Pensil

Pensil
Oleh Agung Kuswantoro

Apakah Anda pernah melihat dan memiliki pensil? Saya yakin pernah melihatnya. Mari perhatikan pensil tersebut. Ada apa saja? Kayu dan isi pensil. Lalu, saat pensil itu tak tajam ujungnya, maka saat menulis, kita akan kesusahan. Oleh karenanya, perlu dipertajam biar menulisnya mudah.

Dari cerita di atas, mari simak beberapa nilai yang melekat. Pertama, perlu sengsara/sakit dulu, agar hidup itu berguna untuk sesama.

Pensil itu dipertajam dengan silet/karter. Rasanya bagi pensil itu sakit. Itu sudah pasti. Namun, percayalah setiap kesakitan itu, tidak melebihi kadar kemampuan kita menahannya. Bukannya Allah itu tidak membebani suatu permasalahan lebih dari kemampuan hambanya?

Kemudian, didalam diri pensil itu ada kayu. Artinya jika ingin sukses, libatkanlah orang lain dalam hidup Anda. Anda tidak hidup sendiri.

Pensil berguna untuk menulis. Artinya, ia/pensil bermanfaat baginya dan orang lain. Menulisnya, sekarang. Bukan esok. Artinya bersegeralah untuk berbuat baik dari sekarang. Jangan ditunda-tunda.

Itulah filosofi pensil. Apakah diri kita sudah seperti pensil? Sudah pernah sengsara? Sudah bekerjasama dengan orang lain? Sudah beraktifitas saat ini? Waallahu’alam.

Semarang, 11 Desember 2018

Evaluasi Dulu, Baru Cari Solusi

Evaluasi Dulu, Baru Cari Solusi
Oleh Agung Kuswantoro

Saat kita dirundung/ditimpa masalah, maka biasanya yang kita lakukan adalah mencari solusinya. Solusi tersebut kita peroleh dengan pengorbanan fisik dan psikis. Berapa pun rupiah yang akan dikeluarkan, maka ia siap mencari uang. Kurang lebih seperti itu, gambarannya.

Berdasarkan pengamatan beberapa orang yang ahli ilmu, ternyata saat mereka ditimpa masalah ia/orang yang saya amati, tidak langsung ceri solusi. Ia cenderung diam. Ia banyak berbicara Istighfar. Evaluasi diri, ia utamakan.

Ia tidak menyalahkan orang. Ia tidak emosi. Ia tidak berkata kotor. Dan, ia tidak langsung mencari solusi.

Ia, justru mengevaluasi setiap kejadian. Ada apa ini, kenapa masalah ini ada dalam diri saya? Apa yang salah dalam diri saya? Kenapa permasalahan ini, terjadi dalam diri saya? Mengapa tidak terjadi kepada orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan di atas, secara tidak langsung ia akan membaca Istighfar. Ujungnya, ia akan bertaubat.

Insya Allah, setelah melakukan Istighfar dan taubat, akan ada solusi. Solusi akan muncul dengan sendirinya. Yang penting, kita baik dulu. Insya Allah ada solusi.

Mengapa seperti itu? Yang membuat masalah dan solusi, sudah dekat dengan kita. Siapa Dia? Allah. Allah yang menjadikan kita seperti ini. Muncul masalah dan solusi datang, Allah-lah yang menciptakan itu semua. Waallahu’alam.

Semarang, 13 Desember 2018

Alif Hingga Dzal

Alif Hingga Dzal
Oleh Agung Kuswantoro

Kelas yang harus mendapatkan perhatian adalah kelas C. Mengapa? Santrinya kemampuannya berbeda-beda dan kehadiran mereka (santri) tak menentu.

Masalah kemampuan berbeda-beda dikarenakan faktor usia yang berbeda pula. Ada yang SD kelas 2, 3, 4 dan SMP kelas 3.

Pembagian kelas yang kita lakukan berdasarkan kemampuan mereka dalam menerima informasi (baca: ilmu). Jadi, pembagian kelas, bukan karena usia.

Selain faktor di atas, kendala pada kelas C adalah fluktuatif (naik-turun) jumlah kehadiran mereka. Ada yang hampir 8 pertemuan tidak masuk, tiba-tiba masuk. Ada yang empat kali, tidak masuk, tiba-tiba masuk.

Dampak ini, berpengaruh pada kemampuan mereka dalam mendapatkan ilmu. Seperti sekarang. Saat ujian, materi yang disampaikan oleh Ustad, sudah sampai pada makhroj huruf Alif hingga Ya. Namun, dalam praktiknya, menyebutkan makroj Alif hingga Dzal saja, mereka kesusahan.

Saya mencoba meminta tolong buku tulis mereka sendiri. Mereka membuka materi yang telah diajarkan mengenai makhroj. Ditemukan, diantara mereka ada yang lengkap sekali catatannya. Namun, ada yang tidak lengkap. Dan, ada yang sama sekali kosong.

Yang lengkap, mereka lancar mengucapkan makhroj. Yang tidak lengkap, mereka kesusahan mempelajarinya. Contoh, Alif dibaca Alep. Ta dibaca Tak. Tsa dibaca Sa. Jelas sekali, tidak ada bedanya antara Tsa dan Sa. Oleh karena, ujian Tajwid yang seharusnya pelafalan makhroj Alif hingga Ya selama 45 menit, namun kita hanya belajar makhroj sejumlah 7 huruf hijaiyyah tersebut.

Senang rasanya saya bisa mendampingin mereka belajar bersama. Yang kami butuhkan, benar dulu dalam mengucapkan. Bukan, hafalannya.

Yuk, buka ilmu Allah agar kita menjadi hamba yang beriman. Semangati anak-anak kita untuk belajar. Jangan sampai tidak berangkat mengajinya, karena ia akan ketinggalan materi.

Semarang, 10 Desember 2018

Ulasan Mengaji Kitab Albarzanji

Ulasan Mengaji Kitab Albarzanji
Oleh Agung Kuswantoro

Secara umum kandungan kitab Albarzanji adalah kehidupan Nabi Muhammad SAW sebelum lahir (diciptakan) hingga hijrah ke Madinah. Dalam kitab tersebut, saya (belum) menemukan peristiwa haji Wada’, wahyu (surat) terakhir turun, sakit Nabi Muhammad dan wafatnya. Peristiwa-peristiwa tersebut menurut saya itu penting. Namun, tidak dikaji dalam kitab tersebut.

Saya mengetahui peristiwa-peristiwa–yang tidak disebutkan dalam kitab Albarzanji–dari kitab tarikh. Penekanan kitab Albarzanji – menurut saya – ada pada “sastra”. Bahasa dan kalimat sastra sangat “kental” dalam kitab tersebut. Pujian dan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW menjadi ciri dari kitab karangan Syech Ja’far bin ja’far bin Hasan Albarzanji.

Kemudian, tiap bab dijelaskan dengan panjang. Dalam tiap bab terdapat beberapa peristiwa. Misal, meninggalnya Khodijah, Abu Tholib, Isro’ Mi’roj, dan perintah sholat. Tiap bab tidak membahas satu peristiwa saja. Sehingga, dalam memahami akan kandungan dalam tiap babnya, harus berhati-hati.

Lalu, pujian/sholawatan dalam kitab tersebut – menurut saya – itu sedikit. Lebih banyak berisikan kisah perjalanan hidupnya. Pujian kebanyakan di awal dari kitab tersebut mengenai kelahirannya. Sedangkan dibagian tengah itu sedikit. Bahkan, tidak ada. Hanya tambahan pujian Ya Nabi Salam ‘alaika. Itu pun, konteksnya di luar kitab tersebut.

Semoga kita dalam mengambil hikmah dari tiap bab yang ada di kitab tersebut. Dan, semoga kita mendapatkan syafaat/pertolongan oleh Nabi Muhammad SAW di hari akhir. Amin.

Semarang, 9 Desember 2018

Doa Khatam Kitab Albarzanji

Albarzanji (36): Doa Khatam Kitab Albarzanji

Hanya sampai di sini keterangan-keterangan tentang maulid Nabi Muhammad SAW. Mari kita berdoa. Bismillahirrohmanirrohim. Allahumma solli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala ali sayyina muhammad

Ya Allah, Tuhan yang menghamparkan anugerah karunia-Nya. Duhai Dzat, apabila diangkat untuk bermohon tentu dicukupiNya. Duhai dzat, yang suci pada Dzat dan sifat-sifatNya. Dari tata seumpama dan suci dari hal-hal yang menyerupaiNya. Duhai Dzat yang bersendirian sifat kekalNya dan sediakala-Nya, dan pada zaman azali-Nya. Duhai dzat yang tidak diharap-harap pemberian, dan tidak diratap selainNya. Duhai Dzat yang seluruh makhluk bersandar kepada sifat kekuasanNya yang berdiri sendiri.

Dengan karunia-Nya menunjuki orang yang mau bermohon petunjukNya. Kami bermohon kepadaMu, ya Allah dengan NurMu yang suci. Yang dapat melenyapkan kegelapan bentuk keraguan. Kami berperantaraan kepadaMu dengan diri Nabi-Mu yang terpuji. Dan, yang menjadi penutup para Nabi pada wujudnya, dan menjadi permulaannya pada pengertiannya.

Berperantaraan dengan keluarganya, bagaikan bintang-bintang yang menjadi keamanan para makhluk. Bagaikan bahtera keselamatan. Ia juga berperantaraan dengan para sahabatnya yang mempunyai sifat-sifat keutamaan. Yaitu, orang-orang yang menyerahkan jiwanya karena mengagungkan nama Allah, dengan tujuan menuntut anugerah karuniaMu.

Dan, berperantaraan juga dengan ULAMA penerus syari’atnya, yang mempunyai martabat terpuji dan mempunyai tingkat keistimewaan.Yaitu, orang-orang yang menuntut kesenangan dengan nikmat dan karunia dari Allah. Permohonan kami, agar Engkau memberikan pertolongan kepada kami untuk bersikap ikhlas dalam segala perkataan dan perbuatan.

Engkau luluskan permohonan dan harapan setiap orang yang hadir pada majlis ini, dan orang-orang yang sedang dalam bepergian. Engkau selamatkan dari ikatan tali hawa nafsu dan penyakit-penyakit hati. Serta Engkau nyatakan angan-angan kami pada hal-hal yang kami dugakan kepadaMu.

Lagi pula Engkau cegah segala urusan yang menggelapkan hati dan Engkau cegah seluruh bencana. Janganlah pula kiranya Engkau menjadikan kami dari golongan yang mengikut hawa nafsu. Hendaknya Engkau menghampirkan keyakinan baik kami untuk memetik buah-buahan surga yang dekat lagi pula yang masak.

Engkau hapuskan pula dosa-dosa kami yang telah pernah kami lakukan. Serta Engkau ratakan karunia dari gudang pemberian-Mu yang luhur, kepada golongan kami ini. Dengan karunia rahmat dan ampunan, serta Engkau kekalkan kecukupan dari selainMu.

Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menjadikan pangkat dan jasa untuk setiap orang yang memohonkannya. Dan, telah menjadikan hal-hal yang diangan-angan dan diharapkan untuk setiap orang yang berpengharapan. Kami telah bermohon pemberian dari sisiMu denganpenuh pengharapan. Maka, perkenankanlah kiranya Engkau nyatakan apa yang kami harap-harapkan.

Ya Allah, amankanlah hal-hal yang mengkhawatirkan hati kami, dan perbaikilah pimpinan-pimpinan dan rakyat kami. Dan, berikanlah pahala besar kepada orang yang berbuat kebaikan pada hari ini.

Ya Allah, jadikanlah negara kita ini dan seluruh negara-negara Islam, suatu negara yang aman dan subur makmur. Dan, turunkanlah hujan yang rata derasnya pada padang belantara dan dataran tinggi.

Ampunilah pula orang yng menenun kain bercorak panjang yang bagus dari riwayat Maulid ini. Yaitu, Sayid Ja’far bin Hasan Albarzanji. Dan, nyatakanlah kepadanya keberuntungan harapan, dan angan-angannya dengan berhampiran bersamaMu. Serta, jadikanlah tempat kediamannya beserta orang-orang yang berhampiran denganMu.

Lagi pula tutuplah cacat, dan kelemahan, dan kebingungannya,. Dan tutuplah juga cacat, kelemahan, dan kebingungan penulisnya, dan orang yang membacanya, dan orang yang memperdengarkan dan memperhatikan kepada riwayat kitab ini.

Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam sejahtera kepada nabi Muhammad, orang yang mula-mula sekali menerima kenyataan hakekat dengan secara keseluruhan. Juga, kepada keluarganya, sahabatnya, orang-orang yang menolong agamanya, dan orang-orang yang mengikutinya.

Selama masih ada telinga yang bersubang (memakai perhiasan telinga) dengan subang permata dari mendengarkan sifat-sifatnya, yang seperti mutiara. Dan, selama masih ada kumpulan Maulid yang mendengarkan riwayatnya.

Semoga rahmat dan salam sejahtera yang terlebih utama atas Penghulu kita Nabi Muhammad, penutup para Nabi dan Rasul. Semoga atas keluarga dan sahabatnya seluruhnya. Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang mempunyai keperkasaan, dari apa yang mereka katakan. Salam sejahtera bagi para Pesuruh Allah SWT. Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang mempunyai keperkasaan, dari apa yang mereka katakan. Salam sejahtera bagi para Pesuruh Allah SWT. Amin.

Semarang, 8 Desember 2018

Khatam Kitab Albarzanji

Khatam Albarzanji
Oleh Agung Kuswantoro

Tak terasa hampir 3 bulan mengaji isi/kandungan kitab Albarzanji hingga hari ini. Alhamdulillah bisa khatam/selesai. Mengajinya sedikit-sedikit. Dalam satu judul, bisa tiga pertemuan atau dua pertemuan.

Alhamdulillah (pula) para jamaah juga stabil mengikuti kajian. Tidak butuh banyak orang yang datang mengaji. Orangnya “ajeg/reliabel”. Maksimal, 7 hingga 10 orang. Alhamdulillah kebanyakan mereka (yang mengikuti mengaji) adalah orang kampung.

Albarzanji adalah kitab yang kesekian dalam kajian Subuh. Dulu, ada kitab Fathul Muin, Safinatun Najah, Arbain Nawawi, tafsir Yasin, Hidayatus Sibyan, dan beberapa kitab lainnya. Umur kajian hingga hari ini, Alhamdulillah sudah 5 tahun. Mengaji tiap hari habis Subuh.

Penuh perjuangan membuat kajian ini. Kendala saya sebagai pemberi materi adalah saat sakit dan kepentingan luar kota (kerja/mudik). Belum ada yang menggantikan untuk mengisi kajian. Jika imam sholat Subuh, Alhamdulillah ada penggantinya. Namun, untuk pengganti kajian, belum ada orang yang menggantikannya.

Saya menyadari bahwa cenderung masyarakat dimana pun budaya mengaji ilmu itu minim. Mereka masih menyukai dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Namun, hal itu tidak “mengendorkan” semangat saya untuk belajar/mengaji.

Mengapa seperti itu? Karena, saya yakin melalui mengaji (baca: ilmu) mereka lebih pintar. Pikirannya menjadi berkembang. Dan, wawasan menjadi luas. Oleh karena, saya ingin memperjuangkan budaya mengaji di lingkungan masyarakat. Terlebih di Masjid.

Masjid tidak hanya untuk sholat, tetapi juga untuk mengaji. Nah, fungsi ini yang harus juga ada dalam Masjid. Tujuannya, masyarakatnya menjadi berilmu. Semoga kita menjadi hamba berilmu dengan mengaji. Gunakanlah Masjid secara maksimal untuk kegiatan keagamaan. Salah satunya mengaji. Waallahu’alam.

Semarang, 8 Desember 2018

Albarzanji (35): Ciri Fisik Nabi Muhammad SAW

Albazanji (35): Ciri Fisik Nabi Muhammad
Oleh Agung Kuswantoro

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling sempurna kejadian dan akhlaknya, yang mempunyai sikap dan sifat yang luhur. Ia memiliki fisik sederhana tingginya, putih kemerah-merahan kulitnya, dua belah matanya lebar, seolah-olah bercelak, lebat bulu matanya, dua kening melengkung dan lembut rambutnya.

Jarang antara gigi-giginya, lebar mulutnya dan terlihat menarik, lebar kanan kiri dahinya, dahinya bagaikan bulan sabit. Halus pipinya, terlihat mancung hidungnya dan bagus pangkal hidungnya. Renggang jarak antara dua tulang belikatnya, sederhana pula dua tapak tangannya, yang besar tulang-tulang sendinya, yang tipis tapak kakinya, yang tebal rambut jenggotnya, besar kepalanya, rambutnya sampai kecuping telinga.

Diantara dua tulang belikatnya ada cap kenabian, yang diliputi oleh cahaya. Keringatnya jernih bagaikan mutiara, yang berbau lebih semerbak dibanding dari bau minyak kasturi. Jalannya condong, seolah-olah turun dari tempat yang tinggi.

Ia suka berjabat tangan dengan orang yang mau berjabat tangan dengannya. Dan jika berjabat tangan dengan tangannya yang mulia itu, maka bekas bau semerbak pada tangannya itu masih ada dalam beberapa hari.

Jika ia baru saja menyapu-nyapukan tangannya pada kepala anak-anak kecil lainnya dapat mengenalnya, karena bekas baunya yang semerbak itu. Paras wajahnya senantiasa bercahaya, bagaikan bulan pada malam bulan purnama.

Orang yang telah menyipatinya mengatakan, bahwa tidak ada seorang pun pada waktu sebelumnya dan waktu sesudahnya, orang yang dapat menyamai dengannya.

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang bersangatan malu, dan tawadhuk, mau memperbaiki kasutnya sendiri, dan menambal pakaiannya yang sobek, dan mau memerah biri-biri, dan mau membantu keperluan dalam rumah tangganya.

Dan, ia menyukai orang fakir dan miskin dan suka duduk bersama-sama mereka, mau meninjau orang-orang yang sakit diantara mereka, sudi mengantar jenazah mereka, dan tidak mau mencemoohkan orang yang sangat fakir.

Ia bersedia menerima alasan orang lain, dan tidak pernah menghadapinya dengan sikap yang membencikan, dan mau berjalan bersama-sama dengan para janda dan kaum buruh

Ia tidak pernah merasa gentar menghadapi para raja, dan andaikata marah, semata-mata hanyalah karena Allah, dan kerelaannya juga karena-Nya.

Ia suka berjalan dibelakang pada sahabatnya, seraya bersabda “Kosongkanlah tempat dibelakang saya untuk para Malaikat”.

Mau berkendaraan unta, kuda, bighal, dan keledai dari hadiah sebagian raja-raja.

Jika perutnya lapar, maka disumbatnya dengan batu, toh kunci gedung perbendaharaan bumi berada ditangannya. Dan, gunung-gunung pun bersedia menjadi emas untuk keperluannya, namun beliau juga enggan menerimanya.

Ia jarang sekali, melakukan hal-hal yang kurang berguna, dan suka mulai memberi salam kepada orang yang dijumpainya, suka memperlamakan sholat dan mempersingkat khutbah Jum’at.

Menyukai orang yang mulia, dan menghormati orang utama, juga mau bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya. Beliau tidak pernah bersabda melainkan yang benar, justru Allah SWT menyukai dan rela kepadanya.

Semarang, 6 Desember 2018

Previous Older Entries