Panutan

Panutan
Oleh Agung Kuswantoro

Sikap Anda menunjukkan kepribadian Anda. Ada orang suka marah, mungkin sejak kecil diajarkan mudah marah oleh orang terdekatnya. Oleh karenanya, pilih ‘tokoh’ panutan.

Siapakah ‘tokoh’ panutan yang tepat dan ‘dekat’? Orang tua!

Saya selalu memperhatikan dan menyimak beberapa orang yang sukses. Sukses yang menurut saya, dimana ada unsur akhirat masuk.

Contoh-contoh panutan saat ini, menurut saya seperti Quraisy Shihab. Dari situlah, saya melihat peran Bapaknya yang sangat dominan.

Setiap habis Maghrib, Bapaknya menyampaikan materi agama. Bapaknya mengimani sholat maghrib, anak-anaknya menjadi makmum. Lalu, pembelajaran ‘keluarga’ dimulai.

Perhatikan pula, cara memilih sekolah. Quraish Shihab sejak kecil dipondokkan oleh orang tuanya. Pondok pesantren menjadi pilihan pendidikannya.

Tiap hari Jumat, saya selalu menyimak kolom ‘panutan’ di Suara Merdeka halaman 4. Setiap edisi, ada kiai yang menjadi tokoh teladan, misal, edisi Jumat (24 Januari 2020), ada ulama panutan yaitu Kiai Miftah Talang. Ia adalah Komandan Laskar Santri.

Kemudian, edisi sebelumnya ada Kiai Mustofa Ya’kub, asal Batang Jawa Tengah. Dan, beberapa kiai panutan lainnya. Menariknya, mereka kuat belajar akhlak dan ilmu-ilmu agama pada usia anak-anak.

Saya menjadi berpikir, pendidikan untuk anak itu, apa yang tepat? Beberapa referensi saya baca. Ada yang mengatakan potensi anak harus dikembangkan sejak dini. Khususnya usia tujuh tahun. Umuran SD. Sehingga, potensi dan bakat anak, akan muncul. Dan pasti ia akan sukses pada masa dewasa.

Model yang seperti itu, saya jadi berpikir. Nah, di mana memasukkan ilmu-ilmu agama pada usia anak-anak tersebut? Jika mereka dididik dan diasah bakatnya sejak kecil, maka menjadi wajar saat dewasa itu sukses. Namun, bisa jadi saat dewasa ia rapuh dalam karakter/akhlak.

Ada pula yang melalui pendidikan Madrasah dan pesantren. Akhlak dulu diajarkan. Kelak mau jadi apa, belum diasah bakat dan minatnya. Ia pasrah pada Allah. Karena rizki sudah diatur dan ditentukan. Yang penting, baik kepada Allah, Insya Allah, rizki akan dekat.

Makhfud MD. Ia tokoh hukum. Ia juga kiai. Kepakaran hukumnya, muncul setelah lulus dari Madrasah. Namun, ia kuat belajar tauhid, akhlak dan beberapa ilmu agama. Kuat keimanannya. Setelah kuat ilmu agamanya, ia baru menemukan jalan hidupnya ‘dijalur’ hukum.

Insya Allah, ia akan kuat keimanannya, karena bekal iman didapat sejak kecil. Saat menjadi pakar hukum, ia ‘membalut’ ilmu hukum dengan keimanan. Sehingga, ia termasuk orang yang menjaga akhlaknya. Ia termasuk orang yang menjaga keimanannya.

Ia memilih belajar akhlak dulu, baru menguatkan potensinya. Bekalnya ilmu-ilmu agama diajarkan saat anak-anak. Setelah itu ia menemukan jalan hidup/karirnya. Setelah dewasa kuat dalam agama dan sukses dalam karir. Waallahu ‘alam.[]

Semarang, 6 Februari 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: