Ngaji Tauhid (40): Iman Kepada Malaikat

Ngaji Tauhid (40): Iman Kepada Malaikat
Oleh Agung Kuswantoro

Malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk menjaga manusia dalam keadaan apa pun (kecuali yang terbuka aurot) yaitu Malaikat Mu’aqqibat. Hal ini sebagaimana dalam surat Ar Rod ayat 10-11.

Dalam surat tersebut diterangkan bahwa Malaikat-malaikat tersebut selalu menjaga manusia secara bergiliran. Mereka ditugaskan atas perintah Allah.

Dalam keterangan lain pada surat al An’am ayat 61 disebutkan bahwa, Malaikat ini termasuk dalam golongan Malaikat khafadhoh/Malaikat penjaga.

Mari, jaga perbuatan kita. Karena, sesungguhnya dalam diri ini dijaga oleh para Malaikat yang selalu bergantian. Allah telah mengutus mereka untuk menjaga kita. Jika kita maksiat, maka pastinya Malaikat tersebut akan menjauh dari kita. Wallahu ‘alam.

Semarang, 14 Februari 2019

Ngaji Tauhid (39): Iman Kepada Malaikat

Ngaji Tauhid (39): Iman Kepada Malaikat
Oleh Agung Kuswantoro

Penjaga neraka Jahanam adalah Malaikat Zabaniyah. Tauhid mengenalnya dengan nama Malaikat Zabaniyah. Ada pula yang menyebutkan Malaikat Malik.

Jumlah Malaikat yang menjaga neraka ada 19 Malaikat. Sedangkan, pemimpinnya adalah Malaikat Malik. Hal ini sebagaimana dalam Surat Al-Mudattsir ayat 27-30 bahwa “Neraka Saqor adalah pembakar kulit manusia yang di atasnya ada 19 penjaga (baca: Malaikat).

Itulah Malaikat penjaga neraka yaitu Zabaniyah, Malik, dan 19 Malaikat yang lainnya. Semoga, kami tidak bertemu dengannya.

Semarang, 13 Februari 2019

Mengikuti

Mengikuti
Oleh Agung Kuswantoro

Meskipun saya sedang ada tugas dari lembaga, dimana harus datang jam 07.00 hingga 17.30 WIB, tak mengurangi saya untuk mengikuti pembelajaran di Madrasah.

Kami senang ada komunikasi diantara Ustad/Ustadah dengan orang tua. Atau, komunikasi antara orang tua dengan anak/santri.

Ada orang tua yang anaknya izin, lalu memberi tahu ke Ustad/Ustadah melalui forum “Mari Mengaji”. Atau, sekadar bertanya, “Apakah hari ini mengaji, karena suasana hujan”?

Dari informasi yang disampaikan beberapa Ustad/Ustadah pembelajaran seperti biasanya. Fiqih menjadi kajiannya selama dua hari.

Pada hari Senin, suasana hujan. Ustadah Nisa mengajar di kelas A dan B. Sedangkan, Ustadah Asih izin sakit. Sehingga, kelas A diampu oleh Ustadah Nisa. Yang seharusnya, Ustadah Asih.

Kemudian, kelas C diampu oleh Ustadah Arin. Ia menggantikan posisi saya. Sedangkan, kelas D, santrinya tidak hadir. Tidak hadir karena sakit dan izin. Namun, Ustad Ade tetap berangkat. Demikian, juga Ustad Belardo. Itu terjadi hari Senin.

Pada hari Selasa, semua Ustad/Ustadah berangkat kecuali saya dan Ustadah Asih. Saya izin karena ada tugas lembaga. Sedangkan, Ustadah Asih izin sakit. Alhamdulillah, Ustadah Lu’lu’ bisa hadir sehingga bisa membantu pembelajaran di kelas A dan B.

Sedangkan, Ustadah Arin dan Ustad Ade di kelas masing-masing yaitu C dan D. Ustad Belardo membantu di kelas D.

Kami berusaha saling menyemangati di antara sesama. Ada yang tidak bisa hadir, maka saling berkomunikasi agar kelas tetap ada pembelajaran.

Semoga apa yang dilakukan oleh kita diberkahi oleh Allah SWT. Amin.

Semarang, 12 Februari 2019

Ngaji Tauhid (38): Iman Kepada Malaikat

Ngaji Tauhid (38): Iman Kepada Malaikat
Oleh Agung Kuswantoro

Surga dan Neraka dijaga oleh Malaikat. Menurut Alquran Surat as Zumar ayat 73 bahwa orang yang masuk surga secara berombongan dan surga terbuka pintu-pintunya dan disambut oleh penjaganya. Mereka yang masuk Surga adalah orang yang bertakwa.

Ayat ini menjadi dasar bahwa Surga itu ada yang menjaga. Hanya tidak disebutkan siapakah nama Malaikat yang menjaga Surga. Beberapa literatur menyebutkan, bahwa Malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk menjaga Surga adalah Malaikat Ridwan. Semoga besok, kita bisa di sana. Amin.

Semarang, 12 Februari 2019

Ngaji Tauhid (37): Iman Kepada Malaikat

Ngaji Tauhid (37): Iman Kepada Malaikat
Oleh Agung Kuswantoro

Malaikat yang bertugas mencabut ruh adalah Malaikat maut dan rekan-rekannya. Dalam, tauhid Malaikat maut/Izroil itu tidak sendiri. Ia bersama dengan teman-temannya. Maknanya, dalam bertugas ia dibantu oleh orang lain.

Hal ini sebagaimana keterangan dalam surat As Sajadah ayat 11 yaitu Malaikat maut yang diserahi untuk mencabut nyawa.

Berarti kematian itu sudah pasti, hanya waktu dan ruangnya dirahasiakan oleh Allah. Bayangkan, jika waktu dan ruang diberi tahu oleh Allah kepada makhlukNya dalam kematian.

Pasti, orang akan bertaubat. Ia (mungkin) akan pesan undangan kehadiran kematian, agar orang menyolati dan menghadiri pemakamannya.

Atau, (mungkin) ia akan berada di Masjid menanti waktu tiba hingga ruhnya diambil oleh Malaikat.

Itulah kematian, hanya Allah yang mengetahui. Tidak ada makhluk yang mengetahui. Sekelas, Malaikat maut saja hanya diberi tugas. Maknanya, ia tidak tahu akan kematian. Wallahu ‘alam.

Semarang, 11 Februari 2019

Ngaji Tauhid (36): Iman Kepada Malaikat

Ngaji Tauhid (36):Iman Kepada Malaikat
Oleh Agung Kuswantoro

Siapakah Malaikat yang bertugas meniup terompet? Siapakah yang memberi izin terompet tersebut dibunyikan? Kapan terompet itu dibunyikan? Dan, berapa kali terompet itu dibunyikan?

Mari, kita jawab satu persatu pertanyaan di atas. Malaikat yang bertugas meniup terompet adalah Malaikat Isrofil. Tulisannya pakai “Sin” atau “S” bukan “Za” atau “Z”. Karena, jika menggunakan “Z” menjadi Izroil. Jelas berbeda antara Isrofil dengan Izroil.

Yang kita kaji hari ini adalah Malaikat Isrofil. Ia/Malaikat Isrofil bertugas meniup terompet atas izin Allah. Terompet tersebut dibunyikan pada hari kiamat.

Terompet tersebut berbunyi selama tiga kali tiupan. Tiupan pertama bernama tiupan faza’/ketakutan. Dalam fase/tahap ini, semua makhluk dalam keadaaan takut. Pertanda kiamat terjadi.

Tiupan kedua bernama tiupan sha’aq/kematian. Pada tahap ini, semua makhluk dalam keadaan mati.

Terakhir, tiupan ketiga bernama ba’ts/kebangkitan. Pada tahap ini, semua makhluk akan dibangkitkan/kembali hidup setelah dimatikan.

Sebagai orang beriman, kita berdoa agar terhindar dari tiupan terompet Malaikat Isrofil. Kita harus mempercayainya. Itulah, salah satu wujud mempercayai kepada Malaikat. Wallahu ‘alam.

Semarang, 10 Februari 2019

Khodijah

Khodijah

Oleh Agung Kuswantoro

IMG_20190209_110657.jpg

Akutetap melewati rumah itu. Rumah yang tiap malam mengadakan pesta. Pasti, kondisinya ramai. Bahkan, mengejekku. Namun, aku tetap berpendirian untuk melakukan ibadah Towaf di Makkah.

Terlebih ‘statusku’ adalah seorang janda. Dengan mudahnya, mereka akan merendahkanku. Namun, biarlah. Saya akan menjaga kehormatanku ini dan saya akan tetap menyembah Allah.

Siapakah pemilik rumah yang tiap makna berpesta? Jawabnya, Abu Lahab. Lalu, siapakah aku yang dimaksud? Jawabnya, Khodijah.

Khodijah luar biasa sekali. Sebagai lelaki, saya kagum. Mulai dari akhlak, tauhid, hingga fiqihnya sangat ‘kuat’ sekali.

Yuk, belajar dengannya. Jangan cukup mengenalnya adalah janda kaya raya yang menikah di umur 40 tahun. Tapi, lihatlah hal-hal yang lainnya. Kemungkinan, kita tidak tahu.

Subhanallah, luar biasa dia. Khodijah.

Previous Older Entries