Sistem Informasi Perkantoran

Sistem Informasi Perkantoran

Oleh Agung Kuswantoro

Apakah Anda memahami istilah “sistem? Jika memahaminya, istilah “sistem” melekat pada frasa/kalimat, apa? Coba, sebutkan!

Ya, betul ada istilah sistem pendidikan, sistem informasi, istilah jaringan, sistem-sistem lainnya.

Coba, buka makna sistem secara Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI, apa artinya? Silakan, buka dulu.

Jika sudah dibuka, mohon bacakan. Perwakilan, salah satu dari rombel ini untuk membacakan. Pahami dulu, maknanya. Lalu muncul pertanyaan, “Apakah sistem itu harus berteknologi?”

Silakan, jawab dan didiskusikan. Semisal, sistem itu tidak ada, apakah tujuan yang telah ditentukan bisa terwujud?

Selama ini, “Apakah Anda masuk dalam kategori sistem?” Jika ya, sistem apa yang Anda ikuti?

Nah, apa kaitan sistem ini dengan informasi dan perkantoran? Bacalah artikel-artikel dan buku-buku mengenai manajemen sistem informasi dan administrasi perkantoran untuk menjawab pertanyaan di atas. Selamat belajar. []

Semarang, 23 Maret 2021

Ditulis di Rumah, jam 05.00 – 05.10 WIB. Bahan/materi untuk penguatan konsep dalam matakuliah Sistem Informasi Perkantoran, Selasa (23 Maret 2021 jam 13.00 WIB).

Buku Yang “Bercahaya”

Buku Yang “Bercahaya”

sumber foto: dokumentasi penulis

Oleh Agung Kuswantoro

Entah apa yang terjadi dalam diri saya, saat membaca “buku” yang satu ini. Kesannya, memiliki “cahaya”. “Cahaya” dalam arti pemaknaan yang tiada habisnya. Seakan-akan buku itu “bertutur” dan memberikan petunjuk.

Bahkan, antara pembacaan saya yang pertama dan kedua pada “kalimat” (baca: ayat sama) itu menunjukkan perbedaan tafsir/makna. Setiap kali membaca, pasti menemukan suatu hikmah/motivasi/energi positif bagi diri saya.

Oleh karenanya, saya selalu membuka buku yang “bercahaya” tersebut tiap pertengahan malam. Minimal, usai salat qiyamul lail. Kalimat (baca: ayat) yang saya baca pun, tidak banyak. Hanya dua atau tiga kalimat/ayat saja. Selebihnya, saya memahami maknanya. Sehingga, saya memiliki banyak versi buku yang “bercahaya” tersebut. Termasuk, makna/tafsirnya.

Buku yang “bercahaya” tersebut diletakkan di tempat strategis. Ada di kamar, ruang tengah, samping TV, meja kantor, dan tempat-tempat lain. Tujuannya, agar saya mudah membacanya. Kapanpun dan dimanapun.

Selain itu, saya pun tertarik pada tafsir atau pemaknaannya. Sehingga, kitab tafsir atau buku terjemahan dari beberapa judul kitab/buku tafsir “bercahaya”, saya pun rutin membacanya setiap satu ayat tersebut dibaca. Satu ayat/kalimat dipelajari dari beberapa kitab/tafsir. Hasilnya, sangat menarik ketika memahaminya.

Target membacanya, bukan “khatam” atau “selesai” untuk membaca satu “buku”. Namun, lebih cenderung pemaknaan dan menerapkan apa yang dibaca. Ya, dinikmati saja. Termasuk, dalam membacanya. Kaidah tajwid, nahwu, sorof, bahasa, dan tafsirnya, saya coba untuk diterapkan dalam membaca dan memahaminya.

Dengan cara seperti ini, awal kehidupan saya – yang dibuka dini hari – menjadi lebih terbuka dan “padang” dalam menjalani hidup selama 24 jam pada hari itu. Memang sengaja saya “buka” awal kehidupan dengan membaca buku “bercahaya” tersebut. Tujuannya sederhana saja, yaitu agar mendapatkan petunjuk hidup.

Bisa jadi, tujuan hidup saya dengan Anda itu berbeda. Namun, minimal standar hidup saya itu jelas, yakni Tuhan selaku pengarang buku tersebut memberikan dorongan kepada saya agar selalu berbuat baik (baca:beramal salih). Lalu, hati saya—memiliki tempat berteduh dalam menjalankan kehidupan—yaitu bersandar pada Tuhan/Allah.

Sebagai orang yang bodoh dan “fakir” ilmu, saya berusaha untuk menghadirkan buku “bercahaya” tersebut dalam kehidupan. Alhamdulillah, orang tua saya sudah menuntun dan mengarahkan saya, agar bisa membaca buku “bercahaya” tersebut. Dasar waktu kecil itulah, saya kembangkan hingga saat ini.

Nah, tahukah Anda, “Apa nama buku “bercahaya” tersebut?” Coba tebak!

Ya, betul, buku tersebut adalah Alquran. Buku milik orang muslim dan mukmin. Bisa jadi, buku itu banyak, tapi sedikit yang membaca. Bisa jadi, buku ini, hanya dilihat dari jauh, tanpa dibuka dan dijamah.

Atau, bisa jadi di dalam Masjid, ada buku tersebut. Namun, tidak ada orang yang membuka. Yang membuka “buku” tersebut, belum tentu ada dalam Masjid, saat salat 5 waktu. Itulah hasil pengamatan saya, selama ini.

Mari, “hidangkan” buku “bercahaya” pada banyak tempat yang suci dan halal. Hadirkan buku tersebut di tempat strategis, seperti meja tamu, box mobil, tas bepergian, tempat umum, serambi tengah Masjid, dan dimanapun tempat yang terlihat jelas oleh mata. Tujuannya, agar kita mudah membuka dan membacanya.

Miliki dan belilah yang banyak jumlah buku tersebut, karena akan ditempatkan di banyak tempat. Cara seperti ini adalah cara sederhana agar kita mengingat Alquran untuk membaca, mempraktekkan/mengamalkan, dan menundukkan hati.

Yuk, lakukan saja. Jika bukan Anda yang notabene muslim yang cerdas, lalu siapa lagi yang akan melakukan? Andalah orang yang ditunjuk oleh Allah untuk membuka, memahami, dan mentadaburi/mengamalkan dari “isi” kandungan tiap ayat Alquran. Semoga Anda bisa! Amin. []

Semarang, 12 Maret 2021/26 Rajab 1442 H.

Ditulis di Rumah, jam 04.00 – 04.30 WIB, usai membaca buku “bercahaya”.

Menyambut Bulan Ramadhan

Menyambut Bulan Ramadhan
Oleh Agung Kuswantoro

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu.” (QS. at-Taubah:36).

Sebentar lagi, kita akan memasuki bulan Sya’ban 1442 Hijriah. Saat ini, tanggal 21 Rajab 1442 Hijriah. Sebelum berakhir bulan Rajab dan masuk bulan Sya’ban, mari kita saling mengevaluasi diri.

Ramadhan adalah bulan suci. Masuk bulan Ramadhan, harus persiapan dulu. Tidak bisa langsung seorang hamba/seseorang itu, masuk bulan Ramadhan. Karena itu, Alquran sudah tegas mengatakan puasa di bulan Ramadhan itu untuk orang yang beriman.

Sering dan banyak pula, ada orang Islam yang sehat, berakal, dan mampu saat bulan Ramadhan itu, tidak berpuasa. Oleh karenanya, sekali lagi untuk memasuki bulan Ramadhan harus persiapan.

Ramadhan itu ibarat sekolah terbaik. Orang yang masuk ke sekolah terbaik, harus dari “input” atau siswa yang terpilih. Ciri siswa, yang baik memasuki sekolah “Ramadhan” adalah beriman.

Lalu, muncul pertanyaan pada bulan Rajab ini, sudahkah kita menjadi pribadi yang beriman?

Pertanyaan di atas, hanyalah seseorang itu sendiri yang bisa menjawabnya. Namun, sebagai hamba Allah harus berusaha masuk ke “sekolah” Ramadhan. Salah satu usahanya, adalah berdoa dan membayar “hutang” puasa pada tahun sebelumnya.

Ada doa yang harus sering kita panjatkan sejak 1 Rajab yaitu Allahumma bariklana fi rojaba, wa sya’bana, wa balligna Romadhona, wa hasil maqosidana. Maknanya, kurang lebih: “Ya Allah, berikanlah keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban. Lalu, sampaikan (panjang umurkanlah) kami hingga memasuki bulan Ramadhan. Mudah-mudahan apa yang kami lakukan memiliki hasil yang tercapai.

Bacalah doa itu, tiap saat dan tiap waktu. Ini adalah amalan sederhana yang diajarkan oleh guru saya, waktu di pondok pesantren Salafiah Kauman Pemalang, dimana setiap salat, santri mengucapkan doa tersebut.

Orang bisa hidup, sehat, dan mampu melakukan aktivitas di bulan Rajab, namun belum tentu berkah. Ada seseorang yang rajin sholat malam, beramal baik, sedekah, dan ikhlas beribadah sejak sekarang agar berharap dipanjang umurkan memasuki bulan Ramadhan.

Sebaliknya, ada seseorang yang “cuek” dengan hidupnya. Lupa dengan Tuhannya yang telah memberikan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan. Tipe orang yang “cuek” jelas tidak masuk dalam kalangan “bariklana fi rojaba” (yang diberkahi di bulan Rajab).

Mari, mumpung bulan Rajab belum habis, refleksi dan evaluasi diri dulu, ibadah apa yang belum dilaksanakan? Hati, kita sudah suci atau belum? Sudah ikhlas belum kita dalam beribadah?

Kemudian, selain berdoa, yaitu “nyaur hutang” puasa Ramadhan pada tahun sebelumnya. Tugas lelaki sebagai suami adalah mengingatkan istri yang pasti haid tiap bulan dengan menanyakan ke istri: “Sudahkah puasa Ramadhan tahun 2020/1441 Hijriah “dilunasi” semua?” “Berapa hari yang belum dilunasi, hutang puasanya?”

Lelaki sebagai kakak dari adik yang berjenis kelamin perempuan (dewasa), mengingatkan tentang “nyaur puasa” sebelum Ramadhan tahun 2021/1442 H.

Sekali lagi, kita diberi Allah berupa kenikmatan, kesehatan, kesempatan hidup yang sama dengan orang lain. Namun, belum tentu kualitas ibadah seseorang itu sama. Kualitas jamaah satu dengan jamaah lainnya juga berbeda. Hanya Allah yang mengetahui kualitas ibadah hamba-Nya.

Jadilah, hamba yang mudah “menangis” hatinya karena merasa bersalah kepada Allah. Ia merasa kurang untuk beribadah, sehingga ia terus belajar menuju ilmu Allah. Hamba yang seperti itulah, biasanya sedikit bicara, karena ia sibuk mengoreksi diri sendiri. Bukan, mengoreksi kesalahan orang lain.

Demikian, tulisan sederhana ini, semoga Allah memberikan kesehatan, kesempatan, kemampuan, dan keberkahan di bulan Rajab untuk kita meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Amin. []

Semarang, 5 Maret 2021