Mulia Darimana Kita Berliterasi?

Mulai Darimana Kita Berliterasi?
Oleh Agung Kuswantoro

Dari beberapa kesempatan saya diajak sebagai pembicara-peserta, penulis-pembaca terkait literasi. Saya memaknai literasi disini yaitu kegiatan membaca dan menulis.

Dari kegiatan yang saya ikuti, muncul sebuah pertanyaan besar, yaitu: “Mulai darimanakah kita berliterasi?”

Jika saya seorang kepala rumah tangga, maka saya menjawab bahwa literasi berawal dari keluarga (Bapak/Ibu). Jika saya seorang kepala daerah, maka saya menjawab bahwa literasi berawal dari ketua Pembinaan Kesejahteraan Keluarga/PKK. Dan, jika saya seorang kepala sekolah, maka saya menjawab bahwa literasi berawal dari Perpustakaan.

Saya kumpulkan jawaban tersebut yaitu Bapak/Ibu, ketua PKK, dan kepala Perpustakaan. Lihatlah ketiga sosok di lingkungan Anda tersebut: “Apakah sudah berliterasi?” Jika belum ketiga sosok tersebut itu berliterasi, maka susah untuk mewujudkan awal sebuah literasi. Mengapa? Karena orang mau membaca/menulis harus melihat tokoh/sosok terlebih dahulu.

Ingat Nabi Muhammad Saw – sorang manusia – yang pertama kali memulai literasi pada usia 40 tahun dengan perintah membaca (iqro), itupun “agak” kesusahan pada awalnya. Kemudian “dituntun” oleh (malaikat) Jibril. Malaikat Jibril adalah sosok yang mengajari nabi Muhammad Saw untuk berliterasi.

Sama halnya di lingkungan kita. Harus ada “sosok” Jibril yang mengajak berliterasi. Ketiga sosok itu (Bapak/Ibu, ketua PKK, dan kepala Perpustakaan) yang mengajak seseorang berliterasi pertama.

Tidak mungkin, seorang anak tiba-tiba mau membaca buku. Harus ada contoh dan “bujukan” atau ajakan dari bapak/Ibu. Tidak mungkin pula, dalam satu RT/RW ada warganya yang tiba-tiba membaca novel, tanpa difasilitasi koran, buku, dan “rumah baca” di tiap Dusun/Desa. Demikian juga tidak mungkin sekolah tiba-tiba siswanya mau giat membaca dan menulis, tanpa ada program inovasi dari kepala Perpustakaan dalam membangun “literasi digital”.

Itulah pendapat saya mengenai “keprihatinan” dari negeri kita dan lingkungan sekitar yang minim berliterasi. Mari kita mulai berliterasi. Mulailah dari diri, keluarga, lingkungan sekitar dan lingkungan pendidikan. Bacalah buku agar kita tidak “terpancing” dengan dengan sebuah informasi yang belum tentu benar. []

Semarang, 12 Mei 2022
Ditulis di Rumah jam 05.00 – 05.30 Wib.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: