Ngaji Tauhid (15):Keimanan Nabi Zakaria

Ngaji Tauhid (15): Keimanan Nabi Zakaria
Oleh Agung Kuswantoro

Setelah mengaji mengenai keimanan. Mari kita lanjutkan kajian berikutnya, yaitu contoh keimanan seseorang. Alqur’an dalam surat Ali Imron, ada kisah menarik mengenai Nabi Zakaria. Ternyata, ada nama keluarga yang dijadikan nama surat dalam Alquran yaitu “Keluaga Imron”. Sehingga, menarik kita pelajari jika saat ini lagi marak film “Keluarga Cemara”.

Dalam keluarga tersebut, ada sosok bernama Nabi Zakaria. Nabi Zakaria mengalami kegalauan. Karena usia sudah mencapai 90 tahun. Namun, belum dikaruniai keturunan/anak. Ia berharap, melalui anaknya, kelak dapat melanjutkan perjuangannya untuk berdakwah. Usia istri Nabi Zakaria juga sudah tidak muda lagi (tua). Bahkan, divonis dengan mandul. Artinya, secara kedokteran tidak bisa memiliki keturunan.

Silakan buka surat Ali Imron ayat 33-41. Nabi Zakaria belajar dari Maryam, bahwa Maryam memiliki keturunan tanpa adanya sosok Bapak. Sehingga, tidak terjadi perkawinan antara perempuan dan laki-laki. Lalu, Maryam mendapatkan makanan (rizki) di Mihrob/Kamarnya. Saat ditanya, dari mana makanan ini? Jawabnya Maryam ini berasal dari Allah.

Jawaban Maryam, jika pendekatannya akal, maka tidak mungkin. Harus ada unsur tindakan/kegiatan. Ada makanan, berarti ada yang mengantarkan makanan atau ada yang memasaknya. Namun, jika pendekatannya iman, maka benar, bahwa makanan itu berasal dari Allah.

Sama hal ini. Sakit Anda bisa sembuh karena siapa? Jika jawabannya menggunakan akal, maka jawaban, karena berobat ke Dokter. Atau, sembuhnya penyakit karena obat. Tetapi, jika jawabannya menggunakan iman, maka jawabannya karena Allah. Allah-lah yang menyembuhkan penyakit ini, lantaran/melalui dokter atau obat ini. Jadi, jawaban antara orang yang beriman dan (belum) itu pun berbeda. Sebagaimana Maryam. Disitulah, Nabi Zakaria belajar (juga) keimanan dari Maryam.

Terkait kondisi Nabi Zakaria yang ingin memiliki keturunan, dimana ia memiliki keterbatasan yaitu mandul istrinya dan umur sudah tua. Belajar dari keyakinan Maryam, Nabi Zakaria pun berdoa dengan penuh kesungguhan. Keyakinan akan doanya terkabulkan sangat tinggi. Karena, ia yakin bahwa Allah itu Maha Mendengar atas doanya.

Alhamdulillah, malaikat Jibril mendengarkan doa Nabi Zakaria. Allah-pun mengizinkan doa Nabi Zakaria. Doa Nabi Zakaria dikabulkan/diterima oleh Allah. Anak Nabi Zakaria dididik olehnya bersama istrinya dengan nilai-nilai akidah.

Itulah, kisah keimanan Nabi Zakaria yang tertulis di surat Ali Imron (ayat 31-41), di mana ia sangat yakin bahwa Allah pasti mengabulkan doanya. Oleh karenanya, mari kita kuatkan iman kita. Akal bisa mengatakan “tidak”. Tapi iman, dapat mengatakan “ya”. Akal bisa mengatakan “mandul”, tapi iman dapat mengatakan “hamil”. Itulah yakin yang terletak di hati. Dimana, didalam hati, ada Allah yang Maha Kuasa. Waallahu’alam.

Semarang, 14 Januari 2019

%d blogger menyukai ini: