Buku Mari Bicara Islam: Memahami Permasalahan Islam Dengan Jeli

 

 

 

 

 

“Bicara Islam Di Sekitar Kita”:

Memahami Permasalahan Islam Dengan Jeli

 

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

 

 

Kata Pengantar Oleh Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. Guru Besar UIN Sunan Kalijaga dan Anggota Tim Penyusun Tafsir Tematik Al qur’an Kementerian Agama RI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Halaman

Cover………………………………………………………………………………………………………….

Identitas Buku…………………………………………………………………………………………….

Daftar Isi…………………………………………………………………………………………………….

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………………..

Ucapan Terima Kasih dan Persembahan……………………………………………………..

 

Ibadah Mahdhoh

Memperbaiki Salat Untuk Memperbaiki Kualitas Hidup. 1

Salat Sebagai Kebutuhan Atau Kewajiban?. 6

Mengaitkan Keji dan Salat Khusyuk. 11

Khusyuk, Fiqih, dan Tasawuf. 18

Jumuah, Salat Duhur, dan Jumatan. 20

Merencanakan Amalan Di Bulan Ramadhan. 28

10 Malam Terakhir Ramadhan, Mau Apa Kita?. 37

Menyambut Idul Adha. 53

Syawal, Hijrah, dan Idul Adha…………………………………………. ………………..40

 

Ibadah Ghoiru Mahdhoh

Memantaskan Menjadi Hamba Yang Patut Masuk Bulan Ramadhan. 24

Dakwah : Guyub Di Bulan Ramadhan. 33

Syawal Dan Tanda Orang Bertakwa. 41

Ibadah Berkesinambungan. 45

Mengambil Hikmah Hijrah. 49

Generasi Muda dan Merubah Diri…………………………………………………. …57

Sekulerisasi Ilmu. 58

Memaknai Orang Cerdas. 63

Fardu Kifayah dan Menyampaikannya. 67

Janganlah Jadi Yang Merugi 71

Menaikkan Status Menjadi “Alim”. 77

Sifat Allah, Syukur, dan Nikmat Allah………………… …………..………….81

Memahami Sifat Allah Arrohman Dan Arrohim.. 82

Memahami Syukur Dalam Suatu Acara. 87

Air, Angin, dan Hujan. 91

Keunikan Nabi Muhammad SAW dan Berita Bohong…. …………………….95

Muhammad SAW.Pemimpin Teladan Sepanjang Masa. 96

Sisi Lain Nabi Muhammad SAW. 99

Hoax. 103

 

Daftar Pustaka. 107

Biodata Penulis………………………………………………………………………………………. 109

 

AJAK KEBAIKAN DAN CEGAH KEBURUKAN

Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag.

            Dakwah, mengajak pada kebaikan dan mencegah dari keburukan pada dasarnya, adalah tugas setiap orang beriman. Tugas dakwah dapat dilakukan secara individual maupun kolektif. Karakter orang-orang beriman ialah bekerja sama bahu-membahu dalam menegakkan kebenaran dan bersama-sama menghapuskan kebatilan. Hal itu mengingat bahwa di sana ada golongan kaum munafik yang bekerja untuk mencegah perbuatan baik dan menyruh perbuatan mungkar. Allah swt berfirman dalam Al quran,

Kaum munafik, laki-laki dan perempuan, mempunyai saling pengertian satu dengan yang lain; mereka menganjurkan yang mungkar, dan melarang yang makruf, dan mereka menggenggam tangan. Mereka sudah melupakan Allah, dan Dia pun melupakan mereka. Golongan orang munafik, mereka itulah golongan orang fasik (QS At-Taubah/9:67).

Orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, saling menjadi pelindung satu sama lain; menganjurkan yang makruf dan melarang yang mungkar; mereka mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat serta patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah yang akan mendapat rahmat Allah. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana (QS At-Taubah/9:71).

Kerja dakwah dengan demikian perlu direncanakan dan diatur dengan saksama dan dengan sebaik-baiknya. Allah swt berfirman dalam Al quran,

Hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh orang berbuat baik dan mencegah perbuatan mungkar. Mereka itulah orang yang beruntung. Dan janganlah seperti mereka yang bercerai-berai dan berselisih paham setelah menerima keterangan yang jelas. Mereka itulah yang akan mendapat azab yang berat  (Ali Imran/3:104-105).

Kamu adalah umat terbaik; dilahirkan untuk segenap manusia, menyuruh orang berbuat benar dan melarang perbuatan mungkar, serta beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, niscaya baiklah bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakan mereka orang fasik (Ali Imran/3:110).

Hendaklah kamu tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan jangan saling membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah. Allah amat keras dalam hukuman-Nya (QS Al-Maidah/5:2).

Mengajak kepada kebajikan (amar ma’ruf) adalah kewajiban seluruh kaum Muslimin. Al qur’an menginginkan kaum Muslimin mendukung terciptanya kondisi yang benar, yang bersumber pada kehendak Allah. Allah SWT berfirman:

Wahai orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya dan janganlah kamu mati kecuali dalam Islam. Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan janganlah terpecah belah. Ingatlah kamu akan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepadamu tatkala kamu sedang saling bermusuhan lalu ia memadukan hatimu dengan rasa kasih sehingga dengan karunia-Nya kamu jadi bersaudara. Ketika itu kamu berada di tepi jurang api, lalu Ia menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. Hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh orang berbuat benar dan melarang perbuatan mungkar. Mereka itulah yang beruntung (Ali Imran/3:102-104).

Amar ma’ruf merupakan suatu bentuk kesetiakawanan sosial untuk menerapkan kebenaran dan kebaikan dalam kehidupan dan mempersatukan seluruh potensi untuk menegakkan bangunan sosial atas landasan yang kokoh. Jika individu dalam masyarakat dibiarkan mengerjakan apa saja yang diinginkan, ini akan meruntuhkan masyarakat.

Allah SWT melekatkan beberapa ciri pada orang-orang beriman. Di antaranya, kesediaan untuk beramar ma’ruf setara dengan kemampuan masing-masing. Tiap orang diseru untuK beramar ma’ruf menurut kadar kemampuannya. Amar ma’ruf mengantarkan masyarakat tempo dulu pada kemajuan dan kejayaan serta menjadikan mereka umat terbaik.

Prinsip amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah ibarat dua sisi dari satu keping mata uang, yang tak terpisahkan satu dari yang lain. Kegiatan amar ma’ruf  tidak sempurna tanpa nahi mungkar, sebagaimana nahi mungkar tidak akan lengkap tanpa diikuti dengan amar ma’ruf.

Allah SWT mewajibkan kaum Muslimin menentang penyimpangan, baik penyimpangan keagamaan, maupun penyimpangan sosial. Ia mencakup kepentingan pribadi maupun kelompok, seperti penyimpanan politik berupa penindasan terhadap rakyat, penyimpangan ekonomi berupa monopoli, manipulasi dan perampasan hak-hak orang kecil dan cara-cara zalim lainnya, terang-terangan maupun yang tersembunyi.

Islam menciptakan pengawasan melekat dalam hati masyarakat yang tunduk pada risalah Ilahiah. Islam memberikan kekuatan pendorong pada hati umat manusia, sekaligus memberikan kekuatan penahan atas dasar kesadaran akan tanggung jawab dalam kehidupan.

Al qur’an menegaskan  sanksi meninggalkan nahi mungkar sebagai berikut:

Setelah mereka mengabaikan peringatan yang sudah disampaikan, Kami selamatkan mereka yang melarang orang melakukan kejahatan, dan Kami hukum orang zalim dengan azab yang berat atas perbuatan mereka melanggar segala yang dilarang, maka firman Kami kepada mereka, “Jadilah kamu kera, yang dibenci dan dijauhi.” (Al-A’raf/7:165-166).

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Kalau tidak sanggup dengan tangannya, hendaknya ia mengubah dengan ucapannya. Kalau tidak sanggup mengubah dengan ucapannya, hendaklah mengubah dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR Bukhari dan Muslim).

“Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran dan tidak mengubahnya, dikhawatirkan semua manusia akan terkena siksa Allah oleh kemungkaran itu.” (HR Ibnu Majah).

Prinsip nahi mungkar menghimpun sikap penolakan terhadap segala kondisi kemerosotan. Nahi mungkar merupakan langkah untuk mengikis faktor penyebab kerusakan dalam masyarakat. Terdapat banyak penyimpangan yang luput dari tangan kekuasaan, dan baru tampak sesudah sekian lama, sehingga usaha perbaikannya sulit dilakukan.

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul jika mengajak kamu kepada yang memberi kamu kehidupan; ketahuilah bahwa Allah berada di antara manusia dan hatinya, dan bahwa kepada-Nya kamu akan dihimpun kembali. Dan jagalah dirimu dari bencana fitnah, yang tidak hanya akan menimpa mereka yang jahat saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah keras sekali dalam menjatuhkan hukuman (Al-Anfal/8:24-25).

“Hendaknya kalian memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, atau akan ditimpakan siksa kepada kalian karena perbuatan orang-orang jahat kalian, lalu orang-orang yang baik di antara kalian berdoa, tapi tak dikabulkan.”

Mencegah kemungkaran tidak terbatas hanya pada ucapan, tetapi berlanjut dengan kekuatan fisik, dan bila perlu dengan kekuatan senjata.

Dan kalau ada golongan yang beriman bertengkar, damaikanlah mereka; tetapi jika salah satu dari keduanya berlaku zalim terhadap yang lain maka perangilah golongan yang berlaku zalim, sampai mereka kembali kepada perintah Allah; bila mereka sudah kembali, damaikanlah keduanya dengan adil, dan berlakulah adil; Allah mencintai orang yang berlaku adil (Al-Hujarat/49:9).

Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan kebajikan terbesar yang diperintahkan Allah kepada orang beriman. Karena itu tiap mukmin harus berusaha sungguh-sungguh agar amar ma’rufnya membuahkan kema’rufan dan nahi mungkarnya tidak menimbulkan kemungkaran yang lain.

 

Jika pemimpin bijaksana

Rakyat dipimpin akan bahagia

 

Kalau pemimpin seorang angkara

Rakyat dipimpin akan merana

 

Jika korupsi merajalela

Tandanya rakyat akan celaka

 

Jika pemimpin bersifat anarki

Rakyat dipimpin akan berlari

 

Jika pemimpin suka berbakti

Tentu sentosa rakyat negeri

 

Jika pemimpin suka kolusi

Suka pula ia korupsi

 

Jika pemimpin orang amanah

Rakyat dipimpin tidak gelisah

 

Jika pemimpin bersifat amarah

Rakyat dipimpin akan gelisah

 

Jika banyak berbuat amal

Tandanya dia orang kamal

 

Jika pemimpin suka membual

Rakyat dipimpin akan mual

 

Jika pemimpin seorang alim

Tak kan dia berbuat zalim

 

Jika pemimpin orang budiman

Rakyat dipimpin akan nyaman

 

Jika pemimpin amak maruf

Benci dia perbuatan korup

 

Jika pemimpin seorang koruptor

Berani dia bermain kotor

 

Jika pemimpin seorang apatis

Rakyat dipimpin akan menangis

 

Jika pemimpin bersifat boros

Negeri dipimpin akan keropos

(Sulaiman Yusuf)

 

  • Kebatilan tidak akan menjadi kebenaran karena perjalanan waktu (Muhammad Abduh).
  • Katakanlah yang benar, walaupun pahit untuk mengatakannya (Nabi Muhammad SAW).
  • Manakala kita menyadari bahwa kita menyeleweng, maka adalah kewajiban kita untuk berbalik dan kembali meneruskan perjalanan yang benar (Mahatma Gandhi).
  • Masyarakat adalah seperti perahu; semua orang harus membantu untuk menentukan arah kemudinya (Hendrik Ibsen).
  • Yang baik dan yang jahat selalu menerima upahnya, walaupun upah itu datangnya kadang cepat, kadang lambat (Kong Fu Tsu).

 

Yogyakarta, 28 Mei 2018

Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. Guru Besar UIN Sunan Kalijaga dan Anggota Tim Penyusun Tafsir Tematik Al qur’an Kementerian Agama RI

 

 

Ucapan Terima Kasih dan Persembahan

 

Ucapan Terima Kasih, penulis sampaikan kepada

  1. Allah SWT, Tuhan yang Satu sebagai kekuatan yang mampu Menghidupi dan Mematikan setiap makhluk. Tanpa “kekuatan” dan “kekuasaannya” buku ini tidak bisa dinikmati oleh Pembaca.
  2. Nabi Muhammad SAW, semoga buku ini memberikan jalan agar kita selalu diberi kemudahan dalam menjalankan Sunah-sunahnya.
  3. Almamaterku, Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang yang telah memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat kepada Penulis.
  4. Universitas Negeri Semarang, tempat Penulis bekerja yang telah menginspirasi untuk selalu berkarya.
  5. Istri, Lu’lu’ Khakimah dan kedua anak Penulis (Mubin dan Syafa’) yang telah memberikan waktu dan kesempatan untuk selalu menuliskan yang ada di lingkungan.

 

 

 

Persembahan : Kedua orang tua (Almarhum Madik dan Zumrohati).

URUTAN WAKTU PELAKSANAAN SHOLAT GERHANA BULAN

URUTAN WAKTU PELAKSANAAN

SHOLAT GERHANA BULAN

 

 

WhatsApp Image 2019-07-15 at 07.47.26(1)

Urutan/ rundown waktu sholat gerhana, Insya Allah

pada tanggal Rabu, 17 Juli 2019 sebagai berikut:

 

03.00 – 03.30 : Imam, Bilal, dan Jamaah berdzikir. Perbanyak istighfar, sholawat, dan tahlil.
03.30 – 03.35 : Bilal berdiri untuk mengajak memulai sholat gerhana. “Assolata sunnal likhosufil qomari rak’ataini jamiata romimakumullah”.
03.35 – 03.50 : Sholat selesai.
03.50 – 03.53 : Bilal berdiri untuk mengantar khotib. Khutbah pertama. Doa bilal adalah “ansitu wasma’u wala tatakallamu ‘indal khutbah. La’allakum tattaqun. Ansitu was ma’u wa la tatakallamu ‘indal khutbah. La’allakum tuflikhun. Ansitu rokhimakumullah.”
03.53 – 03.54 : Khotib salam. “Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarokatuh”. Khotib duduk.
03.54 – 03.55 : Bilal memimpin doa. “Allahumma solli ala sayyidina wa maulana muhammad. Allahumma thowwil Islam minal muslimina wal muslimat wal mukminina wal mukminat wang suruhum robbigtimlana minka bil khoir waya khoirunnasirina birohmatika ya arkhamarrokhimin”.
03.55 – 04.12 : Khotib khutbah pertama.
04.12- 04.14 : Bilal membaca solawat. “Allhumma solli ala sayyina wamaulana Muhammad”. Atau, membaca “allahumma solli wasallim wazid wadum wa an im wabarik”. Sampai akhir.
04.14 – 04.16 : Khotib khutbah kedua.
04.16 – 04.29    : Khotib turun dari mimbar dan mengajak salaman kepada jamaah

 

Selesai pelaksanaan sholat gerhana.

 

Jamaah dan Imam menunggu waktu sholat subuh untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah

PENGUMUMAN PELAKSANAAN SHOLAT GERHANA BULAN

WhatsApp Image 2019-07-15 at 07.47.26

PENGUMUMAN

PELAKSANAAN SHOLAT GERHANA BULAN

 

Kuasa Allah sangatlah luar biasa, dengan segala kuasanya yang telah kita lihat seperti adanya alam semesta dan seisinya. Keadaan tersebut depat dilihat dengan adanya gerhana baik bula maupun matahari. dengan hal tersebut layaknya kita sebagai makhluk-Nya mengucap syukur atas kuasanya dengan melakukan hal-hal yang di anjurkan Rosululluah SAW.

 

 

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda kekuasaan Allah Swt, tidak terjadi gerhana keduanya (matahari dan bulan) karena kematian seseorang ataupun kehidupannya. Apabila kalian melihat gerhana maka shalatlah dan berdoalah hingga gerhana tersebut selesai.” (H. Shahih Muslim)

 

 

Untuk itu marilah saudara-sadaraku seiman bersama-sama kita persiapkan untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan menegakan sunah yang telah dianjurkan dan dilakukan oleh Rosulullah Saw dengan melakukan solat gerhana bulan, yang bertepat di:

 

Hari/Tanggal         :       Rabu, 14 DzulKa

Syahadat

Syahadat (3)
Oleh Agung Kuswantoro

Konsekuensi orang yang telah mengucapkan syahadat adalah ‘terkena’ hukum. ‘Terkena’ hukum dalam hal ini yang dimaksud adalah orang yang sudah mengucapkan syahadat, maka wajib melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam agama Islam.

Ia wajib berpuasa di bulan Ramadhan. Ia wajib melaksanakan sholat. Ia wajib menunaikan zakat. Dan, ia wajib melakukan ibadah haji, jika yang bersangkutan mampu. Itulah konsekuensi dari orang yang telah mengucapkan syahadat. Waallahu’alam.

Semarang, 27 Juni 2019

Syahadat (4)
Oleh Agung Kuswantoro

Dalam kitab Safinatus Sholah sudah diterangkan bahwa orang Baligh dan Berakal itu wajib mengucapkan kalimat syahadat. Lalu, muncul pertanyaan, Bagaimana cara masuk agama Islam yang kita lakukan? Dimana sejak kecil (baca: bayi) sudah Islam, ketika dewasa tidak melafalkan syahadat secara formal?

Pertanyaan di atas sangat berkaitan dengan adat istiadat. Di Indonesia yang kebanyakan/mayoritas beragama Islam, maka sejak bayi pun otomatis Islam. Waktu bayi, jelas tidak bisa melafalkan syahadat. Orang tua atau Ustad kampung yang meng-azan-i pada telinga kanan dan meng-iqomah-i pada telinga kiri. Berarti dengan sendirinya, bayi tersebut beragama Islam. Hal ini terjadi, karena faktor budaya/adat di suatu tempat.

Ada pula orang yang masuk Islam tidak ditandai dengan azan dan iqomah ketika bayi. Tetapi, dengan melafalkan syahadat. Melafalkan syahadat inilah – menurut saya – sebagaimana “isi” kitab Safinatus Sholah. Dimana, orang yang berakal dan baligh wajib mengucapkan kalimat syahadat. Artinya, ia telah memeluk agama Islam.

Dalam pengamatan saya, orang yang memeluk agama Islam melalui di-azan-i pada telinga kanan dan di-iqomah-i pada telinga kiri itu sangat berbeda akan kualitas ibadahnya dibanding dengan orang memeluk Islam melalui syahadat.

Orang yang memeluk Islam melalui di-azan-i dan iqomah-i biasanya kesadaran akan keislamannya kurang. Namun, orang yang bersyahadat dalam memeluk Islam, biasanya kesadaran akan keislamannya kuat. Sekali lagi, ini hanya analisis saya saja. Bisa juga, saya salah dalam menganalisis.

Waallahu’alam

Semarang, 24 Juni 2019

Syahadat (5)
Oleh Agung Kuswantoro
Ada sebuah fenomena akhir-akhir ini, media diramaikan dengan berita Deddy Corbuzier memeluk agama Islam. Mari perhatikan, apa yang dilakukan oleh Dedy Corbuzier dalam memeluk Islam. Jawabnya adalah ia mengucapkan syahadat. Setelah itu, ia melakukan sholat perdana/pertama yang diimani oleh kiai Ma’ruf Amin.

Artinya, setelah ia mengucapkan syahadat, maka ia terbebani hukum yaitu sholat. Ia juga, berkewajiban membayar zakat, melaksanakan ibadah puasa, dan berhaji (jika mampu). Dan, ibadah lainnya.

Proses masuk Islamnya, tidak melalui di-azan-i dan di-iqomah-i pada telinga kanan dan kiri. Namun, melalui pengucapan kalimat syahadat. Sebelum masuk Islam, ia telah belajar mengenai ajaran-ajaran agama Islam. Dalam belajar, ia bertanya kepada Ustad/ahli agama. Hingga, pada waktunya, ia mantap mengucapkan kalimat syahadat.

Mengucapkan kalimat syahadat juga ada ilmunya. Disinilah, letak perjuangan seorang hamba Allah yang Balig dan Berakal dalam proses menuju Islam. Sehingga, terlihat akan proses kualitas kemuslimannya. Waallahu’alam.

Semarang, 25 Juni 2019

Syahadat (6)
Oleh Agung Kuswantoro

Yang belum dibahas mengenai syahadat adalah Syahadat Rosul. Adapun lafal syahadat Rosul adalah “Waasyhadu Anna Muhammadarrosululloh”. Artinya, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW itu utusan Allah.

Yang perlu diperhatikan adalah bacaan ghunnah pada ANNA Muhammad. Biasanya membacanya tidak dengung, seharusnya dengung. Dalam tajwid dibaca tiga ketukan.

Konsekuensi dari Syahadat Rosul ini adalah mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah kekasih Allah. Rosul terakhir, dan kita sebagai umatnya. Oleh karenanya, kita patut meneladani akhlak Nabi Muhammad. Lalu, Tidak ada Rosul setelahnya. Itulah poin-poin yang ada dalam Syahadat Rosul. Waallahu’alam.

Semarang, 25 Juni

Tangan Sudah Berjabat Tangan, Hati Belum Berjabat Tangan

Tangan Sudah Berjabat Tangan, Hati Belum Berjabat Tangan
Oleh Agung Kuswantoro

Kumandang takbir sudah bergema. Umat Muslim di seluruh dunia, bersiap untuk menyambut hari kemenangan. Namanya saja kemenangan, pasti dirasakan dengan bahagia. Tidak ada orang yang bersedih di hari itu.

Kegembiraan diwujudkan dengan pakaian yang rapi saat sholat Id, masakan opor ayam, anak kecil ikut takbiran di Masjid/Musholla, dan kegiatan positif lainnya. Itulah beberapa wujud kegembiraan.

Umat Islam menyambut bulan Syawal. Setelah sholat usai, kemudian orang saling bersalam-salaman. Anak bersalaman kepada orang tua. Suami bersalaman kepada Istri, Rakyat bersalaman kepada Presiden/Raja, Pemimpin bersalaman kepada Pengikut, Tetangga bersalaman kepada Tetangga, dan hamba Allah bersalaman kepada hamba Allah lainnya.

Salaman adalah wujud memaafkan antar sesama. Minimal dilakukan oleh dua orang. Ada orang yang diajak salaman dan mengajak salaman. Tidak dinamakan salaman, jika dilakukan oleh seorang diri.

Lalu, saat bersalaman, ada yang mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin”. Kemudian, dijawab dengan “ sama-sama”, dan “kita saling memaafkan”.

Atau, dengan kalimat lain “minal aidin, wal faizin”. Kemudian dibalas dengan, “taqobbalallahuma minal aidin, wal faizin”. Atau, kalimat “mohon maaf lahir dan batin”. Kemudian dijawab dengan “semoga Allah menerima atas kesalahan dan Allah mengembalikan kepada fitrah”.

Ucapan dan tindakan tersebut sejalan dengan apa yang telah dilakukan oleh orang yang bersalaman. Seharusnya! Namun dalam kenyatannya, ada orang yang bersalaman, tetapi belum bisa menerima atas kesalahan orang tersebut. Bisa dikatakan, “orang bersalaman, secara fisik, namun batinnya, belum bersalaman”. Orang tersebut, hanya bersalaman secara tangan saja. Hatinya, belum bersalaman.

Salaman adalah “simbol” saling memaafkan. Jika ada kasus seperti di atas, bisa dikatakan ia sebagai munafik. Mengapa? Karena, antara tindakan dan ucapan itu berbeda. Seharusnya, antara tindakan dan ucapan itua sama. Lurus dan searah.

Jangan sampai mengatakan, “saya bisa memaafkan atas kesalahan orang tersebut, namun saya belum bisa menghilangkan kesalahannya dalam ingatanku”. Kata-kata tersebut menunjukkan bahwa ia, sebenarnya belum memaafkan.

Maaf secara bahasa adalah menghapus. Menghapus ini adalah menghilangkan segala bentuk atas apa yang telah dilakukan oleh sesuatu. Termasuk, kesalahan. Oleh karenanya, agama Islam menuntun kepada hamba-Nya, yaitu mengikhlaskan atas kesalahan orang lain, yang telah diperbuat kepada kita. Ikhlas adalah level/kelas tertinggi dalam hal ini. Karena, kesalahan itu kunci untuk menghilangkan (baca: menghapus) adalah mengikhlaskan. Bukan, membalas dengan tindakan serupa yang telah diperbuat seseorang kepada kita. Itu namanya, balas dendam. Sikap ini tidak dianjurkan dalam agama Islam. Untuk menuju tehap ikhlas atas kesalahan orang lain. Ada beberapa tips agar kita bisa melaksanakan diantaranya:

Pertama, tidak membalas atas kesalahan yang telah diperbuat oleh orang lain. Artinya, membiarkan saja, tindakan “salah” yang telah dilakukan kepada kita. Kita cuek terhadap kesalahan tersebut. Sebenarnya, kita mengetahui bahwa yang dilakukan itu sebuah kesalahan.

Kedua, diam dan mengucapkan istighfar. Tindakan ini, paling aman, karena kita tidak berucap kepada orang yang telah berbuat salah. Bahkan, mulut kita mengucapkan ampunan kepada Allah. Mohon ampunan tersebut ditujukan kepada Allah untuk kita. Jadi, ia memohon ampunan untuk dirinya dan orang lain.

Ketiga, mendoakan atas orang lain yang telah berbuat salah kepada kita. Artinya, ia berdoa kepada Allah agar orang yang telah melakukan kesalahan kepada kita diberi kemudahan dalam hidup. Ia tidak egois kepada dirinya. Bahkan, bersikap terbuka kepada siapa saja. “Hatinya”, tidak mudah “terluka”. Sehingga “doa” adalah harapan dia kepada Allah. Ia menganggap bahwa, yang telah melakukan kesalahan tersebut itu manusia. Manusia adalah seorang hamba. Dan, hamba pasti membutuhkan Allah. Jadi, cara agar berkomunikasi dengan Allah itu baik dan lancar adlaah doa. Jadi, urutannya “cuek”, diam, dan beristighfar, serta berdoa untuk orang yang berbuat salah.

Dengan demikian, melalui beberapa cara tersebut, diharapkan bersalaman itu tidak hanya dengan tangan saja, tetapi hatinya. Hatinya akan mudah memaafkan kesalahan kepada orang lain.

Cobalah latihan untuk mengikhlaskan kesalahan dengan langkah-langkah itu. Allah saja, Maha Pemaaf, masa kita sebagai hamba tidak bisa memaafkan atas kesalahan orang lain? Waallahu’alam.

Pemalang, 4 Juni 2019

Agung Kuswantoro, dosen dan penulis buku tentang pendidikan administrasi perkantoran dan sosial (agama). Saat ini, penulis sedang membangun dan mengembangkan Madrasah Diniah (baca: Sekolah Arab) di daerah tempat tinggalnya, Semarang. Email: agungbinmadik@gmail.com
HP 08179599 354

Kitab Puasa (1)

Kitab Puasa (1)
Oleh Agung Kuswantoro

IMG20190501040212.jpg

Rujukan yang saya gunakan dalam materi ini adalah kitab Fathul Qorib. Nama lainnya adalah Taqrib. Sebuah kita fiqih yang sering digunakan di pondok pesantren dalam mengaji fiqih.

Dalam kultum ini saya akan menyampaikan mengenai puasa.

Puasa bahasa arabnya assiyam. Assiyam memiliki arti Al-imsak. Artinya menahan. Bahasa jawanya atau santri biasanya mengabsahi (baca:memaknai) yaitu menahan atau “neker”.

Arti puasa secara bahasa adalah menahan. Contoh sederhana yaitu saya sedang “menahan” makanan dan minuman. Berarti ia sedang puasa.

Lagi, saya sedang “menahan” emosi. Berarti ia sedang puasa hawa nafsu.

Atau, saya sedang “menahan” uang untuk beli baju. Berarti ia sedang berpuasa belanja.

Contoh-contoh makna puasa secara bahasa. Yaitu, imsak atau menahan.

Bersambung.

Semarang, 1 Mei 2019

ZIARAH

ZIARAH
Oleh Agung Kuswantoro

“Berlomba saling memperbanyak telah melengahkan kamu, kamu menziarahi kubur-kubur/ sampai-sampai kamu menziarahi kubur-kubur leluhur kamu” (QS. At-Takatsur [102]: 12).

Alhamdulillah, atas izin Allah kita dalam keadaan sehat walafiat, sehingga dapat melaksanakan ibadah di hari Jumat ini. Tepat, besok kita akan menyelenggarakan puncak Dies ke-54 UNNES di Auditorium, kampus Sekaran.

Sekadar mengenang, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 271 tahun 1965 bahwa mengesahkan pendirian Institut Negara di Semarang sebagaimana Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Nomor 40 tahun 1965 tanggal 8 Maret 1965.
Institut tersebut bernama IKIP Semarang. Institut tersebut terdiri dari Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan Sastra Seni, dan Fakultas Keguruan Ilmu Eksakta. Surat Keputusan Presiden tersebut, mulai berlaku pada hari ditetapkan dan mempunyai daya surut sampai tanggal 30 Maret 1965. Sehingga, tiap 30 Maret itulah Dies UNNES kita selenggarakan.

Ada budaya yang sangat baik di lingkungan kita saat Dies, yaitu ziarah kubur. Pimpinan dan para pejabat lembaga berziarah ke makam leluhur, seperti Almarhum Bapak Mochtar (Ketua Presidium IKIP Semarang 1965-1966), Almarhum Mayjen Moenadi (Ketua Presidium IKIP Semarang 1966-1967), Almarhum Prof Drs Wuryanto (Rektor IKIP Semarang 1967-1977), Almarhum Drs Hari Mulyono (Rektor IKIP Semarang 1977-1986), dan Almarhum Prof Dr Retmono (Rektor IKIP Semarang 1986-1994). Selain itu, pimpinan kita berziarah ke makam leluhur yang memiliki jasa dalam membesarkan nama UNNES.

Lalu, muncul pertanyaan yaitu “Apa itu ziarah kubur?” Kata ziarah berasal dari bahasa Arab, yang memiliki arti kunjungan singkat. Ziarah kubur mengisyaratkan kunjungan ke tempat pemakaman, tetapi tidak berlama-lama.

“Mengapa berkunjungnya singkat?” Dahulu pada masa Jahiliyah, masyarakat Mekkah dan sekitarnya sering kali berkunjung ke kubur, antara lain untuk membangga-banggakan leluhur mereka dan membanding-bandingkannya dengan leluhur mereka sekaligus berdoa kepada leluhur yang telah dikubur itu.

Alqur’an mengecam mereka, sebagaimana ayat di atas “Berlomba saling memperbanyak telah melengahkan kamu, kamu menziarahi kubur-kubur/atau sampai-sampai kamu menziarahi kubur-kubur leluhur kamu (QS. At-Takatsur [102]: 12).

Akibat sikap mereka yang buruk itu, Rasulullah melarang untuk menziarahi kubur, tetapi setelah berlalu sekian lama dan setelah sahabat-sahabat Rasul itu menyadari keburukan tradisi Jahiliyah, maka beliau mengizinkan, bahkan beliau sendiri berziarah ke kubur. Dalam konteks itu, Nabi Muhammad SAW mengatakan “Aku tadinya melarang kalian menziarahi kubur, tapi kini silakan ziarahilah. (HR. at-Tirmidzy).

Nabi Muhammad SAW menganjurkan itu, agar peziarah mengingat kematian, mengingat bahwa makhluk diciptakan untuk punah, bukan untuk kekal hidup di dunia. Lalu, penziarah agar merenungkan apa yang telah dilakukan oleh yang telah wafat itu. Apabila almarhum memiliki amal baik baik, agar kita meneladani dan mendoakan. Apabila almarhum memiliki amal buruk, agar kita dapat mengambil hikmah atas kejadian yang dialamainya.

Kita dianjurkan berziarah, karena tidak sedikit orang yang lengah, seakan-akan kematian hanya dialami orang lain, bukan kita. Sebagaimana ayat berikut “Apakah jika engkau wafat, wahai Nabi Muhammad, mereka yang kekal? Begitu kecaman Allah kepada yang lengah (QS. al-Anbiya’ [21]: 34).

Yang wafat/meninggal dunia pada hakikatnya benar-benar telah meninggalkan dunia, walau badannya berada di liang kubur, karena substansi manusia adalah ruhnya. Sedangkan, badannya hanya tempat/wadah. Lalu, ruh digunakan untuk mencapai tujuannya.

Ibaratnya, petani bukan cangkulnya. Penulis, bukan penanya. Ruh yang telah meninggalkan badan. Sekarang, ruh di satu alam yang bukan alam duniawi. Bukan juga, alam ukhrawi.

Ruh berada di Alam Barzah. Alam Barzah sebagai alam pemisah antara dunia untuk kemudian, jika kiamat tiba, semua digiring ke Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan kegiatannya masing-masing selama berada di dunia.

Tanah yang menampung jazad/fisik, bukan untuk kepentingan yang wafat. Tetapi untuk orang yang masih hidup, agar mereka terhindar dari aroma jazad yang membusuk dan menjadi renungan bagi orang yang masih hidup. Serta, menjadi simbol tempat pertemuan oleh yang berada di dunia.

Melapangkan kubur, bukanlah memperluas dan memperindah makam. Karena itu, tidak ada gunanya buat yang wafat. Istana yang luas dan indah menjadi sempit, jika jiwa tak tenang hatinya. Sebaliknya, gubuk yang sempit, terasa lapang bagi yang hatinya tenang.

Berdoalah agar Allah melapangkan kubur seseorang. Memohon agar yang wafat memperoleh ketengangan dan kelapangan di tempat yang kini ia berada, yakni di Alam Barzah.

Area kuburan digunakan oleh yang hidup untuk berziarah (berkunjung sejenak), sebagaimana makna harfiah ziarah. Karena itu, yang penting adalah memberi tanda pengenal tentang siapa yang dimakamkan di sana dan tidak perlu mewah, cukup jika bersih dan tidak menyulitkan atau membebani peziarah.

Sekali lagi, ziarah kubur dianjurkan kapan saja, sebelum atau sesudah Ramadhan, pada Hari Raya atau hari biasa, malam atau siang hari.

Ada yang lebih penting dari ziarah kubur, yaitu ziarah pemikiran atas orang yang telah wafat. Levelnya lebih tinggi dari ziarah kubur. Orang yang berziarah akan belajar melalui pikiran-pikiran Almarhum. “Melalui apa?”. Karya! Karya dari Almarhum. Mari, kita tingkatkan ilmu dan iman kita, agar orang tak sekadar ziarah secara fisik di kuburan, namun juga dapat berziarah atas pemikiran kita kelak.

Dari penjelasan di atas, ada beberapa simpulan
1. Besok adalah dies natalis UNNES yang ke-54, mari kita bersyukur dengan menghadiri acara dies di Auditorium UNNES. Berdoa agar UNNES selalu diberi keberkahan dan kesalamatan.

2. Pertahankan budaya ziarah kubur kepada leluhur di lembaga ini. Karena, beliaulah, lembaga ini bisa berkembang hingga sekarang. Doakan selalu agar ia selalu dalam lindungan Allah.

3. Tingkatkan iman dan ilmu, agar kelak saat kita meninggal dunia tidak cukup diziarahi kubur (ziarah fisik), namun juga diziarahi pemikiran atas ide/gagasan yang pernah kita perbuat untuk sesama. Sehingga, pikiran/ide tersebut masih digunakan walaupun ia sudah wafat. Caranya dengan cara berkarya, menulis, atau pun perbuatan positif lainnya. Waallahu ‘alam.

Semarang, 22 Rojab 1440

Previous Older Entries