“Vaksin” Literasi

“Vak

“Vaksin” Literasi

Oleh Agung Kuswantoro

Berteman, tak asal berteman. Berkumpul, tak asal berkumpul. Masih ingatkah kalimat bijak: ”berkumpullah dengan penjual minyak wangi. Jika Anda tidak membeli minyak wanginya, maka tetap akan berbau wangi.” Kurang lebih seperti itu, kalimat hikmahnya.

Saya merasakan betul, bahwa dalam berkumpul dengan orang tidak asal kumpul. Cek dulu, orang ada dalam kumpulan tersebut. Minimal, “berbau” ilmulah orang yang ada dalam kumpulan tersebut. Jika orang yang berkumpul itu tidak berilmu, maka “maksiat” atau “ucapan” tak bermanfaat yang ada dalam kumpulan tersebut.

Maaf, bukan berarti saya itu milih-milih teman. Tapi, lebih selektif saja dalam memilih seorang teman. Karena, teman akan mengantarkan akan ke arah kebaikan dan keburukan. Jadi, berteman bukan berarti ke arah kebaikan. Namun, sangat mungkin ke arah negatif. Bisa juga, seperti itu. Belum lagi, waktu yang hilang saat berkomunikasi/berkegiatan dalam pertemanan tersebut.

Beberapa hari yang lalu saya menerima 5 buku antologi dari komunitas “Sahabat Pena Kita”. Komunitas ini sangat “kuat” dalam berliterasi. Orang yang tergabung dalam komunitas ini memiliki kewajiban menulis setiap bulan (setoran wajib dan sunah). Jika diantara anggotanya tidak mengirimkan setoran wajib selama tiga kali, maka dikeluarkan dalam komunitas tersebut. Hasil kumpulan dari para anggota tersebut, dibukukan dalam sebuah karya buku.

Saya baca isinya dari buku yang saya terima itu bagus sekali. Pesannya dari masing-masing penulis memiliki gaya/karakter dalam menulis dan menyampaikan pesannya. Background/latar budaya, pendidikan, dan kemampuan tiap penulis sangat terlihat sekali.

Saya sebagai orang awam dalam berliterasi, melihat keadaan seperti ini menjadikan semangat untuk saya agar lebih banyak mambaca dan mempertajam menulisnya. Karena, membaca tanpa menulis itu tetap kurang. Membaca saja, itu ada yang kurang. Kurangnya, ditulis dari apa yang dibaca. Sedangkan menulis tanpa membaca, pasti tulisannya terasa “hambar” tanpa pesan yang “kuat”.

Melalui komunitas inilah kita akan mendapatkan “vaksin” antar teman. Melihat tulisan teman yang diposting di grup, menjadikan “cambuk” untuk membaca dan membuat tulisan. Jadi, alur/prosesnya bisa membaca dulu, baru menulis. Atau, menulis dulu. Baru, membaca. Terserahlah memilih yang mana, asal sinergi antara membaca dan menulis.

Komunitas literasi adalah “vaksin” bagi anggota untuk semangat menjaga budaya membaca. Mengingat budaya membaca pada masa serba digital dan video, menjadikan malas untuk membaca. Orang cenderung lebih suka melihat dan mendengar. Padahal, membaca itu awal dari sebuah kemampuan untuk menjadi pintar/pandai.

Lihatlah perintah Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw dimana perintah pertama dari wahyu yang turun adalah membaca, membaca, dan membaca. Tahapan membaca dulu. Dalam membaca ada yang namanya mengeja. Setelah bisa mengeja, baru membaca per kata, kalimat, paragrf, subjudul, judul, dan tema.

Dalam membaca pun ada keterampilannya. Sehingga, bagi orang yang sering atau banyak membaca, maka menjadi “lincah” dalam membaca dan mudah menangkap pesan yang telah dibaca. Kemudian dilanjut dengan keterampilan menulis. Untuk tulisan ini, saya  tidak membahas dalam keterampilan menulis.

Kembali lagi ke tema “vaksin”. Jadi begini, dengan adanya teman yang “selektif” atau berilmu menjadikan kita belajar menjadi orang yang berilmu pula. Ilmu pun harus selektif. Karena, ada orang yang hanya pandai bicara, tapi lemah mempraktikkan dari yang diucapkan.

Artinya: ada orang yang pandai menulis, tapi tidak sesuai dengan kemampuan yang ditulis. Bisa jadi, ia meminta “pihak” lain untuk menuliskannya. Berarti, kurang pas jika ada orang yang seperti itu. Menurut saya.

Jadi, karaker anggota dalam sebuah komunitas juga perlu dipahami. Jangan asal gabung ke sebuah komunitas saja, tanpa ada komitmen yang kuat. Karena orang yang seperti ini, jelas tidak akan mendapatkan “vaksin” literasi.

Singkat cerita, bergabunglah dalam sebuah perkumpulan yang dekat dengan  keilmuan. Hindari sebuah perkumpulan yang tidak berdasarkan ilmu. Pahami karakter masing-masing gaya membaca dan menulis tiap anggota perkumpulan tersebut. Pasti, Anda akan merasa malu, jika tidak aktif melakukan sebuah kegiatan yang ada dalam perkumpulan tersebut. Temukan “gaya”Anda dalam setiap tulisan/karya yang diposting/ditampilkan dalam perkumpulan tersebut. Saat Anda “malas” membuat tulisan/karya. Lalu, melihat tulisan orang lain dalam perkumpulan tersebut, muncullah perasaan untuk membaca dan menulis (baca:berkarya) berarti Anda sudah “divaksin” dalam perkumpulan tersebut. [].

Semarang, 1 Agustus 2021

Ditulis di Rumah, jam 11.00 – 11.30 WIB malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: