Masjid Sebagai Sarana Belajar Bersosial

Masjid Sebagai Sarana Belajar Bersosial

Oleh Agung Kuswantoro

 

Ramadhan adalah momentum tepat untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Bersosialisasi di bulan Ramadhan. Banyak ibadah yang sifatnya sosial seperti sholat fardu berjamaah di masjid. Ada juga, sholat sunah tarawih dan witir. Selain itu, kajian dan tadarus.

 

Kegiatan itu semua dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat. Kurang lebih itulah yang saya rasakan. Ramadhan menjadikan kegiatan untuk mempererat hubungan sosial bermasyarakat melalui masjid. Alhamdulillah, saya dapat kepercayaan untuk menjadi imam sholat subuh, tarawih, dan tadarus sore. Kegiatan ini saya lakukan dengan santai dan dinikmati saja. Jalani apa adanya. Hal yang terpenting adalah menjaga amanah (kepercayaan) dari masyarakat.

 

Saya berkomitmen sekali dengan hal itu. Di usia ke-34 tahu ini, saya ingin berlajar dari tokoh teladan terbaik ini yaitu Nabi Muhammad SAW bahwa di usia 35 tahun ia sudah terjun ke masyarakat. Ia turun tangan dalam peristiwa peletakan Hajar Aswad. Padahal, usianya masih mudah yaitu 35 tahun.

 

Dari inilah, saya ingin belajar bermasyarakat di usia 30 tahunan. Saya yakin sekali, jika kita berbaik kepada orang lain, maka orang itu juga akan baik kepada kita. Sudah saatnya untuk terjun ke masyarakat. Menjaga amanah melalui kegiatan-kegiatan di masjid pada bulan Ramadhan sebagai bentuk ibadah pula.

 

Saya senang bisa melakukan ini. Tujuannya semata-mata lillahi ta’ala saja. Bukan, karena manusia atau kepentingan tertentu.

 

 

Semarang, 31 Mei 2018

Alhamdulillah Banyak Yang Tadarus

Alhamdulillah Banyak Yang Tadarus

Oleh Agung Kuswantoro

 

Sore tadi (29/5/2018) menjadi penyemangat bagi saya untuk tetap mensyiarkan agama Islam pada bulan Ramadhan di lingkungan saya. Yang datang mengaji yaitu Kalisa, Nanda, Rando, Raihan, Wawan, dan Maulana. 5 anak-anak dan 1 orang dewasa.

 

Biasanya yang mengaji 2 hingga 3 orang. Karena yang datang mengaji banyak, saya dibantu oleh Maulana. Maulana saya beri amanah untuk mengajari Kalisa, pada sesi kedua. Maulana saya nilai sudah pantas untuk mendampingi saya. Kemudian, saya konsen ke-4 orang yang lain. Pembagian tugasnya seperti itu.

 

Sebelum ke-5 anak datang ke masjid, saya dan Maulana sudah datang terlebih dahulu. Maulana sudah aktif bertanya mengenai materi yang telah ia baca. Saya memberikan tugas ke dia agar mempelajari materi mana yang belum dipahami dari kitab ghorib.

 

Singkat cerita, datanglah ke-5 anak datang ke masjid. Saya menggunakan model pembelajaran dengan cara meniru. Bacaannya adalah surat alhamuttakur dibaca secara bersama. Hasilnya, mereka hanya hafalan.

 

Ini diketahui, ketika juz amma yang mereka bawa, saya tukarkan dengan Alquran tanpa huruf latin. Hasilnya, mereka pun kurang mengusai. Terbukti, saat menunjukkan aoa yang dilafalkan dengan hurufnyanya tidak sama. Itu artinya, mereka hafalan.

 

Setelah mereka mengetahui bacaannya tidak sama dengan yang diucapkan. Lalu, saya memberikan materi tentang hunnah, dimana bacaan mereka tidak pas. Sehingga, saya perlu menyampaikan materi tersebut kepada mereka. Kemudian, mereka praktik melisankan dan memberikan ketukan yang tepat. Dengan cara itu, apa yang dilisankan dan yang ada ditulisan itu sama.

 

Waktu telah menunjukkan, akan memasuki buka puasa. Segera saya mengakhiri kajian sore itu. Alhamdulillah, ada donatur yang memberikan sebagian rizkinya untuk kajian sore ini untuk berbuka puasa bersama di masjid.

 

Demikian cerita singkat ini. Semoga membawa kita untuk tetap semangat untuk menjalankan ibadah di bulan Ramadhan tahun ini. Amin

 

Semarang, 29 Mei 2018

 

Menikmati Tadarus

Menikmati Tadarus

Oleh Agung Kuswantoro

 

Akhir-akhir ini, saya berdua bertadarus dengan salah satu mahasiswa FMIPA UNNES. Ia selalu datang lebih dulu di masjid. Padahal, kostnya, di depan Rektorat Banaran. Sedangkan letak masjid di Sekaran. Ia membawa motor.

 

Tadarus yang saya terapkan ini tergantung pada teman yang mengaji. Misal, yang datang itu anak-anak, maka tadarus konsennya pada bacaan anak tersebut, dengan surat pendek. Itupun diulangi bacaannya. Tidak cukup sekali.

 

Jika yang datang orang dewasa dan telah memahami bacaan, maka konsen tadarusnya pada tajwidnya. Bahkan, ghorib.

 

Untuk saat ini yang sering (baca: rajin) datang adalah mahasiswa FMIPA UNNES itu. Maulana namanya. Ia sudah punya dasar mengaji di pesantren. Ia sudah memahami kitab tajwid Hidayatussibyan. Bahkan, ia kritis dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, bacaan-bacaan imalah, isymam, dan bacaan “aneh” lainnya.

 

Gaya tadarus dengannya pun berbeda. Saya konsen pada konsep. Kitab ghorib yang saya bawa. Saya menjelaskan konsep-konsep yang ada di ghorib. Ia menyimak dan melafalkan ayat-ayat yang ada dalam konsep tersebut.

 

Bagi saya, orang yang datang (meski hanya satu), untuk bertadarus adalah tamu Allah. Satu saja, yang hadir itu sudah luar biasa. Dari situlah, kita “kenceng” dengan materi.

 

4 hari lagi tadarus di masjid berakhir. Selanjutnya, saya akan konsen dengan ibadah yang bersifat individu, seperti ‘itikaf. Atau, konsen mudik bagi yang rumahnya jauh. Toh, kita adalah perantau.

 

Maulana, tetap semangat mengaji. Khatamkan konsep-konsep yang ada di ghorib. Hari ini saya bawakan kitab Nahwu Alfiyah. Sebagaimana, pertanyaannmu mengenai Imalah. Di dalam kitab tersebut, ada bab tentang Imalah.

 

Semoga Allah selalu memberikan keberkahan dan manfaat untuk kita dari setiap rizki yang telah diberikan kepada kita. Amin.

 

Semarang, 27 Mei 2018

 

 

 

 

Tadarus ke-11

Tadarus ke-11

Oleh Agung Kuswantoro

 

Tak terasa tadarus yang saya lakukan sudah masuk hari ke-11. Selama tadarus ada beberapa catatan menarik.

 

Pertama, ada yang mengaji. Saya sangat bersyukur ternyata ajakan mengaji tiap sore selama Ramadhan direspon oleh orang lain. Termasuk anak-anak.

 

Kedua, pernah tidak ada orang yang dating, kecuali saya. Jika kondisi seperti ini, maka saya membaca/menghafal surat Alqur’an dan berdoa.

 

Ketiga, yang datang justru orang yang jauh dari masjid. Bahkan, beda desa. Ia datang ke masjid untuk bertadarus. Ia tahu informasi tadarus dari WAG kajian Subuh.

 

Keempat, ada yang tertarik memberikan ta’jil/buka puasa. Biasanya tadarus berakhir sebelum buka puasa. Namun, karena ada donator, tadarus berakhir hingga buka puasa.

 

Kelima, telinga terbiasa membaca Alqur’an. Salah satu tujuan tadarus adalah membiasakan telinga mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Alqur’an.

 

Keenam, menghidupkan masjid. Untuk mensyiarkan masjid di bulan Ramadhan, perlu kegiatan rohani yang mendukung. Salah satunya tadarus. Masjid tak cukup digunakan untuk sholat berjamaah saja.

 

Ketujuh, mengajinya berbasis individual. Karena ada peserta yang dewasa dan anak-anak. Maka model mengajinya saya bedakan berdasarkan kemampuan tiap orang berbeda-beda. Bahkan ada yang bertanya dengan kritis.

 

Kedelapan, menggunakan microfon. Tujuannya agar syiar Islam tersampaikan ke masyarakat. Selain itu, agar orang mengetahui bahwa tadarus itu sangat dianjurkan saat bulan Ramadhan.

 

Itulah cerita/pengalaman menarik saat tadarus dari hari pertama hingga hari kesebelas. Semoga Allah meridhoi langkah kita. Amin.

 

 

Semarang, 27 Mei 2018

Guru Apakah Terdisrupsi?

Guru Apakah Terdisrupsi?

Oleh Agung Kuswantoro

 

Saat ini, banyak orang berbicara tentang disrupsi. Banyak bidang yang terdisrupsi, seperti ekonomi dan transportasi. Bidang ekonomi, disrupsi (penyimpangan) dalam bidang penjualan ada bukalapak, lazada, blibli, dan e commerce lainnya.

 

Belanja pun lebih efektif dan efisien. Tidak harus ke pasar. Cukup dengan menggunakan aplikasi. Pembayaranya pun dilakukan dengan mudah, cukup dengan mentransfer.

 

Dalam bidang transportasi, ada Gojek dan Grab. Kedua perusahaan tersebut tidak memiliki garasi parkir luas, jumlah pengemudi yang banyak, dan biaya yang murah.

 

Lalu, bagaimana dibidang pendidikan? Saya berpendapat dibidang pendidikan guru pun akan terdisrupsi. Terdisrupsi oleh apa? Sistem. Kehadiran  guru bisa diwakilkan oleh e learning. Ada perpustakaan online, e book, e jurnal.

 

Incumbent, atau petahana. Harus menyesuaikan keadaan ini. Jika tidak bisa menyesuaikan, maka incumbent akan terdisrupsi oleh guru pendatang baru.

 

Guru pendatang baru lebih fresh secara IT dan kemampuan. Hanya pengalaman yang minim dan penguatan karakter pada dirinya.

 

Jadi, incumbent akan terdisrupsi oleh keadaan. Jadilah seperti bunglon yang bisa mempertahankan/menyesuaikan keadaan. Bukan seperti Dinosaurus yang tidak bisa mempertahankan keadaan lingkungan sekitar.

 

Semarang, 25 Mei 2018

Kegiatan “Pembelajaran” Ramadhan

Kegiatan “Pembelajaran” Ramadhan

Oleh Agung Kuswantoro

 

Ramadhan adalah bulan mulia. Karena, “mulialah” sehingga, kegiatan-kegiatan Ramadhan harus diisi dengan kegiatan positif.

 

Berikut kegiatan yang saya lakukan di bulan suci itu. Pertama, tadarus sore di masjid. Saya membiasakan diri untuk tadarus sore di masjid bersama masyarakat. Kegiatan ini, minimal dilakukan oleh dua orang. Tujuan ini agar masyarakat saya terbiasa dengan suara mengaji Alqur’an. Mengajinya pun yaitu surat Alhakumuttakasur hingga Annas. Tiap hari satu surat tapi ada yang mengikuti, bahkan anak-anak.

 

Kedua, imam tarawih. Saya dapat jadwal di masjid mengimani sholat tarawih dan witir di masjid. Alhamdulillah “gaya” mengimami saya bisa diterima oleh jamaah. Penekanan saya dalam sholat ini yaitu pembacaan Alqur’an/surat di sholat yang tartil. Tidak terlalu cepat.  Bacaan jelas.

 

Ketiga, berdiskusi dengan jamaah. Setelah sholat witir, biasanya jamaah berkumpul. Disinilah, sebgaai tempat untuk berdiskusi tentang agama. Durasi waktu diskusi kurang lebih 15-20 menit.

 

Keempat, imam sholat Subuh. Imam sholat Subuh sudah menjadi kebiasaan saya diluar bulan Ramadhan. Setelah sholat Subuh saya memberikan kultum selama 7 menit. Itu dilakukan tiap hari.

 

Kelima, belajar privat bersama salah satu jamaah. Ada seorang jamaah ingin belajar agama secara khusus, saya lakukan di masjid setelah melakukan kultum Subuh. Ia sangat giat, saya pun bersemangat. Ia butuh pendampingan dalam melafalkan huruf hijaiyah, sehingga saya lakukan dengan cara intensif.

 

Kelima, kegiatan rutin inilah yang saya lakukan selama Ramadhan. Basisnya, adalah masyarakat. Tidak dilakukan dengan sendiri. Minimal 2 orang. Semoga berkah. Ramadhan kita mendapatkannya. Amin.

 

Semarang, 24 Mei 2018

 

 

Ziarah Pemikiran Almarhum Hernowo Hasim

 

Ziarah Pemikiran Almarhum Hernowo Hasim

Oleh Agung Kuswantoro

 

Penulis siapa yang tidak mengenak sosok Hernowo Hasim? Saya termasuk kategori orang yang terlambat mengenal dia. Menyesal? Tidak! Justru, saya langsung mencari referensi mengenai dia. Saya bergabung di komunitas penulisan. Disitulah saya mengenal lebih mendalam. Tidak personal/pribadinya. Tetapi, ilmunya.

 

Mengikat makna, menulis tanpa beban, free writing, mengalir, dan disiplin menulis, serta alarm. Istilah-istilah itulah yang saya ketahui tentangnya.

 

Saya masih ingat, dalam komunitas penulisan, saya bertanya mengenai teknik menulis. Dia menjelaskan dengan gamblang. Jelas sekali. Bahkan, ia mencontohkan/mendemostrasikannya seperti menulis bebas dibantu dengan alarm.

 

Ia adalah pembelajar. Model belajar yang ditawarkan adalah “ngemil” membaca. Membaca tidak harus banyak. Beberapa halaman itu sudah cukup, lalu “ikatlah” dengan sebuah tulisan. Ada buku tentang tafsir, koran, dan peristiwa yang ia baca.

 

Kebanyakan orang membaca, setelah itu tidak menulis, sehingga memori atau ingatan akan informasi tersebut cepat hilang. Alias lupa. Strategi yang ditawarkan, menurut saya tepat.

 

Ia juga sosok yang sosial. Keilmuan tentang menulisnya ia bagi kepada orang yang mau belajar. Tidak ada kata ‘sindiran’ untuk orang yang mau belajar menulis. Adanya semangat dan mendorong untuk selalu berlatih.

 

Santun kalimatnya. Senyum dan lantang dalam menjelaskan suatu materi. Itulah kenangan saya bersamanya.

 

Selain itu, ia sosok yang rajin membaca pemikiran orang dengan cara membaca buku-buku para tokoh. Selain itu, rajin mengikuti twitter para ahli menurut dia, seperti Ulil Absor Abdallah. Setelah itu, ia kaji dengan buku yang ia baca. Dan, ditulisnya. Ia share ke facebook dan grup WA.

 

Tidak hanya tulisan, ia juga sering menampilkan gambar yang mewakili atas tulisan tersebut. Jarang ada penulis yang demikian. Sempatnya mencari gambar dan menulis dengan teliti.

 

Itulah, kenang-kenangan saya dengannya. Sekarang, sang guru telah pulang ke pangkuan Allah. Semoga buku-buku yang ia tulis menjadi amal jariah yang selalu mengalir hingga akhirat. Selamat jalan, Bapak. Semoga saya bisa meneladani Bapak. Buku-buku yang Bapak tulis yang belum saya baca, akan saya baca dan saya “ikat”.

 

Semarang, 25 Mei 2018

 

 

Previous Older Entries