Tidak Semua Inovasi Itu Diterima

Tidak Semua Inovasi Itu Diterima
Oleh Agung Kuswantoro

Kehadiran inovasi, bukan berarti menjadi suatu kebanggaan bagi setiap orang atau organisasi. Dalam tahap proses pengambilan keputusan inovasi, ada dua pilihan yaitu menerima dan menolak dari inovasi tersebut.

Menerima dimaknai dengan tetap menerima dan (bisa juga) berubah pikiran menerima/menolak. Sedangkan menerima dimaknai dengan terlambat menerima dan tetap menolak.

Contoh kehadiran e-learning. E-learning adalah inovasi. Berarti e-learning ini, ada yang menerima dan menolak.

Siapa yang menerima? Orang yang tertarik dengan perubahan dan kecepatan dalam mendapatkan informasi.

Lalu, siapa yang menolak? Yaitu orang yang sudah “mapan” dan “nyaman” dengan kondisinya.

Bagi yang menerima e-learning adalah sebuah anugerah. Namun, bagi yang menolak e-learning adalah musibah.

Lalu, bagaimana cara, agar bisa menerima bagi pihak yang menolak inovasi? Buatlah kolektifitas dalam bekerja. Buatlah kelompok kerja dalam menyelesaikan setiap masalah. Orang yang menolak, jangan “ditinggal”. Tetapi, diajak untuk bekerja dengan inovasi tersebut. Libatkanlah pihak yang menolak dalam satu tim kerja. Tujuannya, seiring berjalannya waktu, mereka bisa menerima inovasi tersebut.

Saya berdoa dan berharap, semoga Anda bukan termasuk kategori yang menolak inovasi. []

Semarang, 1 Oktober 2020
Ditulis di Rumah jam 21.00 – 21.15 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: