Berkurban di Masa Pandemi Tahun 2021

Berkurban di Masa Pandemi Tahun 2021

Oleh Agung Kuswantoro

Idul Kurban tahun 2021/1442 Hijriah ini—jatuh pada tanggal 20 Juli 2021/10 Dzulhijjah 1442—berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya perayaan Idul Kurban itu sangat ramai. Ada penyembelihan hewan kurban dan Masjid ramai.

Kondisi yang sepi karena kondisi masih pandemi Covid-19. Edaran pemerintah dan MUI/Majlis Ulama Indonesia mengatakan agar Masjid tidak menyelenggarakan solat Id, dikarenakan menimbulkan kerumunan. Demikian juga penyembelihan hewan kurban dilakukan harus ketat dengan protokol kesehatan.

Bagi saya keadaan tersebut bisa dimaklumi dan dipahami secara bersama, karena keadaan sedang susah, maka tidak masalah menerima kondisi seperti itu. Namun, beberapa kalangan masyarakat kondisi Idul Kurban yang “sepi” terasa tidak menerima.

Mereka menginginkan sama dengan tahun-tahun sebelumnya yang ramai. Jadi, mereka tetap menginginkan Masjid tetap ramai, kumpulan orang saat menyembelih tetap dilaksanakan, anak-anak kecil berkumpul saat penyembelihan juga tetap ada. Mereka melakukan sama sekali, tanpa ada unsur protocol kesehatan. Mereka tanpa menggunakan masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan.

Keadaan Idul Kurban yang seperti ini, menurut saya adalah ujian bagi orang yang beriman dan berilmu di tengah kalangan beberapa masyarakat yang masih berpikiran dan melakukan Idul Kurban yang “acuh tak acuh” atau “cuek” di masa pandemi Covid-19.

Lalu, bagaimana sikap kita yang tidak setuju dengan sebagian masyarakat tersebut? Diam saja. Ya, tetap tidak melakukan solat Id di Masjid, tetapi solat di rumah. Tidak datang ke tempat penyembelihan, karena banyak orang berkerumun. Intinya tetap menjaga diri, keluarga, dan masyarakat dengan taat protokol kesehatan.  

Doakan saja orang yang berbeda pendapat dengan kita agar kelak suatu saat menerima ilmu. Orang yang berilmu, pasti perilakunya berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Orang berilmu lebih cenderung menggunakan pikirannya. Tidak banyak bicara. Diam. Sehingga, saat berbeda dalam perayaan Idul Kurban bukanlah sesuatu yang lebih. Namun, dianggap biasa. [].

Agung Kuswantoro, dosen pendidikan ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang dan penulis buku pendidikan serta bertema sosial. Email: agungbinmadik@gmail.com. HP/WA: 08179599354.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: