Tetap Semangat Mengaji

IMG20181220161933.jpg

Tetap Semangat Mengaji
Oleh: Agung Kuswantoro

Wawan, nama salah satu santri yang semangat mengaji. Padahal, ia beberapa kali saya ingatkan (baca: dibenarkan) dalam proses pembelajaran.

Misal, saat sholat, ia masih mainan. Ia menggerak-gerakkan tangan saat membaca Alfatihah. Ia juga belum bisa membaca huruf hijaiyah. Dan, ia juga sering lupa dengan materi-materi tauhid.

Keterbatasan dalam menerima materi, tak ‘menyiutkan’ untuk belajar/mengaji. Ia semangat ngaji di Masjid. Beberapa kali, orang tuanya mendampingi, walaupun ia sudah besar.

Saya juga salut dengan orang tuanya-yang semangat sekali-menyekolahkan anak (baca: mengaji) di Madrasah. Ia berkata secara langsung kepada saya dan istri untuk “menitipkan” anaknya agar bisa mengaji.

Ia/Wawan adalah santri lama. Dulu, ia pernah belajar/ngaji di rumah saya. Waktu itu, belum ada Madrasah.

Semangat anak dan orang tua, sangat imbang karena, orang tua sudah memasrahkan kepada kita/pengelola Madrasah.

Kita pun memiliki kewenangan untuk “membelajarkan dia”. Mengingat, kemampuan belum bisa mengikuti perkembangan materi di kelas C, sehingga ia akan diturunkan pada kelas B.

Ia akan “turun/pindah” kelas B, bersama teman yang lainnya – yang berasal dari kelas C. Mereka adalah Nofal, dan Azam. Jadi, ada 3 santri yang akan pindah kelas. Dari kelas C ke kelas B.

Walaupun, ia/Wawan diturunkan di kelas B, namun semangat mengajinya, perlu ditiru oleh santrinya. Keaktifan saat pembelajaran begitu terlihat saat mengaji.

Faktor keaktifan orang tua, juga mempengaruhi santri dalam mengaji. Saat, Ia/Wawan belum semangat (malas) mengaji, orang tuanya (Mba Wati) mengantarkan ke Masjid.

Ia/Mba Wati juga melihat dan menanti saat Wawan diberi pengajaran (baca: hukuman/punishmen) saat sholat jamaah Isya bercerita di Masjid.

Wawan tertawa saat sholat. Saya – selaku imam – memberikan peringatan kepadanya dengan sholat Isya lagi. Ia mengulang sholat Isya.

Saya melakukan ini, karena setiap sholat Isya (khususnya), ia selalu mainan saat sholat. Padahal, materi sholat sudah saya berikan kepadanya.

Sebagai konsekuensinya, ia mengulangi sholat Isya di masjid. Setelah jamaah selesai sholat (pulang).

Saat saya memberi pelajaran itu (baca: menghukum), orang tuanya/Mba Wati melihatnya dan mengucapkan terima kasih kepada saya, karena telah diberikan ilmu sholat.

Wawan pun tak marah, sedikitpun kepada saya. Esoknya, ia tetap mengaji dan sholat seperti biasa.

Mari, kita semangati anak-anak kita. Dorong untuk mengaji. Jangan segan-segan untuk menanyakan perkembangan mengaji anak.

Lalu, dampingi saat ia ke Masjid. Karena, saat ke Masjid, di situlah masyarakat berkumpul. Materi yang diajarkan di Madrasah, bisa jadi tidak digunakan ketika di Masjid, dikarenakan kondisi yang banyak orang. Waallahu’alam.

Semarang, 24 Desember 2018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: