ada proses bisnisnya. Media audio, jelas ada prosedur penggunannya. Dan e arsip prosedur penggunannya. Dan, e arsip pembelajaran, jelas ada kaidahnya.

 

Jangan lupa, lakukan validitas dan reliabilitas atas alat tersebut. saya yakin ada pakarnya. Jika Anda berhasil melakukan itu, pasti muncul media pembelajaran. Ciptakan saja. Mari berkreasi!

 

 

Semarang, 20 Maret 2018

 

 

 

 

 

Mencari Sosok Pakar Media Pembelajaran

Mencari Sosok Pakar Media Pembelajaran

Oleh Agung Kuswantoro

 

Selama 9 tahun saya mengajar di UNNES, tepatnya prodi pendidikan administrasi perkantoran, jurusan pendidikan ekonomi UNNES. Alhamdulillah sudah menghasilkan 12 buku dari mata kuliah yang saya ampu. Pada semester ini (genap 2017/2018), saya diberi mandat untuk menyampaikan mata kuliah Pengembangan Media Pembelajaran.

 

Pertama kali mendapatkan SK mengajar mata kuliah ini, terasa “shock”, karena bingung apa yang akan saya sampaikan. Berkaca pada dosen senior, bahwa inti mata kuliah ini adalah mahasiswa mampu membuat media pembelajaran sesuai dengan kompetensinya. Kemudian, saya memahami Rencana Pembelajaran Semester (RPS), ternyata referensi dari media pembelajaran sangat minim.

 

Penasaran saya terkait referensi yang minim. Saya membuka google scholar, muncullah Azhar Arsyad. Sosok ini, saya kenal sejak mahasiswa (2002-2006). Kebetulan, skripsi saya berkaitan dengan pembuatan media pembelajaran stenografi, yaitu pembelajaran stenografi dengan media audio.

 

Sitasi buku tersebut sangat tinggi, yaitu 9572 (scholar per 19 Maret 2018). Lalu, saya mencoba membuka sosok Azhar Arsyad. Ia adalah dosen di Universitas Islam Alauddin Makassar. Selain, karyanya berupa buku media pendidikan. Ia pun pernah menulis bahasa Arab dan metode pengajarannya dan buku Pokok-Pokok Manajemen: Pengetahuan praktis bagi pimpinan dan eksekutif. Melihat profilnya, ia memang konsen dibidang pendidikan. Namun, pada konteks media, saya belum mendapatkan “greget”nya. Ia adalah guru besar ilmu manajemen dan pendidikan bahasa Arab.

 

Penelusuran saya pun masih berlanjut. Kemudian, saya bertemu dengan Adi Nurcahyono. Dosen UNNES berasal dari FMIPA. Ia masih muda. Ia pernah memberikan materi media pembelajaran saat PEKERTI. Saya tertarik dengan “media” yang ia terapkan di kelas. Khususnya media berbasis teknologi informasi. Ia konsen pada media pembelajaran  matematika. Hal yang menarik dari Adi Nur Cahyono yaitu penggunaan media pembelajaran berbasis IT. Ia mampu memperagakan pertanyaan-pertanyaan secara online, dimana dapat dijawab melalui HP android. Selain itu, ia menunjukkan e learning yang ia bangun sendiri dengan kapasitas tertentu.

 

Kemudian, saya juga bertemu dengan Romi Satrio Wahono. Dosen Ilmu Komputer UDINUS. Bagus sekali artikel-artikelnya. Saya membaca pengalaman-pengalamannya di websitenya. Menunjukkan ia tokoh media pembelajaran. Ia pun sering menjadi juri dalam lomba media pembelajaran.

 

Sesuatu yang menarik perhatian saya, yaitu ia mampu menjelaskan aspek dan kriteria penilaian media pembelajaran, meliputi aspek rekayasa perangkat lunak, desain pembelajaran, dan komunikasi visual. Dari masing-masing aspek tersebut terdapat beberapa indikator yang harus dipahami oleh pembuat media pembelajaran.

 

Trend pembelajaran sekarang berbasis media sosial. Ada peneliti dari Madrid membuat desain pembelajaran berbasis media sosial. Ia meneliti social media learning. Analisisnya bagus sekali. Silakan bisa dibaca dengan kata kunci di google social media. Learning: an approach for composition of multimedia interactive object in a collaborative learning environment. Penelitinya bernama Ivan Claris dan Ruth Cobos dari Universitad Autonoma de Madric, Spanyol.

 

Nah, sekarang bagaimana dengan pendidikan administrasi perkantoran? Oh, jadi ingat saya pun pernah membuat penelitian terkait dengan media pembelajaran pada mengetik manual yaitu gudman. Pernah dimuat di jurnal Lembar Ilmu Pendidikan. Saya pun mengembangkan media pembelajaran e arsip pembelajaran untuk mata kuliah/mata pelajaran kearsipan. Selain itu, juga media audio pada mata kuliah stenografi dan pernah dipublikasikan di Jurnal Dinamika Pendidikan. Mari kita kembangkan diri. Ciptakan media pembelajaran berbasis Administrasi Perkantoran. Agar kita semakin cinta pada prodi kita.

 

 

Semarang, 19 Maret 2018

 

 

Air, Angin, Dan Hujan

Air, Angin, Dan Hujan

Oleh Agung Kuswantoro

 

Akhir-akhir ini cuaca kita sering hujan. Padahal, sudah memasuki bulan Maret. Konon, dulu saat bulan yang berakhiran “ber” itu pertanda musim hujan. Tetapi sekarang, tidak. Sebagai orang muslim, apa pun keadaannya tetap bersyukur diiberi musim panas dan hujan. Jangan mudah terbawa oleh keadaan. Karena, berakibat pada hati tidak tenang, mulut mudah mengumpat dan bertindak tanpa ada dasar. Emosi.

 

Jangan sampai ketika hujan, mulut mengatakan “Aduh udan, daganganku ora payu, “Petaka hujan, meriyang iki awak”. “Walah, hujan, sepi iki toko.” Dan, kalimat yang serupa lainnya. Itu semua, pertanda belum bersyukur atas nikmat Allah. Kita masih menutupi nikmat Allah. Bahasa Alquran itu kafir. Kafir itu tertutup imannya. Sudah tidak zamannya, sekarang mencari orang kafir. Karena orang kafir sudah mati. Tetapi, yang perlu kita waspadai adalah warisan sifatnya yaitu tertutup atas iman kepada Allah.

 

Kafir itu tertutup imannya. Ucapan di atas sebagai contohnya. Bukan saya mengatakan dia kafir, tetapi sifatnya telah menutupi keimanannya. Lalu, bagaimana? Rubah menjadi kalimat positif yaitu Alhamdulillah hujan. Tanaman menjadi subur. Alhamdulillah hujan, udara menjadi segar. Alhamdulillah hujan, Allah menyuruh kita untuk istirahat. Kalimat pertamanya dimulai dengan Alhamdulillah, sebagai wujud syukur terhadap nikmat Allah.

 

Lantas, bagaimana Allah memandang hujan itu sendiri? Air dianugerahkan Allah bagi seluruh makhluk hidup untuk mendukung kehidupan mereka. Air mengalir ke seluruh penjuru dunia. Melalui laut dan sungai, serta melalui mata air yang terpendam di perut bumi. Sementara ilmuwan menyatakan bahwa ada sekitar empat miliyar liter air dibawa oleh awan setiap tahunnya dari lautan ke daratan dan yang turun dalam bentuk hujan. Demikian Allah mengaturnya.

 

Dalam dunia spiritual, ajaran agama Allah dinamai syari’at yang secara harfiah berarti sumber air. Ia adalah tuntunan Illahi yang disampaikan oleh para rasul dan hamba-hambaNya yang terpilih, lalu mereka jelaskan dan peragakan untuk ditiru. Air hujan ruhani adalah wahyu. Ilham, pengalaman spiritual yang diperoleh oleh siapa saja dan sebanyak yang dikehendaki-Nya tidak ubahnya dengan air hujan yang tercurah dalam kadar dan tempat yang dikehendaki-Nya serta sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

 

Hujan seringkali didahului oleh angin dan disertai oleh Guntur dan kilat. Angin menurut Al-qur’an membawa berita gembira tentang turunnya hujan (baca QS. ar-Rum[30]:46).

 

Peranan kehangatan matahari serta angin yang melahirkan hujan – dalam dunia fisik – terlihat dengan nyata. Dalam dunia spiritual ketiga hal itu pun dapat terjadi. Mari, kita simak ayat berikut ini (baca QS. adh-Dhuha [93]).

 

Dengan tuntunan Illahi yang simbolnya adalah berupa cahaya matahari yang dengan mengamati dan menghayatinya, jiwa terdorong kepada kebajikan bagaikan angin yang memiliki kekuatan untuk mendorong awan yang berasal dari butir-butir air terangkat menuju suatu wilayah yang sangat tinggi. Angin yang mendorong itu saja – yakni pengamalan tuntunan Illahi itu saja – sebelum turunnya hujan, sudah  menggembirakan seseorang. Persis seperti angin sebelum turunnya hujan yang dinantikan.

 

QS, al-Baqarah [2]: 19

 

menguraikan keadaan orang-orang munafik dengan gambaran berikut ini:

 

 

“Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat dengan jari-jari mereka ke dalam telinga mereka, karena (mendengar suara) petir.

 

Maksudnya antara lain, adalah orang-orang munafik mengabaikan hujan, yakni petunjuk Illahi yang turun dari langit tanpa usaha mereka. Padahal hujan, yakni hujan yang menumbuh suburkan hati mereka. Padahal hujan, yakni petunjuk itu, mampu menumbuh kembangkan tumbuh-tumbuhan. Mereka mencurahkan seluruh perhatian kepada hal-hal sampingan. Bukankah hujan sebelum tercurah dari langit didahului oleh guruh dan gelapnya awan? Bukankah ketika itu sinar matahari tertutupi oleh gelapnya awan dan cahaya bulan serta bintang-bintang pun terhalangi olehnya? Mereka tidak menyambut kedatangan air yang tercurah itu, tetapi sibuk dengan kegelapan, guruh, dan kilat yang hanya berlalu sekejap dan demikian cepat itu.

 

Dapat juga dikatakan bahwa ayat-ayat Alqur’an diibaratkan dengan hujan yang lebat, apa yang dialami dan dirasakan oleh orang-orang munafik diibaratkan dengan aneka kegelapan, sebagaimana yang dialami pejalan diwaktu malam yang diliputi oleh awan tebal sehingga menutupi cahaya bintang dan bulan. Guruh adalah kecaman dan peringatan-peringatan keras Alquran. Kilat adalah cahaya petunjuk Alqur’an yang dapat ditemukan dicelah peringatan-peringatan itu.

 

Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. Tetapi, tiada yang memahaminya kecuali orang yang berpengetahuan. Memang, perumpamaan-perumpamaan dalam ayat yang tertulis (Alquran) mempunyai makna-makna yang dalam, bukan sebatas pda pengertian kata-katanya. Masing-masing orang sesuai kemampuan ilmiahnya dan dzauqnya – yakni kesadaran ruhaninya – dapat menimba dari perumpamaan-perumpamaan yang boleh jadi berbeda, bahkan lebih dalam dari orang lain. Ini juga berarti bahwa perumpamaan yang dipaparkan disini, bukan sekedar perumpamaan yang bertujuan sebagai hiasan kata-kata, tetapi ia mengandung makna serta pembuktian yang sangat jelas. Mungkin kita mempelajari dan menimba maknanya? Semoga demikian. Wa Allah A’lam

 

Orang yang sudah memahami apa itu hujan, dan manfaatnya itu mendekatkan kepada ilmu pengetahuan dan iman. Orang yang beriman selalu menjaga hatinya. Bahkan, selalu membuka hatinya.

 

Ibarat diruang yang gelap gulita, ia akan membutuhkan cahaya. Gelap diumpamakan kafir, cahaya itu iman. Ia akan mencari Allah dalam kegelapan. Nur yang dicari, yaitu Allah. Saat ia gelap ia berdoa, agar tidak termasuk kafir/kufrun. Semoga kita bisa menjadi hamba yang bersyukur, bukan kufur nikmat. Menikmati setiap peristiwa berupa musim hujan dan panas. Semoga kita menjadi orang yang beriman. Amin.

 

 

Rukun Sholat: Niat (5)

Rukun Sholat: Niat (5)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Niat sholat harus jelas pada sholat Tarawih, Dhuha, Istisqo, Gerhana Matahari/Bulan,dan niat sholat lainnya.  Adapun sholat sunah mutlaq itu tidak diwajibkan ta’yin (jelas) dalam niat, cukup dengan hanya melakukan sholat. Lafalnya seperti ini Usholli sunnatal ro’ataini lillahi ta’ala.

 

Contohnya, 2 rokaat sholat tahiyatul masjid, sesudah wudhu, dan istikhoroh. Demikian juga sholat Awwabin termasuk sholat Mutlaq. Pendapat ini menurut Ibnu Ziyad dan Al-Allamah Assuyuti.

 

Namun, menurut pendapat ahli yang lain, untuk sholat Awwabin wajib di-ta’yin saat niat, sebagaimana niat sholat Dhuha.

 

 

 

 

Rukun Sholat: Niat (6)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Dalam sholat fardu, wajib niat sholat fardu. Termasuk niat sholat fardu kifayah atau fardu sholat dikarenakan nadar. Demikian juga, apabila yang mengerjakan sholat fardu, kifayah, dan qadha tersebut itu anak kecil. Tujuannya agar sholat tersebut ada pembeda dengan sholat sunah. Contoh niat sholat, “Saya melakukan sholat fardu Dhuhur”.

 

 

Semarang, 22 Februari 2018

 

 

 

 

Rukun Sholat: Niat (7)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Dalam niat disunahkan menyandarkan lillahi ta’ala. Tujuannya menyingkirkan atau menghilangkan perselisihan yang mewajibkan hal tersebut (sholat). Hal ini dilakukan juga untuk keikhlasan  dalam sholat. Misal, Usholli …..lillaihi ta’ala.

 

Disunahkan pula menyandarkan unsur pengarahan ta’arrud sebagai sholat adaa atau qodho misal, usholli …..Adaan/qodho’an.

 

 

Semarang, 24 Februari 2018

 

Rukun Sholat: Niat (8) Selesai.

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Sunah menyertakan lafal menghadap kiblat dan bilangan rokaaat, seperti Usholli …mustaqbilal qiblati …….rok’atani…..

 

Sunah juga mengucapkan lafal niat sebelum takbir. Tujuannya agar dengan mengucapkan niat, hati mudah konsentrasi, sekaligus sebagai penegasan bagi pihak yang mewajibkannya.

 

Kasus. Apabila ada orang yang ragu “apakah sudah niat dengan sempurna atau belum atas sholat tersebut”. Misal, niat sholat Asar atau Dhuhur. Orang yang sholat tersebut lupa, niat antara sholat Asar dan Dhuhur. Maka, jika ia ingat saat waktu yang lama akan niat sholatnya atau ingatnya setelah melaksanakan satu rukun, sholat – meskipun berupa ucapan – seperti Al fatihah, maka batal sholatnya. Tetapi, jika ingatnya sebelum sholat, maka sholatnya tetap syah. Waallohu’alam.

 

 

Semarang, 26 Februari 2018

 

 

 

 

 

Rukun Sholat: Takbir Taharrum (1)

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Ada sebuah hadis yang maknanya, “Jika kamu melakukan sholat, maka hendaknya bertakbirlah”.

 

Takbir dalam hal ini dinamakan dengan takbir taharrum. Mengapa dinamakan takbir taharrum? Karena, setelah bertakbir, orang yang sholat haram melakukan perbuatan yang sebelumnya halal dilakukan. Meskipun, perbuatan  (halal) tersebut membatalkan sholat.

 

Misal, sebelum takbirotul ihrom, orang yang akan sholat halal untuk makan, minum, berjalan dan aktivitas lainnya. Namun, setelah takbirotul ihrom, maka pekerjaan tersebut menjadi haram.

 

 

Semarang, 27 Februari 2018

 

 

 

Rukun Sholat: Takbirotul Ihrom (2)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Takbirotul ihrom sebagai pembuka sholat. Tujuannya agar orang yang sholat melafalkannya dan memaknai awal sholat. Arti dari takbir sendiri yaitu mengagungkan Dzat yang telah siap untuk mengabdi kepada Allah, sehingga akan sempurna dan khusyuk sholatnya.

 

Dari sisi lain, takbir juga sering disebut/diucapkan berulang kali dalam sholat. Tujuannya agar tetap khusyuk dalam melakukannya.

Tafsir Yasin (10)

Tafsir Yasin (10)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Lafal Tanzila dibaca Nasab dengan fiil/kata kerja yang dibuang (Iqro tanzila azizi). Artinya Wahai Nabi Muhammad SAW bacalah Alquran dari Dzat yang Perkasa dan Penyayang (Ya Muhammad Iqro’ Almunzila minal Azizir-rohim).

 

Apabila dibaca Rafa dengan khobar yang memiliki mubtada yang dibuang. Bacaannya adalah hadhihil qur’an munzilun ‘ alaika biwasilati jibrila ‘alaihis salam mina Allah. Yang artinya inilah Alquran itu diturunkan padamu dengan wasilah/perantara malaikat Jibril Alaihis salam dari Allah.

 

 

Tafsir Yasin (11)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Litundiro qauman ma undiro abauhum. Lam pada lafal litundiro adalah menjadi ta’lil tanzila, jadi artinya supaya Nabi Muhammad SAW menakuti-nakuti/memperingatkan.

 

Ma undiro. Ma-nya dimaknai Nabi atau lam tundiro, nenek moyang suatu kaum yang dekat dengan lamanya waktu kekosongan Nabi. Ada juga yang mengatakan dengan Ma bermakna Alladzi, jadi litundiro qaumal ladzi undiro bihi abauhum. Yang artinya supaya Nabi Muhammad menakut-nakuti pada kaum yang ditakut-takuti nenek moyangnya.

 

 

 

 

 

 

Tafsir Yasin (12)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Fahum Ghofilun. Artinya, mereka itu termasuk orang yang lupa terhadap Allah. Lupa dari iman dan kebenaran. Maknanya yaitu wahai Nabi Muhammad, bahwa Allah telah menurunkan terhadapmu berupa Alquran agar mereka takut. Yang dimaksud mereka (kaum) disini adalah kaum Quraisy, karena sejak zaman Nabi Ismail ada hingga zaman Nabi Muhammad SAW tidak ada yang datang ke kaum tersebut, dikarenakan mereka itu lupa iman terhadap Allah dan mereka tidak beragama, serta tidak bersyariat.

 

 

Tafsir Yasin (12)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Laqod haqqol qaulu ‘ala aktsarihim fahum la yu’minun. Ayat tersebut termasuk kalimat adzab bagi kaum Quraisy karena sesungguhnya Allah mengetahui sejak zaman Azali bahwa kebanyakan orang Quraisy itu tidak beriman kepada Allah dan utusannya yaitu Nabi Muhammad SAW, seperti Abu Jahal, ‘Utbah, Syaibah, Mughiroh, dan tokoh Quraisy yang lainnya.

 

Orang Quraisy sebagaimana di atas merupakan orang yang celaka karena tidak beriman kepada Allah, mereka bukanlah ahli Tauhid.

 

 

Semarang, 26 Februari 2018

 

 

 

Tafsir Yasin (13)

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Inna ja’alna fi aqna qihim aglalan fahila ilal adzqoni fahum muqmahun. Artinya, sesungguhnya kami telah menjadikan mereka diangkat ke dagu sehingga mereka bertengadah.

 

Ayat ini sebagai gambaran bagi orang yang tidak beriman kepada Allah dan sombong. Menurut penjelasan pakar, bahwa kondisi tersebut dialami oleh orang kafir di dalam neraka jahannam.

 

 

Semarang, 27 Februari 2018

 

 

 

Tafsir Yasin (14)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Wajalna min aidihim saddaw wamin kholfihim saddang faag syaina hum fahum la yubsirun.

 

Artinya, “Dan Kami jadikan dihadapan mereka sekat/dinding dan dibelakang mereka sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”

 

Dalam suatu riwayat ayat ini dikisahkan bahwa Abu Jahal berkata kepada sahabat-sahabat dari Bani Mahzum. Perkatannya adalah “Apabila saya (Abu Jahal) melihat Nabi Muhammad SAW sedang sholat, maka saya akan melempar (ngepruk) dengan batu di kepalanya”. Suatu ketika Nabi Muhammad sholat, lalu Abu Jahal mengikutinya. Saat tepat dibelakang Nabi Muhammad, Abu Jahal langsung mengangkat batu dan akan melempar ke arah kepala Nabi Muhammad, saat akan melempar tiba-tiba  batu yang ada di tangannya tidak bisa lepas/nempel ditangannya. Leher Abu Jahal pun terasa sakit.

 

Dengan adanya kejadian ini Abu Jahal pulang ke sahabat-sahabat dari Bani Mahzum dan menceritakan kejadian tersebut. kemudian, lepaslah batu yang menempel di tangannya.

 

 

 

Semarang, 1 Maret 2018

Next Newer Entries