Menjadi Guru Sejati Untuk Anak

Menjadi Guru Sejati Untuk Anak

Oleh Agung Kuswantoro

Tiap usai solat subuh, saya membiasakan kepada anak saya (Mubin dan Syafa) untuk Madrasah di rumah. Otomatis, gurunya adalah saya. Fokus materi yang saya sampaikan kepadanya adalah materi-materi dari Madrasah yang pernah saya terima dari Madrasah Hidayatussibyan Pemalang dan beberapa referensi (kitab) tambahan yang belum pernah saya dapatkan di Madrasah di daerah kelahiran saya tersebut. Untuk referensi tambahan, saya mencari kitab di toko kitab (Toha Putra Johar Semarang).

Sederhananya, seperti ini. Senin materinya fiqih dengan kitab Safinatunnajah, Selasa materinya tauhid dengan kitab ‘Aqidatul Awwam, Rabu materinya akhlak dengan kitab Akhlaqulilbanin, Kamis materinya tarikh dengan kitab Tarikhunnabi Muhammad, Jumat libur, Sabtu materinya Imla dengan kitab Belajar Kaligrafi Arab, dan Ahad materinya review dari semua materi yang telah disampaikan.

Waktunya tidak banyak dalam menyampaikan, sekitar 15 menit saja. Media yang saya gunakan adalah buku tulis untuk membuat bagan atau “corat-coret” dalam keterangan/penjelasan. Misal membuat silsilah Nabi Muhammad, arah cara menulis huruf hijaiyah, dan keterangan-keterangan lainnya.

Bagi saya, orang tua adalah guru sejati anak. Terlebih di masa Pandemi Covid-19 ini, dimana semua pembelajaran dilakukan secara zoom meeting/online. Salah satu kelemahan pembelajaran daring ini adalah hilang pengalaman belajar seperti santri/siswa tidak merasakan menulis, membaca dengan lantang, bersosialisasi dengan teman, dan berkomukasi dengan guru, dan pengalaman belajar lainnya.

Nah, jika tidak orang tua sebagai guru sejati untuk anak, lalu siapa yang akan menjadi guru (ngaji/madrasah) dimana madrasah/tempat ngaji masih tutup? Jika kita (baca:orang tua} belum mampu menjadi guru sejati karena belum mampu secara materi, menurut saya tidak masalah karena sumber belajar di masa teknologi yang canggih ini mudah didapat. Yuk, menjadi guru sejati buat anak-anak kita. Sekali lagi: “Siapa lagi, jika bukan kita?” Waallahu ‘alam. [].

Semarang, 4 Juli 2021

Ditulis di Rumah jam 05.05-05.15 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: