Merefleksikan

Merefleksikan
Oleh Agung Kuswantoro

Seperti biasanya, di hari Jumat ini kita merefleksikan atas satu pekan yang kita perbuat.

Lebih banyak mana antara pahala atau dosa yang kita lakukan? Lebih sering kemana kaki kita menuju tempat ibadah atau maksiat? Tubuh ini sudah melakukan puasa sunah atau belum? Sholat-sholat sunah apa saja yang pernah kita lakukan? Apakah kita sudah mengikhlaskan kesalahan orang lain yang pernah ia perbuat kepada kita? Sudahkah, kita meminta maaf atas perbuatan kita kepada orang telah kita buat salah? Dan, pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Kitalah yang lebih tahu akan jawaban-jawaban di atas. Hanya Allah yang bisa membantu kita pada saat bingung. Dia yang membantu kita untuk mengikhlaskan atas segala khilaf. Harapannya melalui cara ini, kita menjadi hamba yang beriman. Amin.

Salam Jumat Magfirah.

Semarang, 1 Februari 2019

3 Ketukan

3 Ketukan
Oleh Agung Kuswantoro

img-20190131-wa0027

Hari ini kita konsen mengaji dengan materi dengung. Dengung dalam Tajwid diberi tanda 3 ketukan.

Tuk tuk tuk. Ang Ng Ng tum. Min Ng Ng Syarril. In Ng Ng sa sa NU. Kurang lebih seperti itu.

Saya mengajar di kelas C didampingi oleh Ustadah Arin. Saya konsen di materi dengung, sedangkan Ustadah Arin konsen materi mengaji praktek di qiroaty. Jadi, nyambung.

Alhamdulillah, para santri semangat mengaji, walaupun hujan.

Kelas D diampu oleh Ustad Belardo. Materinya makhroj. Lengkap santrinya di kelas D.

Itulah kisah sore kita dengan mereka di suasana yang dingin. Semoga ilmu ini bermanfaat. Amin.

Semarang, 31 Januari 2019

Ustad Kami “Pulang”

Ustad Kami “Pulang”
Oleh Agung Kuswantoro

img-20190130-wa0071

Malam ini, saya mengikuti Tahlilan di rumah Ustadku. Hujan tak menghalangi langkahku untuk datang ke rumahnya. Ia bernama Rofiqul ‘Ala. Ia adalah sosok yang berpengaruh dalam hidup saya, khususnya dalam belajar agama Islam.

Melalui dialah saya dikenalkan ilmu Tauhid, Tajwid, Khot, Imla, Mahfudhot, Fiqih, Akhlak, Tarekh, dan yang ilmu lainnya.

Empat tahun saya belajar dengannya. Tepatnya di Madrasah Hidayatus Shibyan. Kurang lebih jarak Madrasah dengan rumah saya adalah 800 meter. Saya jalan kaki ke Madrasah. Sedangkan Ustad saya naik sepeda ‘ontel’ berboncengan dengan istrinya, ustadah Sri Hamidah. Ustadah Sri Hamidah juga mengajar kelas dua di Madrasah tersebut.

Semua pembelajaran yang ia sampaikan sangat berkesan. Alhamdulillah, saya bisa mengikuti selama pembelajaran. Keterangan-keterangan yang ia sampaikan, pasti saya tulis.

Setiap ilmu yang ia sampaikan, pasti saya salin dalam buku tulis. Kehadiran saya di Madrasah saat pembelajaran, bisa dikatakan selalu hadir. Karena, saya ingin belajar agama.

Saya sangat antusias dalam pembelajaran. Allah mempertemukan saya dengannya. Bagi saya, empat tahun bersamanya adalah rizki yang berharga.

Setelah saya lulus dari Madrasah, saya melanjutkan Madrasah Wustho dan Ulya Salafiyah Pemalang. Saya baru sadar ternyata ‘modal’ ilmu Madrasah Hidayatus Shibyan adalah modal saya bisa diterima di Pondok Pesantren dan Madrasah Wustho dan Ulya. Atas izin Allah, saya diterima di kelas satu. Tanpa, harus melalui kelas Idad/persiapan.

Betapa penting ilmu-ilmu di Madrasah Hidayatus Shibyan. Saya pun bisa memahaminya, terlebih dengan gaya mengajar Ustad Rofiqul ‘Ala yang khas. Biasanya saat menyampaikan materi, ia memberi ilustrasi dengan kalimat awal ‘ana wong’. Kemudian, tulisan Khot-nya bagus sekali. Lalu, suaranya bagus dan pelan dalam menadhomkan kitab Hidayatus Shibyan dan Aqidatul Awam.

Suatu saat, ada santrinya datang ke rumah saya. Santrinya mengatakan kepada saya agar menemuinya di rumah. Saya menemuinya. Ia mengatakan kepada saya, agar membantu beliau dalam mengajar Madrasah. Ia mengharapkan saya menjadi Ustad di Madrasah yang pernah saya ‘menimba’ ilmu. Namun, Karena beberapa hal, saya tidak bisa menerima tawarannya. Alasan utamanya adalah saya akan melanjutkan studi di UNNES. Sehingga, nanti saya hanya bisa mengajar beberapa waktu saja. Karena faktor itulah, ia mengamini alasan saya.

Dalam hati, saya merasa bersalah atas tawaran yang saya tolak. Mungkin Allah belum berkehendak waktu itu, agar saya menjadi ustad di Madrasah yang ia pimpin.

Sekarang, ia telah tiada. Saya bertekad melanjutkan perjuangannya agar menjadi ustad. Allah (mungkin) menunjukkan saya jadi ustad bertempat di Semarang pada Madrasah yang saya buat bersama istri. Madrasah yang didukung oleh warga dan mahasiswa.

Pengalaman yang diajarkan olehnya menjadi bekal saya untuk mengajarkan ke santri saya di Semarang. Perjuangannya belum selesai. Insya Allah, saya akan melanjutkannya di Semarang. Selamat jalan ustadku. Selamat ‘pulang’ ustad kita. Semoga ilmu yang telah disampaikan kepada kami menjadi ladang amal sholeh ustad. Dan, doakan agar kami bisa memperjuangkan Madrasah sebagaimana yang telah ustad contohkan ke kami.

Pemalang, 30 Januari 2019

Kaki ‘Mancal’

Kaki ‘Mancal’
Oleh Agung Kuswantoro

img20190129164742

Setelah belajar Rukuk, kita belajar duduk diantara dua sujud. Sederhana memang. Namun, harus ada ilmunya.

Dalam fiqih, duduk dua sujud dilakukan dengan kaki ‘mancal’. Termasuk saat sujud. Tujuannya mengahadap kiblat.

Demikian juga, jari-jari tangan saat sujud juga menghadap kiblat. Termasuk, saat duduk tahyat awal.

Hari ini, khusus belajar gerakan duduk diantara dua sujud, sujud, dan tahyat awal dengan fokusnya posisi kaki. Yaitu, ‘mancal’.

Semoga kita bisa menjadi hamba yang dekat dengan Allah melalui gerakan sholat yang benar. Amin

Semarang, 30 Januari 2019

Ngaji Tauhid (28): Khodijah (b)

Ngaji Tauhid (28): Khodijah (b)
Oleh Agung Kuswantoro

Lanjutan kemarin, bahwa Khodijah adalah Ummul Mukminin. Ia sangat tabah dengan godaan saat menjanda. Terutama godaan dari lingkungannya. Ia bertetangga dengan Abu Lahab. Abu Lahab adalah orang yang dilaknat oleh Allah. Bahkan, saking buruknya dia, Alquran menuliskan dalam surat al Lahab.

Rumah Abu Lahab tiap harinya selalu ada ‘pesta’. Khodijah selalu melewati rumahnya setiap kali akan Towaf dan beribadah ke Ka’bah. Namun, ia tetap sabar menjani godaan Abu Lahab dan teman-teman. Terlebih, ia janda.

Perbuatan tersebut, Khodijah lakukan bertahun-tahun. Namun, ia tetap menjalaninya dengan ketabahan. Ia selalu berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan atas yang ia rasakan.

Bersambung.

Semarang, 29 Januari 2019

Mas Pamor, Ayo Berkata Syin

Mas Pamor, Ayo Berkata Syin
Oleh Agung Kuswantoro

IMG20190128161639.jpg

Ini kajian Minggu yang lalu. Dimana, saya menggantikan Ustadah Nisa. Materinya adalah makhroj.

Pembelajarannya dengan model suara lantang. Per santri menirukan ucapan saya. Mulai dari Alif hingga Syin.

Ada yang menarik saat mengucapkan Syin oleh Pamor. Pamor selalu berkata SA IN. Beberapa kali saya melatihnya dengan mengucapkannya. Misal, Syah Syah Syah. Hasilnya tetap Sa i, Sa i, Sa i.

Saya melatihnya lagi dengan kalimat Syaiton. Hasilnya Sa i ton.

Itulah kenangan saya pekan kemarin. Sekarang, mereka sedang belajar Rukuk. Semua kelas. Hanya caranya yang berbeda.

Mari kita dampingi anak-anak kita agar menjadi pribadi yang dekat dengan Allah.

Semarang, 28 Januari 2019

Ngaji Tauhid (27): Khodijah

Ngaji Tauhid (27): Khodijah
Oleh Agung Kuswantoro

Ada contoh teladan dalam masalah keimanan. Yaitu, Khodijah. Ia adalah istri Nabi Muhammad.

Menurut beberapa referensi yang saya baca bahwa Ia/Khodijah dijuluki Ummul Mukminin. Yang artinya, ibu yang beriman.

Pertanyaan, mengapa ia mendapat julukan itu? Mari, kita simak kepribadiannya.

Pertama, ia orang yang tabah. Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad, ia telah menikah dengan lelaki. Kemudian menjanda. Proses menjandanya lama. Ada yang mengatakan hingga 15 tahunan lebih. Maknanya, ia menjaga kehormatan sebagai janda cukup lama. Ia tidak maksiat. Ia tetap bertakwa kepada Allah.

Bersambung

Semarang, 27 Januari 2019

Previous Older Entries