Difusi Inovasi

Difusi Inovasi
Oleh Agung Kuswantoro

Proses sesuatu yang baru itu, bisa jadi diterima dan ditolak. Pilihannya hanya ada dua, itu aja. Diterima dan ditolak. Diterima, karena telah membantu dan memudahkan bagi suatu lembaga/individu. Ditolak, karena telah menyusahkan dan merepotkan bagi lembaga/individu.

Nah, tinggal, Anda ada dalam kelompok mana? Semoga tidak dalam kelompok menolak. Sangat mungkin, ada dalam lembaga yang menolak sesuatu yang baru. Error dalam suatu lembaga/kelompok itu, pasti ada. Tidak semua orang hidup di dunia itu saleh/solehah/baik semua. Pasti, ada yang tidak baik diantara makhluk/ciptaan hamba Tuhan. Oleh karenanya, sebagai hamba Tuhan yang baik, kita seharusnya menerima sesuatu yang baru/inovasi.

Ada inovasi, ada difusi. Difusi adalah pembauran. Inovasi adalah pemasukan/pengenalan sifatnya baru. Difusi inovasi itu pembauran dari sesuatu yang baru. Difusi inovasi itu tidaklah mudah. Contoh mudah difusi inovasi adalah teknologi. Adanya HP itu inovasi dari telepon. Telepon memiliki kabel-kabel. Sedangkan, HP itu tanpa kabel. HP lebih fleksibel. Tapi, telepon itu terlalu besar, ukurannya. Dan, tidak bisa dibawa kemana-mana.

Kemunculan awal HP, jelas dibandrol dengan harga mahal. HP menjadi ancaman bagi perusahaan jaringan telepon. Ada orang yang suka dengan telepon dengan alasan murah dan suara jelas. Karena HP itu mahal, pulsanya dan nomornya panjang.

Singkat cerita, difusi inovasi sebuah HP berhasil diterima oleh masyarakat. Olek karenanya, agar inovasi bisa diterima harus membutuhkan strategi. Strategi dimulai dari komunikasi, teknik/taktik/strategi, inovasi, inovasi materi/kurikulum, inovasi dalam belajarnya, dampak inovasi individual, mengkategori karakteristik adopter, strategi difusi dalam organisasi, konsekuensi inovasi, analisis kegagalan dan keberhasilan dalam inovasi, dan faktor-faktor lainnya.

Jika Anda seorang pemimpin, maka harus belajar ini. Karena, Andalah yang mengantarkan sebuah inovasi di organisasi yang Anda pimpin. Dengan demikian, sebuah inovasi dalam suatu organisasi itu, sebuah keniscayaan untuk tidak ditolak. Namun, harus diterima, jika ingin organisasi Anda ingin tetap hidup dan eksis. Oleh karenanya, organisasi itu, harus ada sebuah inovasi.

Inovasi inilah yang dinanti oleh masyarakat dan pimpinan Anda. Karena dengan berinovasi, lembaga/organisasi akan tetap hidup. Anda adalah pelopor inovasi. Karena Andalah seorang pemimpin. Minimal, pemimpin diri sendiri. Jadi, berinovasilah dengan pekerjaan Anda. Dan, berdifusilah hasil “kebaruan” dari kerja Anda di lembaga Anda.

Jika ada yang menolak atas temuan “kebaruan” Anda itu, adalah suatu kewajaran. Dan, jika ada yang menerima atas temuan “kebaruan” Anda itu, adalah suatu dukungan buat Anda untuk memajukan lembaga Anda.

Jika bukan Anda, yang berinovasi dan berdifusi, lalu siapa lagi? Maukah lembaga/diri Anda “lenyap” karena tidak berinovasi? Ingat, Dinosaurus itu bisa punah, meskipun berbadan besar dan kuat. Ada satu faktor, mengapa Dinosaurus bisa punah dari bumi ini, karena Dinosaurus tidak bisa bertahan menerima suatu perubahan yang terjadi di bumi. Apakah Anda mau seperti Dinosaurus? Semoga tidak!

Pemalang, 7 Desember 2020
Ditulis di Pemalang, jam 02.00 – 02.20 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: