Bertemu Gus Ulil dan Gus Mus

Bertemu Gus Ulil dan Gus Mus

Oleh Agung Kuswantoro

Semenjak saya menikah dengan Lu’lu’ Khakimah yang berasal dari Sulang, Rembang (2012), menjadikan saya sering bolak-balik ke kota yang sangat santri tersebut. Ada yang tertanam dalam pikiran saya mengenai kota Rambang, bahwa kota tersebut banyak ulama yang mahir dalam membaca & menulis kitab kuning dan huruf pegon, serta mahir dalam hal keagamaan secara “kaffah”.

Saya yang berasal dari Pemalang yang notabene belum pintar dan masih ingin belajar, menjadi tertarik untuk menggali tokoh-tokoh Agama yang berasal dari Rembang. Sekitar sepuluh tahunan ini, saya tertarik dengan kedua tokoh yaitu Gus Mus dan Gus Ulil.

Ada beberapa tulisan yang pernah saya tulis mengenai kedua tokoh tersebut diantaranya:

https://agungbae123.wordpress.com/2017/03/10/gus-mus-luar-biasa/; https://agungbae123.wordpress.com/2017/06/23/bertemu-mustofa-bisri-dan-ulil-absor/; dan https://agungbae123.wordpress.com/2021/12/28/model-tasawuf-kajen-yang-menghadirkan-solusi/

Setiap kali saya pulang ke Sulang, Rembang saya mengusahakan saat solat Jumat di Masjid Agung Rembang. Dalam tulisan di atas, saya menuliskan: pernah melihat Gus Mus saat solat Jumat di Masjid Agung Rambang, saya pernah ke pondok pesantren dan bertemu dengan santri yang diasuh oleh Gus Mus untuk membeli buku-buku karya Gus Mus, dan saya pernah ke toko kitab/buku di Jalan Kartini—yang dikelola oleh Pak Naf’an—membeli buku-buku/kitab-kitab karya KH Bisri Mustofa.

Jumat kemarin (29 April 2022), atas izin Allah Swt saya melihat kedua tokoh “idola saya” (lagi) yaitu Gus Mus dan Gus Ulil di Masjid Agung Rembang saat Jumatan. Saya Jumatan bersama kedua anak saya (Mubin dan Syafa). Saya menyampaikan ke Mubin, bahwa ada kedua guru Abi yang biasa diikuti di Facebook dan Youtube yang ngajari kitab “Kasidah Burdah” dan “Ihya Ulumuddin”.

Saya termasuk Santri Online (SO) yang dikelola oleh Mba Admin (Mba Ienas Tsuroiya). Saya Alhamdulillah aktif mengikuti tulisan Gus Ulil yang ada di Kompas dan buku-buku terbitan Mizan. Saya kagum dengan kepandaian “Pak Lurah” dalam menyampaikan pesan agama dengan kritis dan mendamaikan.

Entah kenapa, pada hari itu (Jumat) saya memberanikan diri untuk menemui Gus Ulil untuk bertemu. Karena saya “merasa” SO beliau. Beliau adalah guru saya, maka sebagai santri harus menemui dan menghormati untuk bertemu dan salaman. Ternyata, Allah memberikan kemudahan dalam saya bertemu Gus Ulil. Saat saya menghampiri dan mengatakan saya SO-nya, beliau langsung merespon. Namun untuk menemui Gus Mus, saya tidak memberanikan diri untuk salaman, karena Gus Mus orang yang hebat, jadi saya tahu diri. Sebenarnya saya mau, tapi tahu posisilah.

Saat saya sedang berkomunikasi dengan Gus Ulil datanglah Gus Mus yang usai solat Jumat. Saya pun hanya “merundukkan kepala” atau “ndingkluk” sebagai wujud takzim kepada Guru. Dalam hati ingin salaman, tetapi tidak berani. Tahu dirilah, siapa saya.

Alhamdulillah ya Allah, ternyata cita-citaku terwujud pada tahun ini agar bisa bertemu Gus Mus—walaupun belum salaman (apalagi berfoto) dan bertatap secara langsung kepada Gus Ulil – yang selama ini—hanya melalui Facebook. Dalam pertemuan yang sekejap, hanya 3 menitan itu saya bisa berkomunikasi dengan Gus Ulil dan berfoto bersama. Ramah orangnya: malah ngajak tidak pakai masker. Ahamdulillah dalam hati saya, jadi jelas fotonya (foto ada di gambar).

Samoga pertemuan ini bisa berlanjut dalam kajian-kajian yang disajikan/disampaikan oleh Gus Mus dan Gus Ulil secara langsung di rumah saya atau di organisasi/lembaga yang saya ikuti di Semarang. Amin. [].

Ditulis di Rembang, 30 April 2022 jam 04.30-04.55 Wib.

Khataman Kitab ‘Aqidatul ‘Awwam

Khataman Kitab Aqidatul Awwam
Oleh Agung Kuswantoro

Ngaji puasanan ini, saya bersama teman-teman di Masjid Ulul Albab (MUA) belajar kitab Aqidatul Awwam. Kajiannya, usai salat Subuh dan pembacaan surat al-Waqiah.

Kajian dimulai sejak tanggal 1 Ramadhan 1443 Hijriyah ini, Alhamdulillah pada tanggal 24 Ramadhan 1443 Hijriyah khatam. Saya sebagai orang yang terlibat secara langsung dalam belajar tersebut, merasa sangat senang. Yang belajar bersama pun istikamah. Ada “mas-mas” takmir dan beberapa jamaah lainnya yang konsisten mengikuti kajian ini.

Tanggal 25-26 Ramadhan 1443 Hijriyah, saya berencana hanya nadhoman saja dari kitab Aqidatul Awwam.

Ada 57 bait/siir dalam kitab Aqidatul Awwam. Semoga mengaji kita mendapat berkah dari pengarang kitab ini, yaitu Sayyid Ahmad Marzuki. Alfatihah. []

Semarang, 26 April 2022
Ditulis di Rumah jam 16.30 – 16.45 Wib.

Berikut nadhoman kami: https://youtu.be/4i1JfoWwTNg

Seni “Menata” Hati

Seni “Menata” Hati
Oleh Agung Kuswantoro

Adalah Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA – Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta – yang mampu menyampaikan dan mempratikkan dari ilmu hati. Bagi orang awam, ilmu “menata” hati bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan sebuah kesadaran hati dan pikiran terlebih dahulu agar terpanggil dirinya menjadi pribadi yang salikin.

Kriteria salikin – (baca: bagus/baik) itu tergantung subjek yang menilai dari sebuah objek. Dalam konteks ini yang menilai adalah Allah, sehingga keimanan (baca: hatilah) yang dinilai oleh Allah. Bukan, penilaian fisik atau material dari sebuah objek.

Puncak “menata” hati adalah hidup menjadi salikin. Artinya: hidup yang baik. Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA memberikan tips agar hidup menjadi salikin yaitu dengan (1) menata hati; (2) menjaga hati; (3) meningkatkan iman; (4) berdamai dengan keadaan; (5) membawa kemaslahatan.

Pertama yang harus dilakukan oleh manusia agar hidup lebih salikin adalah niat. Niat adalah sifat kalbu, sedangkan perbuatan bukanlah sifat kalbu. Niat merupakan konsep matang dan penuh kesadaran diri dalam diri tentang suatu perbuatan yang dilakukan (hal. 2).

Misal: pentingnya, sebuah niat dari suatu perbuatan hubungan suami-istri/seksual yang berdampak pada perbuatan. Janganlah selalu menyalahkan tawuran remaja. Cobalah cek dari awal penciptaan remaja tersebut yaitu: orang tuanya, “Apakah telah melakukan niat dalam proses penciptaan awal/remaja tersebut?” Sehingga, niat inilah yang membedakan antara perbuatan manusia dan hewan.

Hewan dalam melakukan sesuatu itu, tanpa niat. Termasuk dalam perbuatan seksualitas. Sebagai manusia yang beragama, berislam, dan beriman dalam berhubungan badan/seksualitas harus niat. Jangan asal melakukan perbuatan seksualitas.

Jika manusia tersebut melakukan perbuatan tanpa niat, maka manusia tersebut “persis” seperti perbuatan hewan. Oleh karenanya, sangat tepat sekali, dalam kitab Arbain Nawawi hadist pertama mengatakan: “Sesungguhnya nilai amal itu ditentukan oleh niat dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan (balasan) sesuai dengan niatnya” (HR. al-Bukhori dan Muslim).

Setelah niat yang kuat untuk menjadi diri yang baik, langkah selanjutnya adalah meninggalkan beban hati dengan cara memasrahkan segala urusan dunia kepada Allah; hati diajak lebih “lembut” dalam menyikapi sebuah kehidupa;, rasa “cemas” terhadap suatu permasalahan harus mulai “dihapuskan”; “menanamkan” rasa rido Allah; dan merutinkan zikir adalah salah satu cara menjaga hati agar manusia lebih baik.

Puncak dari manusia yang salikin memiliki ciri: bersikap deramawan; berkata jujur; komunikasi santun; mengontrol pembicaraan; memuliakan tamu; menghindari tamak; dan menegakkan amar makruf (hal 231).

Melalui tahapan demi tahapan tersebut diharapkan kita termasuk manusia yang menjadi salikin. Bisa jadi, kita adalah manusia yang “biasa”. “Biasa” dimata Allah dan manusia. Namun, dengan kesadaran dan ketulusan hati akan perbaikan diri yang lebih baik. Insya Allah kita termasuk manusia yang salikin itu. Amin. [].

Semarang, 6 April 2022
Ditulis di Rumah jam 20.30 – 21.00 WIB

Menjaga Kearifan “Lokal” Saat Ramadhan

Menjaga Kearifan “Lokal” Saat Ramadhan
Oleh Agung Kuswantoro

Indonesia adalah negara yang “kaya” akan sebuah kebudayaan. Termasuk, budaya dalam menyambut bulan Ramadhan.

Ada kebudayaan lokal yang melekat di pesantren yaitu budaya ngaji kitab saat bulan Ramadhan. Menurut saya budaya tersebut termasuk budaya lokal khas pesantren yang perlu dilestarikan.

Saya coba untuk “menjaga” dan “mempertahankan” budaya tersebut dimana pun berada. Saat ini, di Semarang, saya usahakan “menjaga” budaya tersebut.

“Ngaji” adalah sebuah budaya yang harus dipertahankan. Ngaji yang saya maksudkan adalah ngaji kitab. Guru (baca: Ustad) akan membacakan isi kitab, lalu santri mengabsahi (baca: menulis makna) dari yang dibacakan oleh Guru.

Empat tahun (2017-2020) saya melakukan hal tersebut di Masjid Nurul Iman, Gang Pete Selatan 1, Sekaran dengan kitab Safinatunnajah al-Barzanji, tafsir Yasin, Fathul Mu’in dan Taqrib.

Sekarang (2022) di Masjid Ulul Albab (MUA) usai sholat Subuh, saya ngaji kitab ‘Aqidatul ‘Awwam. Saya ngaji bersama jamaah yang lainnya. Ngajinya simpel, sederhana, dan singkat, yang terpenting materi tersampaikan dan ”mengena” bagi jamaah.

Muncul pertanyaan: “Sampai kapan saya “ngaji” seperti ini?” Jawabnya: Bisa jadi, sampai meninggal dunia. Karena, dengan mengaji saya menjadi tahu dan belajar. Melalui membaca, saya jadi memiliki pengetahuan dan referensi untuk bahan menulis.

Ulama kita mengajarkan untuk membaca kitab. Syukur, menulis/mengarang kitab. Karena, melalui karya ulama – kita kelak – akan menjadi “warisan” kepada generasi berikutnya.

Pertahankanlah, kearifan lokal seperti ini. Terlebih di bulan Ramadhan. Karena, bulan Ramadhan adalah bulan membaca “kitab” dan al Qur’an. Harapannya dengan cara seperti ini, kita akan lebih dekat kepada Allah. Amin. []

Semarang, 22 April 2022

Menemukan “Masjid”

Menemukan “Masjid”
Oleh Agung Kuswantoro

Ramadhan 1443 Hijriah ini, saya banyak melakukan ibadah di Masjid Ulul Albab (MUA) Kampus UNNES, Semarang. Tarawih hampir dikatakan sering dilakukan di MUA. Demikian juga, sholat Subuh berjamaah, juga dilakukan di MUA.

Saya dapat “amanah” dari Allah untuk memimpin solat Subuh, membaca surat al-Waqiah, dan kajian KItab Aqidatul Awwam secara singkat. Untuk solat tarawih dan penyampaian kultum juga dapat tugas, namun tidak tiap malam.

Saya bersyukur bisa berjumpa dan “menemukan” banyak Masjid. Saya memang “suka” Masjid. Terlebih di bulan Ramadhan ini, Masjid seperti rumah. Masjid sebagai tempat kembali.

Di dalam Masjid, pasti banyak orang. Nah, disinilah “kedewasaan” dan “keilmuan” kita harus “ditonjolkan” agar ada penghormatan. Jangan sampai ada Imam diatur-atur oleh orang tertentu. Tidak etis. Jika itu terjadi.

Mari cari dan temukan Masjid. Bisa jadi, Masjid yang terbaik itu ada di Surga. Dan, semoga Masjid yang kita tempati ini, menjadi “kapal” menuju Surga. Amin.[]

Semarang, 12 April 2022
Ditulis Di Kantor UPT Kearsipan UNNES jam 09.30 – 09.45 WIB.

“Mengarsip” Perbuatan Baik di Dunia, “Temu Kembali” Arsip di Akhirat

“Mengarsip” Perbuatan Baik di Dunia, “Temu Kembali” Arsip di Akhirat
Oleh Agung Kuswantoro

Barangsiapa yang berbuat kebaikan (sebesar biji dzaroh), niscaya dia akan meihat (balasan)nya, dan, barangsiapa yang berbuat kejahatan (sebesar biji dzarroh), niscaya, dia akan melihat (balasan) nya pula (QS. al-Zalzalah: 7-8).

Ayat di atas, menunjukkan bahwa salah satu sikap orang yang beriman. Orang yang beriman pasti memiliki arsip (baca: amalan) baik saat di dunia. Bahasa Quraisy Shihab, menyebutnya, kebajikan.

Baik dalam hal ini, ada di mata Allah. Baik dimata Allah ini ada dua kategori yaitu kebaikan secara ubudiyah/mahdoh dan kebaikan sosial/muamalah/goiru mahdoh.

Contoh sikap kebajikan (baca: arsip di dunia) adalah sholat yang khusyuk (QS.al-Baqoroh: 45-46) dan berpuasa (QS. al-Baqoroh:183). Jika sholat dilihat secara fikih itu, termasuk syarat bagi orang muslim. Tetapi, sholat orang khusyuk itu, termasuk pilihan bagi orang yang beriman. Demikian juga, berpuasa itu untuk orang yang beriman, sedangkan syarat berpuasa itu untuk muslim.

Imam Al Ghozali mengatakan: khusyuk adalah buah dari keimanan dan keyakinan yang timbul dari kesadaran akan keagungan Allah. Buah dari khusyuk adalah selalu menyadari pengawasan Allah, merasakan keagungannya, dan mengakui kelemahan diri.

Begitu pula sebaliknya, dengan menyadari pengawasan Allah, merasakan keagungannya, dan mengakui kelemahan diri, maka tumbuhlah sikap khusyuk. Dan itu terjadi tidak hanya di dalam sholat.

Memaafkan kesalahan orang lain itu, baik. Tetapi tidak cukup memaafkan bagi orang beriman. Mengikhlaskan itu, milik orang beriman. Sholat wajib itu orang muslim, tetapi rutin sholat tiap malam untuk sholat tahajud itu milik orang beriman.

Jadi, yang dimaksudkan “arsip” disini adalah perbuatan baik/kebajikan. Jika ada amalan buruk, lebih baik dimusnahkan atau dibuang saat didunia dengan jalan istighfar dan taubat, sebagaimana firman Allah: “Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. an-Nisa: 110).

Lalu, siapa yang mencatat atas “arsip” kita di dunia? Malaikat. Malaikat adalah teman orang beriman. Malaikat yang baik itu tidak rela, jika “temannya” masuk neraka. Karena, tiap perbuatan baik dicatat olehnya.

Dari beberapa keterangan disebutkan bahwa: dalam diri manusia ada Malaikat Rokib, Atib, Basyir, Mubasyir, dan Malaikat Khafadoh.

Misal: Nabi Muhammad Saw – waktu remaja – sering dilindungi oleh Malaikat dari panas dan dilindungi agar tidak ke Syam/tempat tertentu karena di tempat tersebut ada orang yang melukai—bahkan, akan membunuh—Nabi Muhammad Saw.

Dalam hadist ke-2 dari Arbain Nawawi disebutkan pula: Malaikat menjelma dalam bentuk manusia laki-laki dengan pakaian yang sangat putih dan wajahnya tidak menampakkan jejak-jejak perjalanan. Lelaki tersebut bertanya Imam, Islam, dan Ihsan kepada Nabi Muhammad Saw.

Dengan demikian, Malaikat itu sangat dekat dengan orang beriman. Lalu, perbuatan buruk yang tidak dijadikan “arsip” oleh manusia itu, berteman dengan setan.

Setan suka dengan “keramaian” atau “kerumunan” dimana dalam tempat tersebut ada: ucapan kotor, bohong, menganiaya, khiyanat, dan perbuatan buruk lainnya.

“Arsip” orang beriman kelak akan dibuka di Akhirat, dan akan diarahkan ke “depot” Surga. Jadi, saat di dunia, “mengarsiplah” kebajikan yang sebanyak-banyaknya untuk dibuka di Akhirat. Akhirat adalah alam terakhir. Akhirat adalah pilihan yang tepat bagi orang beriman. Akhirat menjadi tujuan setiap orang untuk membuka “arsip-arsip” di dunia. Semoga kita termasuk orang yang akan membuka “arsip” tersebut dan Allah mengizinkan kita masuk di surga-Nya. Amin. []

Semarang, 13 April 2022
Ditulis di Rumah jam 06.00 – 06.20 WIB

Catatan: Rencana materi akan disampaikan pada Kajian Islam di FIP UNNES jam 09.30 – selesai secara zoom meeting, Kamis (14 April 2022).

Menjaga Spirit Literasi

Gambaran materi besok.

“Menjaga” Spirit Literasi
Oleh Agung Kuswantoro

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan; Dia telah menciptakan manusia dari segumpal tanah; bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia” (al-‘Alaq 1-3).

Ketiga ayat diatas adalah sebuah ayat yang memerintahkan agar manusia untuk berliterasi. Literasi yang paling awal atau termudah adalah membaca.

Ada beberapa tahapan dalam literasi yaitu membaca, kemudian menulis. Bukan, menulis yang awal, tetapi membacalah yang awal.

Muncul pertanyaan dari ayat tersebut di atas yaitu: “Apa yang saya baca?”. Pertanyaan tersebut muncul, karena yang bersangkutan belum bisa membaca. Atau, belum memahami yang akan dibaca. Ada istilah “ma ana bi qori? La adri”. Maksudnya adalah: “Apa yang saya baca? Saya tidak tahu.”

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa untuk masuk tahap membaca saja, bukanlah hal yang mudah. Artinya” harus ada kesadaran mencari ilmu atau informasi melalui membaca. Dengan membaca, akan menjadi tahu.

Rendahnya, minat baca disebabkan oleh banyaknya jenis hiburan, tayangan TV dan internet yang mengalihkan perhatian anak dari suka membaca (Sinaga, 2018). Selain itu, ada faktor generasi serba instan, penggunaan gadget; dan pengaruh sosial media yang menjadi faktor rendahnya minat baca juga (Deepublish, 2021).

Ada beberapa trik agar minat baca bertumbuh, yaitu:

  1. Bentuklah komunitas literasi. Biasakan untuk bertukar informasi buku sebagai hadiah. Atau menulis satu tema yang harus “disetorkan” dalam komunitas tersebut selama waktu tertentu. Dengan adanya kewajiban “setor” tulisan, maka seseorang akan membaca banyak referensi.
  2. “Ngemil” membaca. Membaca itu, tidak harus banyak halaman atau satu buku “habis”. Cukup beberapa halaman saja, kemudian dipahami/dipikir, lalu “diolah” menjadi sebuah tulisan. Dalam mengolah menjadi sebuah tulisan, jika rujukan/referensinya berkurang, maka “menambah” bacaan dari referensi lainnya.
  3. Membuat event/kegiatan berupa bedah buku atau “mendongeng” dari buku tiap 3 atau 6 bulan sekali dari buku atau tema yang sedang trend. Tujuannya: mendapatkan informasi dari rasa keingintahuan yang segera didapat.
  4. Perbanyak “taman baca” di lingkungan. Misal: Per RT, ada satu “taman baca” dengan memanfaatkan pemberdayaan PKK/Karangtaruna sebagai pengelola.
  5. Bangun “pojok literasi” di setiap tempat. Ada ruang di suatu tempat yang menyediakan bacaan/buku. “Pojok” atau ruang tersebut strategis dengan buku yang uptodate, sehingga menarik orang untuk membaca.
  6. Buku-buku harus uptodate sesuai dengan tema kekinian yang didukung oleh pemerintah atau pihak terkait. Pengadaan buku sangat penting agar buku yang disajikan sesuai dengan perkembangan zaman.
  7. Perlu meluangkan waktu untuk membaca di lingkungan keluarga. Misal” habis Maghrib agar orang tua mendampingi anaknya untuk membaca buku atau kitab suci.
  8. Perlu dukungan semua pihak, misal sekolah/pendidikan agar selalu memberikan umpan balik dari setiap tugas yang diberikan kepada siswa atas referensi yang digunakan. Misal: meresume suatu materi atau meringkas suatu tema dari buku.
  9. Perlu kerjasama antara pemerintah dan penerbit buku agar masyarakat mudah mencari buku sebagai referensi yang dibutuhkan. Bisa juga, kerjasama dalam pendanaan buku penerbitan agar masyarakat mudah dalam mendapatkan bahan bacaan.
  10. Memaksa diri untuk membaca tiap hari minimal 30 menit. Setelah membaca, buatlah catatan “kecil” agar ilmu/informasi yang didapat lebih “mengena” berupa tulisan. Pesan dari yang dibaca menjadikan tidak lupa dengan cara menulis.

Cobalah lakukan dari kesepuluh tips di atas, agar kita bisa “menjaga” spirit literasi. Ingat literasi/membaca adalah bagian dari ibadah agar pandai/berilmu. Dengan membaca, minimal jadi paham/mengetahui. Lalu, dalam membaca itu, jangan hanya sekali, tapi minimal dua kali. Renungkanlah dari apa ysng sudah dibaca, lalu tulislah. Insya Allah dengan cara seperti ini, kita akan menjadi pribadi yang berilmu. Amin. []

Semarang, 9 April 2022
Ditulis di Rumah, jam 21.30 – 22.30 WIB.
Materi rencana akan disampaikan di Hotel Alana Solo saat diskusi dengan “wakil” rakyat/Komisi D Kota Semarang, tanggal 10 April 2022 jam 09.00 – 12.00 WIB

Nikah (6): Memandang Kepada Perempuan

Nikah (6): Memandang Kepada Perempuan

Oleh Agung Kuswantoro

Setelah belajar memandang perempuan baligh dan perempuan anak kecil https://agungbae123.wordpress.com/2022/03/20/nikah-5-bagaimana-memandang-perempuan-yang-hampir-baligh-dan-memandang-anak-perempuan-kecil/ kita sekarang belajar memandang kepada perempuan.

Muhrim artinya yang harus dijaga, tidak boleh nikah, maka keduanya bagaikan dua orang laki-laki yang bersentuhnya tidak membatalkan wudlu, baik muhrim nasab, mushaharah atau susuan.

Laki-laki melihat seluruh badan laki-laki lain kecuali antara pusat sampai kedua lutut. Hukumnya boleh, tidak ada perselisihan. Juga tidak ada perselisihan tentang haramnya melihat gadis dengan syahwat sebab (gadis) merupakan haram yang paling utama dalam melihat wanita yang dirasa membawa fitnah, juga melihat muhrim dengan syahwat hukumnya haram.

Apabila melihatnya (dirasa) tidak membawa fitnah – menurut Rafi’i – hukumnya boleh.  Melihat muhrim tanpa syahwat, tetapi dirasa menimbulkan fitnah – menurut Jumhur – hukumnya haram.

Imam Nawawi berpendapat – yang tersebut dalam syarah Muhadzdzab – melihat gadis hukumnya mutlak haram. Yang dimaksud “mutlak”, melihat baik dengan syahwat atau tidak.

Melihat seorang perempuan kepada perempuan lain, hukumnya sama dengan melihat laki-laki kepada laki-laki lain denmikian juga melihatnya muslimat kepada muslimat lain. Kalau perempuan kafir melihat perempuan muslimat, hukumnya diperselisihkan, yang benar sama dengan muslimin.

Semua yang tidak boleh dilihat ketika masih melekat (menjadi satu dengan tubuh), seperti: kemaluan, dan lain-lain juga tidak boleh dilihat ketika sudah lepas dari tubuh. Maka orang laki-laki yang mencukur rambut kemaluannya dan perempuan yang nyisir rambutnya, hendaklah ditutupi.

Apabila haram melihatnya (anggota tubuh), haram menyentuhnya sebab lebih lezat. Maka laki-laki haram menyentuh paha laki-laki lain dengan tanpa sebab. Walaupun tidak haram memandang muhrim, tetapi menyentuhnya haram, sehingga seseorang tidak boleh menyentuh perut atau punggung ibunya, memijit kaki atau mencium mukanya hukumnya haram.

Juga, orang laki-laki tidak boleh menyuruh anaknya atau saudaranya perempuan untuk memijit kakinya. Qadli Husein  berpendapat: perempuan tua yang menghiasi mata laki-laki di hari Asyura, hukumnya haram.

Orang laki-laki tidur bersama-sama (satu bantal) dengan laki-laki lain hukumnya haram, demikian juga wanita dengan wanita lain, meskipun hanya dekat saja. Demikian pendapat Rafi’i yang diikuti oleh Nawawi. Wallahu ‘alam.

Semarang, 6 April 2022

Ditulis di Rumah, jam 05.00-05.20 WIB.

Sumber rujukan: Kitab Kifayatul Akhyar.