Pengungkapan Diri

Pengungkapan Diri

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Setelah kita belajar kesadaran diri melalui Johari Windows, tiba saatnya untuk mengungkapkan diri. Pengungkapan diri sebagai wujud menggambarkan “sosok” yang ada dalam diri seseorang. Minimal memaparkan jendela-jendela yang berjumlah empat, yaitu daerah terbuka, tertutup, buta, dan gelap.

 

Buatlah jendela Johari, namun berisi mengenai diri kita sendiri. Silakan diisi setiap jendela dengan poin-pointnya saja. Keterangannya ditulis dibawah bagannya. Sekali lagi, dasar pengungkapan diri ini adalah berbasis pada diri sendiri. Andalah yang lebih mengetahui kesadaran diri Anda. Sehingga tugas ini bersifat rahasia  antara Anda dengan saya.

 

Setiap orang pasti memiliki daerah yang berbeda-beda. Ada yang lebih luas daerah terbukanya. Ada yang luas daerahnya tertutupnya. Ada pula yang luas daerah buta atau gelapnya. Disitulah letak dari fungsi mengungkapkan diri.

 

Tugas ini dikumpulkan hari Jumat (28/09) di meja saya. Buat dengan sebaik-baiknya di buku tulis. Tugas ini sebagai dasar dalam keterampilan menulis dan bicara. Selamat mengerjakan.

 

Batam, 27 September 2017

 

 

 

 

 

 

Iklan

Barcode dan Cash Register

Barcode dan Cash Register

Oleh Agung Kuswantoro

 

Suatu tantangan bagi saya mengajar mata kuliah teknologi perkantoran. Alat-alat perkantoran  saat ini begitu dinamis. Oleh karenanya, saya pun harus meng-update alat-alat kantor. Kemungkinan besar di sekolah-sekolah terkait alat kantor masih (belum) canggih. Alatnya masih sederhana.

 

Latar belakang itulah yang menggugah saya untuk belajar perkembangan alat perkantoran. Misal, alat hitung, ada cash register. cash register harus kita gali bagaicara bekerjanya hingga ada barcodenya.

 

Alhamdulillah di Laboratorium saya sudah ada cash register dan alat barcode. Namun, mahasiswa dan saya belum mengetahui cara penggunaan atas cash register dan barcode secara detail.

 

Beberapa video (10 video-an) tentang pengggunaan alat hitung cash register, saya download dengan maksud agar saya bisa mempelajarinya. Disinilah tantangan saya, dimana saya sendiri belum bisa mengoperasionalkan.

 

Saya ikuti langkah dan petunjuk di cash register di video tersebut. Namun, saat menggunakan barcodenya belum berhasil. Akhirnya, saya memutuskan untuk bekerjasama dengan para mahasiswa untuk belajar alat cash register dengan barcode. Hingga tulisan ini ditulis, belum berhasil mengoperasionalkan alat cash register. Itulah tantangannya.

 

Tapi saya yakin, pasti bisa menggunakan cash register berbantuan barcode. Masa Tuhan membiarkan hambanya yang telah berusaha? Waallahu’alam.

 

Batam, 27 September 2017

Menakar Kepemimpinan Diri Sendiri

 

Menakar Kepemimpinan Diri Sendiri

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Dalam dimensi kepemimpinan ada 3 komponen yaitu pemimpin, pengikut, dan situasi. Dalam pertemuan awal atau di modul telah dijelaskan secara detail mengenai definisi kepemimpinan.

 

 

Dari definisi-definisi dan konsep-konsep kepemimpinan,  cobalah Anda pahami maknanya, lalu refleksikan dalam diri Anda. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Dari 3 dimensi itu (pemimpin, pengikut, dan situasi), apakah ada jiwa kepemimpinan dalam diri Anda? Jika ada terangkan dan jelaskan disertai dengan bagan.
  2. Lihatlah situasi keluarga Anda (Bapak, Ibu, atau saudara Anda), adakah yang Anda kagumi kepemimpinannya? Jika ada, terangkan berdasarkan konsep-konsep kepemimpinan.
  3. Anda lebih suka mana antara menjadi pemimpin atau pengikut? Kemungkinan pendapat Anda dengan detail terkait alasan pertanyaan tersebut. Jangan lupa disertai dalil-dalil atau teori-teori yang mendukung, mengapa Anda memilih sebagai pemimpin/pengikut?
  4. Sebagai wujud rasa bangga Anda terhadap kepemimpinan di keluarga (kampus) Anda, apakah yang Anda lakukan? Lihatlah jawaban Anda dari teori-teori yang ada. Bukan mengarang indah, namun perhatikan point-pointnya. Jelaskan dengan detail dan lengkap, rasa bangga Anda terhadap kepemimpinan Anda.

 

 

Kerjakan pertanyaan-pertanyaan tersebut di buku, beserta tugas yang kemarin dilampirkan. Jika itu sudah diprint, ditempel dibuku tersebut. Kumpulkan pada hari Jum’at tanggal 29 September 2017. Selamat mengerjakan.

 

 

Semarang, 26 September 2017

 

Umatnya Pun Diserukan Untuk Berhati-hati

Umatnya Pun Diserukan Untuk Berhati-hati

Oleh Agung Kuswantoro

 

Surat Alkahfi ayat 28 secara redaksional ditujkan kepada Nabi Muhammad SAW agar tidak menginginkan kesenangan hidup dan perhiasan-perhiasan-Nya. Akan tetapi, anjuran tersebut juga untuk umatnya, agar menjaga segala macam godaan dunia.

 

Nilai yang hakiki bukanlah diukur dari harta, kedudukan, atau kekuasaan, bukan pula pada kenyamanan hidup di dunia dan hiasannya. Tetapi nilai yang paling kekal adalah nilai-nilai illahiyah (Tuhan) yang menghiasi jiwa dan mewarnai aktifitas manusia.

 

Oleh karenanya, tidak ada perbedaan pandangan antara orang kaya dan miskin dari segi kekayaan dan kemiskinannya. Tolak ukur perbedaannya adalah nilai-nilai Illahiyah, sehingga orang kaya tidak menggunakan kekayaannya, untuk keperluan duniawi. Sebaliknya si miskin, perlu bersabar agar selamat dunia dan akhirat, karena Nabi Muhammad SAW sendiri menemani, menganjurkan, dan membimbingnya, an bersabar bersama orang miskin. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 5 September 2017

 

 

 

 

Sholat Khusyuk, Fiqih, dan Tauhid

Sholat Khusyuk, Fiqih, dan Tauhid

Oleh Agung Kuswantoro

 

Sholat khusyuk sangat dianjurkan oleh Allah, sebagaimana tertulis dalam surat Albaqarah ayat 45 yaitu, “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”.

 

Jika saya mengibaratkan khusyuk itu sebuah makanan, maka makanan ini belum tentu dinikmatinya. Makanan bisa dibeli atau diolah sendiri (dimasak), setelah itu makanan bisa dihidangkan dan dimakan. Kebanyakan orang, saat makan hanya sakadar memenuhi hasrat nafsu berupa lapar. Yang penting kenyang setelah lapar.

 

Jarang orang yang makan, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik saja. Misal, niat makan, setelah itu tenaga dari makanan tersebut untuk beribadah kepada Allah berupa sholat, membantu orang lain, bekerja demi mencari nafkah, dan aktivitas lainnya. Aktifitas tersebut bermodalkan tenaga atas makanan tadi, yang sudah diniatkan karena beribadah total kepada Allah.

 

Nah, sholat khusyuk juga demikian. Banyak orang muslim sholat, namun belum tentu meraih puncak khusyuk. Sholat khusyuk tidak semua merasakan. Dalam tulisan saya yang berjudul “Sholat Khusyuk Itu Pekerjaan Orang Beriman” (Kompasiana, 12 Desember 2014), dimana saya menemukan point bahwa ada enam pekerjaan orang beriman yaitu sholat yang khusyuk, menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak berguna, menjaga kemaluannya, menjaga amanat, dan menjaga waktu sholatnya. Itu semua tertulis dalam surat  Almukminun ayat 1-9.

 

Dalam terminologi seperti ini, sangat tepat menggunakan pendekatan ilmu tauhid, dimana ada rukun Islam, rukun iman, dan ihsan. Mari kita lihat yang pertama. Sholat adalah rukun Islam yang kedua. Orang yang tidak sholat, maka rukun Islam dalam dirinya tidak sempurna. Dalam fiqih disebutkan, bahwa syarat sah sholat adalah beragama Islam. Artinya, orang Kristen melakukan sholat, maka jelas tidak sah sholatnya, karena syaratnya tidak terpenuhi.

 

Sebagai orang Islam tidak cukup melakukan sholat, tetapi dari sini fiqih harus diterapkan, sehingga perlu dikaji tata cara (kaifiyah), lafal, haram, sunah, hingga yang membatalkan suatu pekerjaan sholat. Dampak mempelajari ini, semua adalah keteguhan atau kekuatan atas energi sholat. Output setelah melakuka sholat adalah ketenangan, sebagaimana arti dari khusuk itu sendiri. Bahkan, pernyataan Allah yaitu sholat sebagai penolong, Insya Allah bisa diraih, karena apa? Karena, kita sudah mengetahui essensi dari sholat tersebut. Sholat yang ia lakukan, bukan sakadar rutinitas berupa pekerjaan sholat, tetapi sholat yang penuh makna, hikmah, dan “nilai” yang memiliki dampak dalam kehidupannya seperti sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

 

Gampangannya, setelah orang melakukan sholat, ia tidak berbohong. Setelah orang melakukan sholat, ia tidak korupsi, dan setelah ia melakukan sholat, ia tidak melakukan perbuatan tercela. Menurut saya itulah sholat khusyuk.

 

 

Dengan demikian, sholat orang tersebut sudah termasuk dalam indikator ihsan, dimana ia sholat seakan-akan Allah melihatnya sangat dekat. Setelah ia sholat, seakan-akan, Allah mengawasinya. Kehadiran Allah selalu ada dalam hidupnya, karena dampak perbuatan sholat. Itulah ihsan dalam makna sholat.

 

Oleh karenanya, menurut saya, sholat bisa khusyuk dapat dilakukan dengan pendekatan ilmu, berupa fiqih, dan tauhid. Sholat khusyuk dapat diraih, bukan dengan cara “pelatihan sholat khusyuk” atau “metode/ trik agar sholat khusyuk, dan “workshop sholat khusyuk”. Semoga, kita bisa mengaji ilmu-ilmu Allah seperti fiqih dan tauhid agar bisa mengenal Allah melalui sholat khusyuk. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 4 September 2017

Mahasiswa “Di Atas Garis”

elang gumilang

Oleh Agung Kuswantoro

 

Istilah “Diatas Garis”, saya mengambil dari Sabam Silaban – penulis buku Guru Diatas Garis. Tidak hanya guru dan siswa yang diatas garis, mahasiswa pun bisa, menurut Saya. Saat pertemuan pertama perkuliahan, saya masuk pada kelas rombel dengan jurusan yang berbeda dengan jurusan saya. Tantangan bagi saya untuk mengajar kelas tersebut. Tetapi, saya diuntungkan karena kita (saya selaku dosen dan mahasiswa) tidak saling mengenal.

 

Ibarat petinju, saya puas memukul lawan. Sebaliknya, lawan pun bebas memukul saya, ke bagian yang dikehendaki, asal masih sesuai dengan koridor. Tanpa ada tedeng, bahwa saya anak petinju terkenal, atau mahasiswa berasal dari keluarga terhormat. Bebas di ring tinju itu. Saling pukul.

 

Artinya, saya bebas memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada mahasiswa, tanpa melihat latar belakang mahasiswa. Sebaliknya, mahasiswa bebas bertanya kepada saya, tanpa ada rasa enggan sama sekali. Tetapi, tetap dalam koridor akademik. Karena ada aturannya.  Mumpung pula pertemuan pertama, jadi untuk menentukan kontrak perkuliahan.

 

Kontrak perkuliahan bagi saya dalah tawar-menawar dosen dan mahasiswa. Saya selalu meng-uwongke mahasiswa. Terlebih mereka itu sudah baligh dan berakal semua. Saya bertanya pada mereka, bahwa lelaki sudah mengalami mimpi basah dan yang perempuan sudah mengalami haid. Jadi, saya berhadapan dengan orang yang terbebani hukum.

 

Lalu, dalam kontrak perkuliahan, saya memberikan tawaran-tawaran kepada mahasiswa. Ada mahasiswa yang meminta. Sebaliknya, mahasiswa pun memberikan tawaran-tawaran kepada saya. Sesekali saya memintanya juga. Jadi, adil.

 

Singkatnya, aturan (baca: kontrak) yang dibuat berdasarkan permintaan dan penawaran diantara kedua belah pihak. Aturan mahasiswa juga berlaku untuk dosen. Aturan dosen, juga berlaku untuk mahasiswa.

 

Misal, dalam kontrak ada klausul tidak boleh datang terlambat. Datang tepat jam awal kuliah. Dosen terlambat, akan ditinggal mahasiswa. Mahasiswa terlambat, akan ditinggal dosen alias alpha (tidak hadir). Tidak ada tawar-menawar lagi saat pelaksanaan, karena sudah menjadi kesepakatan dalam kontrak.

 

Saat pertemuan pertama pula, tidak mengenal sejumlah 67 mahasiswa. Saya tidak memanggili satu per satu. Saya iseng saja, dengan bertanya “Ada yang namanya Raisa? Jawab mereka tidak ada. Lalu, saya panggil nama mahasiswa, “Ada yang namanya Inka Kristy?” Jawab mereka “tidak ada. Ada yang namanya Faisal? Tanya saya ke mereka. Mereka menjawab “tidak ada.

 

Saya melanjutkan lagi, Faisal yang memiliki Its Milk itu. Ada disini? Jawab mereka tidak ada. Pertanyaan-pertanyaan itu, sebenarnya pancingan saya kepada mereka. Lho kok, nyaris satu kelas ini saya tidak ada yang mengenalnya.

 

Maknanya, kita semua ini ternyata hidup lurus saja dengan garis. Datar. Tidak ada yang istimewa. Bayangkan ada yang duduk menjadi mahasiswa saya di ruang ini, seperti Dude Herlino. Pasti saya mengenalnya. Karena dia seorang yang berpotensi. Atau, sosok mahasiswa Elang Gumilang, mahasiswa IPB yang menjadi kontraktor. Tanpa saya berkenalan, pasti saya mengenalnya.

 

Lalu, siapakah Anda semua?  (mungkin) kita selama ini melakukan kegiatan perkuliahan hanya berupa rutinitas saja. Datang pas jam kuliah, setelah selesai langsung pulang ke kos. Tiap Sabtu – Minggu pulang kampung. Otomatis, biasa hidup Anda. Anda pun menjadi mahasiswa biasa.

 

Cobalah untuk menjadi mahasiswa “Di Atas Garis”. Saat pertemuan pertama ini, pasti tidak perlu yang namanya perkenalan. Karena Anda sudah terkenal. Anda sudah memiliki kekuatan hidup. Mumpung masih kuliah. Optimalkan waktu Anda. Sosok-sosok mahasiswa yang saya sebutkan adalah sama dengan Anda yang berkedudukan sebagai mahasiswa. Lalu, apa bedanya? Bedanya pada semangat hidup. Jadilah yang lebih.

 

Mari kita cek dari diri sendiri. Saya tidak perlu mengenalkan diri. Biarlah kemampuan dan potensi saya yang akan berkenalan dengan mahasiswa. Karena kalau Saudara hebat, pasti saya akan mencari Anda. Jadilah yang hebat. Optimalkan kemampuanmu. Hargai waktu, agar kelak suatu saat kita bertemu, kita sudah saling bertanya, “Kamu punya kemampuan apa?”, bukan , “Nama kamu siapa?”. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 31 Agustus 2017

Agung, Afgan, dan Agnes Monika

Agung, Afgan, dan Agnes Monika

Oleh Agung Kuswantoro

 

Tak kenal, tak sayang. Pepatah itulah yang sering kita dengar saat perkenalan pada mahasiswa baru. Bagi saya, perkenalan dengan menyebut nama diri, alamat, umur, dan seterusnya, itu adalah hal biasa. Namun, kenapa Afgan atau Agnes Monika saat dipanggung atau di sebuah acara, tak perlu mengenalkan diri?

 

Disinilah menurut saya, adalah ada permasalahan. Saya sebagai dosen, nyaris satu kelas tidak ada yang kenal. Saat ada Afgan naik panggung, semua penonton mengenalnya. Padahal dosen “panggung” akademiknya adalah kelas.

 

Pada pertemuan pertama, yang biasanya dosen berkenalan dengan mahasiswa. Namun, saya membuat “permainan kecil-kecilan”. Sebagaimana cerita di atas. Kemudian saya bertanya kepada mahasiswa. “Apakah Anda yakin, bahwa yang duduk dan berdiri di depan Anda adalah dosen Anda?” mahasiwa semua diam tidak ada yang menjawabnya.

 

Lalu, siapakah dosen pada mata kuliah ini? Mahasiswa menjawab, “Bu X”; selaku dosen pertama, dan Pak Agung, selaku dosen kedua. Jawaban ini mementahkan bahwa, dosen yang berdiri di hadapan mahasiswa bukan seorang perempuan. Jadi, jelas laki-laki, jenis kelaminnya. Kemudian, yakinlah, kalau dia adalah Agung? Sebut saya kepada mahasiswa. Mahasiswa diam. Akhirnya, ada mahasiswa – Umar, namanya – karena Bapak tadi berbicara tentang ilmu tersebut dan bertemu dengan Ibu X. Ada juga mahasiswa, menyatakan bahwa saya melihat Bapak di simpeg.unnes.ac.id, saya yakin bahwa Bapak adalah Agung Kuswantoro.

 

Akhirnya, saya mengiyakan, bahwa saya adalah Agung Kuswantoro. “Geli” mendengar mahasiswa tidak mengetahui atau belum mengenal tokoh-tokoh yang telah menginspirasi. Masa Rhenald Kasali, mereka tidak kenal? Kan, aneh! Sebaliknya, Agnes Monika, dan Afgan, langsung mengenalnya? Jadi, lucu nanti seorang Rhenald Kasali kenalan di kelas. Sekali lagi aneh!.

 

Itu, maknanya ada mahasiswa yang keliru dalam cara memandang tokoh seseorang. Kita tidak mengucapkan terima kasih kepada orang yang berjasa di sekitar kita. Buktinya, Wakil Rektor 1, 2, 3 dan 4 hanya beberapa yang mengenalnya. Belum lagi berbicara karyanya.

 

Saya mengajak kepada mahasiswa coba, ketik nama Anda di Google, disitulah awal orang akan mengenal Anda. Carilah orang yang mampu merubah hidup Anda menjadi suskes. Jangan cari orang yang hidupnya datar. Rubahlah cara pandang Anda dalam memilih sosok idola Anda. Disitulah gambaran, bahwa Anda luar biasa. Jelas, kehidupan Anda akan luar biasa. Sebaliknya, jika contohnya adalah sosok yang tidak terkenal dan hidupnya “datar”, dapat dipastikan hidup Anda datar pula. Salam sukses!

 

 

Semarang, 30 Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous Older Entries Next Newer Entries