Evaluasi Dakwah

Evaluasi Dakwah

Oleh Agung Kuswantoro

 

Layaknya dalam sebuah manajemen atas sesuatu yang telah dilakukan perlu dievaluasi. Bisa jadi tulisan ini adalah bagian dari evaluasi. Masuk tahun keenam dalam berjuang (baca: dakwah) di masyarakat, pada tahun ini (tahun 2020) perlu dievaluasi. Sebenarnya masih jauh dan layak, saya menggunakan istilah dakwah. Mungkin tepatnya, berjuang. Namun dalam tulisan ini, saya menggunakan kata ‘dakwah’ agar unsur Allah itu hadir.

 

Tahun 2013 saya mulai menempati rumah di Sekarwangi Gang Pete Selatan 1, Sekaran, Gunungpati, Semarang. Menurut saya, Masjid/Musolla di perumahan yang saya tinggali itu jauh, sehingga mau sholat lima waktu secara berjamaah itu susah.

 

Singkat cerita, dibangunlah Masjid Nurul Iman (dimana, awalnya akan dibangun Musolla). Saya ikut “andil”/terlibat dalam kepanitiaan dan pengurusan pembangunan Masjid hingga sekarang. Bahkan, Alhamdulillah dipercayai menjadi Imam sholat fardhu, Imam dan Khotib sholat Jumat, Imam dan Khotib Sholat Idul Adha, Imam dan Khotib sholat gerhana bulan, dan makmum.

 

Sebelum Masjid berdiri, untuk sholat tarawih, witir, dan tadarus dilakukan di halaman rumah Bapak Bahrul. Saya pun yang menjadi “penggerak” (baca:Imam) agar bisa terlaksana ibadah di bulan Ramadhan di daerah yang saya tempati.

 

Berlanjut, di rumah saya dibuat kajian sore untuk anak. Dimana, minimal anak saya sebagai santrinya. Lama-kelamaan, santri banyak, sehingga rumah saya tidak mampu menampung santri untuk pembelajaran.

 

Akhirnya, kajian anak berpindah ke Masjid. Selama pembelajaran di Masjid, ada misscommunication (baca:perbedaan pendapat) dengan beberapa pengurus Masjid terkait tempat kajian sore anak yang saya lakukan. Kemudian saya, mengontrak rumah khusus untuk kajian sore anak.

 

Dari situlah dibangun Madrasah Aqidatul Awwam, atas usul sosok masyarakat di Gang Pete Selatan dengan seizin RT dan RW. Semenjak Madrasah menempati gedung baru, Alhamdulillah sistem pembelajaran sudah “stabil” berjalan.

 

Pembangunan Masjid dan Madrasah, pelaksanaan sholat tarawih di halaman rumah Pak Bahrul, mengontrak rumah untuk khusus kajian anak, kajian-kajian agama Islam di Masjid dan kontrakan, kuliah tujuh menit usai sholat subuh dan magrib, dan kajian mahasiswa terkait materi fiqih adalah kegiatan-kegiatan selama enam tahun yang saya lakukan di sekitar tempat yang saya huni.

 

Evaluasi

Enam tahun berjuang membela agama Allah tidaklah mudah. Bukan banyaknya, orang yang pergi ke Masjid. Bukan banyaknya, orang yang ikut kajian. Bukan banyaknya, jamaah yang ikut mendengarkan kuliah tujuh.

 

Justru sebaliknya, perlawanan yang didapat. Bahkan, melakukan tindakan anarkis seperti mematikan meteran listrik saat kuliah tujuh menit.

 

Tidak hanya itu, tuduhan/fitnah pun muncul, seperti kajian anak bersifat bisnis. Padahal itu sosial. Tidak ada ‘model’ saya dibayar/digaji dalam mengelola Madrasah. Tuduhan yang ‘aneh-aneh’ pun sudah biasa yang saya dengar hingga sekarang. Namun, ‘aneh’-nya orang yang menuduh itu tidak pernah ke Masjid atau anaknya ikut dalam kajian sore anak.

 

Sekarang, fakta menunjukkan Masjid sudah ada, belum tentu masyarakat mau sholat lima waktu di Masjid. Kultum sudah ada, belum tentu jamaah mau duduk dan mendengar. Madrasah sudah ada, belum tentu santri aktif tiap hari hadir.

 

Keadaan ini tidak perlu saya risaukan, karena memang dakwah itu seperti itu. Namun, bagi saya ada waktunya dalam berdakwah. Tahun 2020 adalah separuh perjalanan saya berdakwah. Tak selamanya saya melakukan seperti ini terus. Tak selamanya, saya sehat. Tak selamanya, saya memiliki uang. Dan, tak selamanya pula, memiliki waktu luang untuk berjuang.

 

Puncak saya berjuang adalah pada tahun 2025, dakwah saya akan mulai berkurang. Berarti lima tahun lagi, saya akan mengurangi aktivitas berdakwah. Saya ingin fokus pada ibadah yang lainnya, seperti belajar ilmu ‘hakikat’ atau hati. Menjadi penting untuk saya untuk belajar ilmu itu. Sedangkan untuk sisi sosial, saya fokus pada pendirian pondok pesantren mahasiswa. Mahasiswa menjadi target saya, karena kondisi subjek/orang yang sudah terpilih.

 

Jika kondisi lima tahun lagi seperti ini, menurut saya faktor masyarakat yang menjadi kuncinya. Mereka menginginkan seperti itu yaitu tidak mau berubah. Artinya, masih belum mau untuk pergi ke Masjid untuk sholat wajib secara berjamaah. Atau, tidak adanya kajian-kajian agama Islam di Masjid dan Madrasah.

 

Sebelas tahun adalah waktu dalam berdakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah, sampai Nabi Muhammad SAW pindah/hijrah ke Madinah karena ajakannya ditolak oleh masyarakat Mekah. Sebelas tahun itulah, waktu yang saya gunakan dalam berdakwah di suatu tempat.

 

Sekarang yang kuatkan adalah ibadah sholat lima waktu di Masjid dan pembelajaran di Madrasah Aqidatul Awwam. Saya fokuskan dua tempat itu. Kajian-kajian, saya off-kan dulu. Bisa jadi, faktornya kurang dukungan jamaah/masyarakat atau pengurus itu sendiri.

 

Mungkin, saatnya saya diam dulu, terlebih mendekati bulan Ramadhan saya akan fokus pada ibadah untuk diri sendiri dan keluarga. Untuk Masjid menunggu “jawilan” dari masyarakat. Sedangkan, untuk Madrasah kajian sore buka puasa bersama tetap dilaksanakan, namun bertempat di Madrasah. Bukan di Masjid. Wallahu ‘alam.[]

 

Semarang, 13 Febrauri 2020

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: