Bertanya: Mengapa di Hadist disebutkan “pukul”, sedangkan di Alquran disebutkan “berkata”?

Oleh Agung Kuswantoro

Bertanya: Mengapa di Hadist disebutkan “pukul”, sedangkan di Alquran disebutkan “berkata”?

Oleh Agung Kuswantoro

Saya adalah orang yang bodoh. Belum memahami suatu makna/ayat dengan dalam. Ada hal yang ingin saya tanyakan kepada (1) ahli tafsir, (2) ahli hadist, dan (3) pakar pendidikan anak.

Begini. Saat saya membaca Alquran, ada ayat yang menyebutkan: “Jangan berkata ah pada orang tua”. Demikian juga saat saya membaca hadist/keterangan dalam fiqih bab salat disebutkan bahwa: “pukullah anakmu, jika tidak salat pada usia 10 tahun”.

Menurut saya, kedua keterangan dari sumber yang berbeda itu, isinya tak setujuan/visi. Yang bersumber Alquran, saya menangkapnya bahwa Islam sangat menghormati orang tua.

Berkata kasar saja, itu tidak boleh. Apalagi melakukan tindakan buruk kepada orang tua. Berkata “ah” saja tidak diperkenankan bagi anak kepada orang tua.

Namun, sisi lain dengan objek yang berbeda yaitu anak, justru dengan tegas menyebutkan “pukullah” anak saat 10 tahun ketika tidak salat.

Pada hadist yang mengatakan “pukullah” itu tertuju kepada anak. Tidak tanggung-tanggung perintah yaitu pukul. Mengapa tidak menggunakan kalimat sebagaimana Alquran yaitu dimulai dengan perkataan halus, seperti “ah” pada orang tua.

Pendekatan yang digunakan dalam hadist tersebut bisa dikatakan kurang ramah anak. Kedua keterangan dari Alquran dan Hadist – saya sebagai muslim – meyakini sekali kebenarannya.

Saya penasaran sekali dengan cara pendekatan yang digunakan hadist tersebut. Jika saya melihat konsep komunikasi, maka bisa jadi itu kurang tepat. Dimana, anak langsung dipukul.

Namun, jika melihat fakta/fenomena yang ada, dimana usia anak 12-15 tahun itu saat sudah terbiasa meninggalkan salat, bisa jadi diingatkan oleh orang tuanya, malahan anak tersebut membentak ke orang tuanya. Orang tuanya dibentak oleh anaknya. Secara tenaga/kekuatan fisik, justru kekuatan anak lebih kuat daripada orang tuanya.

Lalu, semakin bertambah umur, jika anak sudah terbiasa anak meninggalkan salat, maka semakin mudah dan menjadi biasa untuk tidak melakukan salat. Itu fakta yang saya lihat disaat ini.

Barangkali dari para ahli ada yang bisa menjawab pertanyaan saya. Terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf, jika saya salah dalam menyampaikan pertanyaan ini. []

Semarang, 17 Januari 2021

Ditulis di Rumah jam 01.30 – 02.00 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s