GILIRAN SURABAYA

giliran surabaya.jpg
Oleh Agung Kuswantoro

Entah apa yang terpikirkan oleh saya. Dulu (2014) saya pernah menjadi Pemakalah di UNESA.

Waktu itu Dekannya adalah Prof. Bambang. Saat acara pembukaan, saya duduk di belakang.

Saya tidak begitu mengenal beliau.

Ternyata, skenario Tuhan berkata lain. Setelah saya presentasi di Surabaya, ada orang yang sangat tertarik dengan konsep E Arsip Pembelajaran.

Konsep tersebut, saya membuatnya dalam sebuah program.

Beliau membeli buku saya. Saya menuliskan pada alamat ditujuan dengan Bapak Bambang.

Tak terbesit sama sekali, bahwa Bapak Bambang yang saya tulis adalah Dekan UNESA saat acara seminar 4 tahun yang lalu.

Saat saya bertanya kepada Bapak Bambang, terkait dengan posisi beliau mengapa membeli buku saya tersebut, saat itu.

Beliau menyebutnya Praktisi Pendidikan. Dalam hati saya masih penasaran.

Karena, jarang pembeli buku saya untuk program E Arsip Pembelajaran adalah seorang pemerhati.

Ternyata, beliau adalah Bapak Dekan waktu yang pernah saya lihat.

Sekarang, saya dalam perjalanan ke Surabaya atas undangannya.

Saya pun membawa buku saya untuk belajar bersama.

Rencana, saya belajar dengan guru-guru administrasi perkantoran Surabaya.

Tempat belajarnya di SMK Negeri 1 Surabaya.

Mohon doanya, semoga lancar. Amin

Semarang, 10 Agustus 2018
Ditulis di bus dalam perjalanan ke Surabaya

MENULISLAH

MENULISLAHmenulislah
Oleh Agung Kuswantoro

Cara agar nama kita selalu dikenang adalah menulis. Menulis dari hal yang sederhana.

Menulis dari sesuatu yang Anda minati. Itu adalah yang termudah.

Suatu kebahagiaan bagi saya, saat ada orang mengapresiasi atas tulisan (baca:buku) saya.

Ia sampai minta surat keterangan, bahwa yang bersangkutan diizinkan untuk menggunakan program kearsipan yang saya buat.

Saya bangga tak terkira. Tulisan saya menjadi rujukan.

Sebaliknya, pernah dimaki atau dicemooh atas tulisan saya. Saya dianggap tidak tahu suatu konsep.

Ada orang yang memperlakukan seperti itu kepada saya. Saya hanya diam. Karena, dibalik makian/cemoohan ada juga, orang yang membela dan peduli saya.

Itulah tulisan. Sangat mengena dan mengenang. Oleh karenanya, mari menulis agar kita dikenang.

Menulis yang baik agar menjadi amal ibadah kita. Tabungan besok di Akhirat sebagai amal sholeh. Amin.

Lasem, 10 Agustus 2018
Ditulis di bus menuju Surabaya

Cara Mendefinisikan Konsep

Cara Mendefinisikan Konsep

Oleh Agung Kuswantoro

 

Konseptualisasi adalah proses pemberian definisi teoritis atau definisi konseptual pada sebuah konsep (Prasetyo dan Jannah; 2016:90)

 

Dalam mendefinisikan sebuah konsep, langkah yang termudah adalah membuat tabel yang isinya kolom-kolom. Tujuannya untuk menyederhanakan sebuah konsep. Sehingga dibutuhkan item-itemnya.

 

 

Lalu, apa saja itemnya?

 

Berikut item-itemnya, yaitu konsep, variabel, dan indikator. Misal, ada konsep pemanfaatan. Maka, variabelnya pemanfaatan kartu sehat. Sedangkan, indikatornya adalah pernah memanfaatkan kartu sehat dan frekuensi kartu sehat.

 

Contoh lagi, konsepnya pengetahuan responden. Maka, variabelnya tingkat pengetahuan responden tentang kartu sehat. Sedangkan indikatornya, yaitu pengetahuan tentang biaya untuk memperoleh kartu sehat, pengetahuan tentang jenis layanan untuk memperoleh kartu sehat, pengetahuan tentang pihak yang memperoleh kartu sehat, dan sebagainya.

 

Penjelasan di atas, saya sarikan dari Prasetyo dan Jannah (2016:91). Di dalam buku tersebut digambarkan dengan tabel-tabel yang lebih rinci, sehingga konsepnya mampu teridentifikasikan. Konsepnya mencair, kurang lebih seperti itu.

 

 

Sumber: Prasetyo, B dan Jannah , M.L. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rajawali Press.

 

 

 

 

 

 

 

 

SEM dan SPSS

SEM dan SPSS

Oleh Agung Kuswantoro

 

Akhir-akhir ini, saya bingung dengan analisis. Bahwa, ada orang saat penelitian yang berjudul “moderasi” atau “intervening” analisisnya menggunakan SPPS.

 

Saya membacanya, ternyata saat menganalisis satu per satu. Misal X secara langsung ke Y. lalu X melalui Y secara tidak langsung. Dimana, gambarnya ada variabel intervening.

 

Dalam hati bertanya kepada diri sendiri “apakah tidak ada analisis yang sekali ‘klik’, bisa keluar semua? Jadi, tidak ada satu persatu-satu. Namun, belum selesai membaca. Banyak pertanyan yang muncul. Kebanyakan, SEM itu banyak model yang saling memanah. Atau, istilahnya analisis jalur. Dan, hasilnya berbeda saat diuji SPSS dan SEM.

 

Ketika diuji SPSS mengatakan valid/normal. Tetapi, saat diuji SEM, hasilnya tidak valid/normal. Lalu, saya bertanya kepada diri sendiri. Berarti ada syarat dan ketentuan untuk diuji SPSS atau SEM. Tidak semua data dianalisis dengan SPSS dan SEM. Logikanya, jika itu bisa, maka keluar hasil yang sama, berupa valid/normal.

 

Tidak ada pembeda hasil atara SPSS dan SEM. Jika itu ada perbedaan pada hasil SPSS dan SEM, maka ada syarat dan ketentuan waktu pengujian SPSS dan SEM.

 

Semarang, 4 Juli 2018

Menyajikan Alquran

Menyajikan Alquran

Oleh Agung Kuswantoro

 

Dulu, waktu saya bersilaturohim dengan orang yang saya hormati, saya melihat Alquran di meja tamu. Biasanya di meja tamu ada jajanan. Namun di rumahnya, selain jajanan juga ada Alquran.

 

Ketika duduk di ruang tamu, pemilik rumah membacanya. Waktu untuk membaca Alquran dengan mudah ia dapat karena Alqurannya tersaji.

 

Menyajikan Alquran itu ternyata penting. Biasanya Alquran ada di lemari atau rak tempat sholat. Namun, dengan menghadirkan di tempat-tempat strategis ternyata semangat untuk membacanya pun lebih tinggi.

 

Seakan-akan Alquran berkata “ayo baca Aku”. Saat pemilik rumah duduk di meja tamu, langsung ia membaca Alquran yang tersaji itu.

 

Keadaan tersebut menjadikan saya terinspirasi untuk melakukannya. Saya mencoba menyajikan (baca:menghadirkan) Alquran di ruang kerja saya. Setiap meja di kantor yang saya tempati saya beri satu Alquran. Tujuannya agar mudah membacanya di setiap waktu. Saat membaca pun jadi mudah.

 

Ternyata, cara ini lebih ampuh untuk mempermudah membaca Alquran dimana dan kapan pun. Ketika Alquran disajikan, maka disitulah mata melihat, maka kita akan membacanya.

 

Cobalah, Anda yang sangat sibuk, untuk melakukan hal ini. Sederhana caranya, hanya butuh dilirik. Dalam batin nanti, Alquran akan mengatakan “masa Aku (Alquran) cukup dilirik saja dengan mata?”

 

Hati kita, Insya Allah langsung terpanggil untuk membacanya. Selamat mencoba.

 

Semarang, 26 Juni 2018

Surat Suara

Surat Suara

Oleh Agung Kuswantoro

 

Surat adalah komunikasi yang berbentuk tulisan. Berisi pesan informasi penting. Sifat surat ada yang rahasia, sangat rahasia, dan biasa.

 

Sehingga, lazimnya surat biasanya ada pembuka, isi, dan penutup. Lazimnya pula, ada kata kepada, Yth, hormat kami, tanggal, tempat, penanda tangan, dan atribut yang ada pada surat.

 

Lalu, bagaimana dengan surat suara? Apakah ada bagian-bagian tersebut? menurut saya, tidak ada! Inti dari surat suara adalah pesan seseorang dalam menentukan pilihannya. Pilihan pimpinan. Baik, Kepala Daerah, Gubernur, Anggota Dewan, dan Presiden.

 

Intinya, suaranya. Suara itulah pesannya. Wujud suara berupa toblosan pada pilihannya. Jadi, bagian-bagian surat sebagaimana umumnya tidak ada. Langsung kepada isi pesannya, berupa gambar calon pemimpin.

 

Bayangkan, kalau surat suara tersebut ada kata Yth, tanda tangan, pengirim, dan item lainnya. Dapat dipastikan akan bocorlah suara kita. Itulah yang namanya, surat suara.

 

Semarang, 28 Juni 2018

 

 

 

 

 

 

 

 

Sahabat Bukan Malaikat

sahabat bukan malaikat

Sahabat Bukan Malaikat

Oleh Agung Kuswantoro

 

Buku ini sangat renyah, gurih, dan empuk. Penulis – yang juga guru produktif Administrasi Perkantoran SMK 1 Magetan, Jawa Timur – sangat mahir dan lincah dalam “meramu” cerita-cerita yang menarik.

 

Basis pengalamannya, ia himpun dalam buku yang bertema sosial. Tak cukup hanya bercerita mengenai pengalaman hidupnya, namun penuh hikmah.

 

Saya sebagai pembaca pun, mengambil nilai-nilai yang ada dalam setiap buku ini. Misal konsep rizki dan jodoh.

 

Sayang, tidak ada semacam mantra/kalimat penggugah dalam setiap bab/judul. Sehingga pembaca mudah menemukan esensi/inti dari tiap judulnya.

 

Menarik lagi, ada testimoni dari sosok pendidik yang menginspiratif, sehingga buku ini menjadi layak untuk dicemil oleh para guru.

 

Menurut saya, buku ini isinya bagus. Guru tidak hanya pandai di depan kelas. Tetapi, juga lihai dalam mencairkan ide-idenya melalui tulisan.

 

Ibu Riful Hamidah, patut menjadi panutan bagi guru. Jago, dalam menulis cerita. Saya sendiri belum bisa “seenak” dan “serenyah” dalam menulis cerita.

 

Teruslah menulis dan berkarya,  Bu Riful. Teruslah menginspirasi untuk kami. buktikan, jika guru itu bisa berkreasi melalui menulis.

 

 

Semarang, 28 Juni 2018

Previous Older Entries