Catatan Kultum Ramadhan (1)

Catatan Kultum Ramadhan (1)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Selama Ramadhan ini, kultum yang saya sampaikan ke masjid seputar Ramadhan. Berikut catatan saya:

 

  1. Lailatul Qodar

Lail itu malam. Qodar itu mulia. Menurut Kamus, Qodar memiliki tiga arti yaitu (1) mulia, (2) sempit, (3) ketentuan/ketetapan.

 

Mulia karena pada malam itu yang turun malaikat untuk mencatat amal manusia.

 

Sempit karena bumi diisi oleh Malaikat, sehingga bumi menjadi sempit.

 

Ketetapan/ketentuan karena malam itu pasti terjadi.

 

Banyak perbedaan pendapat terkait turunnya Lailatul Qodar. Ada yang mengatakan diturunkan Alqur’an yaitu malam 17 Ramadhan. Ada yang mengatakan pula malam ganjil (21, 23, 25, 27, dan 29). Bahkan di daerah tertentu (Timur Tengah) Lailatul Qodar dipercayai turun pada tanggal 27 Ramadhan. Sehingga, peristiwa Nuzulul Qur’an di daerah tersebut diperingati tanggal 27 Ramadhan. Berbeda di Indonesia diperingati 17 Ramadhan. Dari penjelasan di atas lengkap ada dalilnya.

 

Namun, guru saya mengajari saya bahwa Lailatul Qodar, jangan dinanti. Mengapa? Karena itu pasti terjadi. Tugas kita adalah memantaskan apakah kita layak mendapatkan Lailatul Qodar?

 

Layak/pantas menjadi kata kunci untuk memasuki Lailatul Qodar. Mengapa? Malaikat yang akan mencatat amal manusia. Berarti, Malaikat akan mencatat orang yang melakukan kebajikan pada hari/malam itu.

 

Malaikat tidak akan mencatat amal manusia yang buruk. Berarti kita harus memperbanyak amalan sholih/kebajikan. Itu yang perlu diperhatikan. Kuncinya Malaikat itu dengan  kebajikan.

 

Jika Lailatul Qodar tidak usah dinanti, berarti kita harus berbuat baik selama Ramadhan, mulai tanggal 1 hingga 30 Ramadhan. Insya Allah dengan cara ini Lailatul Qodar akan diperoleh.

 

Contoh Malaikat turun ke bumi, bahwa Alqur’an mengatakan dengan tegas pada saat perang Badar, Malaikat membantu pasukan muslim. Jumlah sedikit pasukan muslim, namun bisa mengalahkan pasukan Kafir/Quraisy yang berjumlah lebih banyak.

 

Ternyata, Malaikat membantu pasukan muslim. Salah satu faktor dibantunya pasukan muslim karena telah melakukan amal baik/kebajikan. Sehingga, Malaikat turun ke bumi.

 

Sebaliknya, pada perang Uhud, pasukan muslim tidak dibantu oleh Malaikat dikarenakan pasukan muslim tidak sabar terhadap godaan dunia, berupa harta rampasan milik pasukan Kafir/Quraisy. Padahal, perintah Nabi sangat jelas, bahwa apa pun keadaannya, pasukan muslim harus tetap di atas bukit. Jangan turun bukit, walaupun sudah selesai perang. Namun, karena meraka tergoda dengan “harta” yang berada dibawah bukit, menjadikan pasukan muslim mengalami kekalahan. Baca QS. Ali Imron ayat 124.

 

Itulah sebabnya, Malaikat akan turun, jika kita berbuat kebajikan, sebagaimana kondisi dalam perang Badar.

 

Ada benarnya juga hadist yang mengatakan Lailatul Qodar akan turun dengan pertanda seperti matahari tidak terlalu panas, suasana tenang, angin sepoi-sepoi dan tanda alam  lainnya yang mendamaikan.

 

Menurut saya, hal itu tidak menjadi patokan. Saya lebih sepakat dengan cara Lailatul Qodar itu pasti terjadi. Tugas kita hanya memantaskan untuk bisa masuk dalam Lailatul Qodar dengan cara berbuat baik/kebajikan, sehingga Malaikat akan turun mencatat amal kita.

 

Bersambung

 

Semarang, 1 Juni 2018

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: