Tetap Semangat

Tetap Semangat
Oleh Agung Kuswantoro

IMG20190318162425.jpg

Pembelajaran semester II, kurang satu bulan lagi. Alhamdulillah, kami selalu mejaga semangat untuk berbagi mengaji.

Mengatur waktu antara kerja, kuliah, dan mengajar di Madrasah bukanlah hal yang mudah. Kami harus mengatur secara profesional terkait pembelajaran.

Dalam pembelajaran, kami tidak asal. Semua dengan perencanaan. Materi bisa tersampaikan, jika ada guru/ustad yang kompeten. Tiap beberapa bulan sekali, kami mengadakan evaluasi terkait pembelajaran.

Sore tadi, setelah hujan, kami belajar ngaji bersama dengan para santri. Terlihat, ustadah Nisa sedang mengkaji huruf “Za”. Zazizubaz zuzam minal muzni mazizam zaniza.

Ustad Belardo belajar bersama mengenai mahroj huruf “kaf” dan praktik secara langsung pada surat Almaun dengan juz amma berwarna/bertajwid.

Sedangkan ustadah Lu’lu’ mengenalkan huruf dengan kartu. Ada pula, santri yang mewarnai huruf Hijaiyyah.

Alhamdulillah, apa pun kondisinya kami masih bisa menjaga istiqomah untuk mengaji. Hasilnya, walaupun hujan, para santri tetap mengaji.

Saya menanyakan kepada santri mengenai pembelajaran di Madrasah. Alhamdulillah mereka menikmati/senang.

Raihan, santri kelas D mengatakan materi yang di Madrasah lebih detail dibanding di sekolah, seperti kajian tajwid. Ada hukum bilagunnah. Sedangkan di Sekolah tidak ada materi itu.

Beda pula dengan komentar Nanda, ia mengatakan bahwa mengaji disini bisa mengenal banyak teman dan materi mudah dipahami. Awalnya, ia belum memahami mengatakan huruf ‘ain. Sekaang, ia sudah bisa membedakan antara alif dan ‘ain.

Demikianlah, cerita sore bercuaca mendung. Alhamdulillah, masih mendengar ayat-ayat Alqur’an dikumandangkan di Masjid ini. Waallahu’alam.

Semarang, 10 Rajab 1440

Mujizat Alqur’an (3)

Mujizat Alqur’an (3)
Oleh Agung Kuswantoro

Mujizat turun sesuai dengan kondisi masyarakat waktu itu. Masyarakat Nabi Musa terkenal dengan sihirnya. Sehingga, ia mendapatkan mujizat berupa tongkat berubah menjadi ular.

Umat nabi Ibrohim terkenal dengan penyembah berhala. Sehingga, Nabi Ibrohim dibakar dengan api tidak ‘mempan’.

Selain mujizat turun sesuai dengan umatnya, mujizat juga sebagai pembuktian akan kenabian. Oleh karenanya, muzijat turun sekaligus menyakinkan akan sebuah kenabian. Karena, mereka/orang musyrik meragukan akan kenabian dari suatu nabi. Wallahu ‘alam.

Semarang, 11 Rojab 1440

Mendoakan

Mendoakan
Oleh Agung Kuswantoro

Jumat (15 Maret 2019) di masjid Al Noor dan masjid Lindwood terjadi penembakan yang membabi buta. Kita sholat Jumat di masjid ini (Nurul Iman), Alhamdulillah berjalan lancar.

Namun, saudara kita di New Zealand (kedua masjid) ada yang meninggal dunia berjumlah 49 orang. Mereka meninggal ditembak saat sholat Jumat.

Sebagai bentuk saudara muslim, kita hendaknya mendoakan agar jenazah diterima oleh Allah. Insyallah, mereka mati syahid. Tak cukup berdoa, sholat ghoiblah. Biar meresakan apa yang dirasakan olehnya. Terlebih, keluarga yang ditinggalkannya.

Mari, jaga kesatuan sesama muslim. Ramaikan masjid untuk beribadah. Di luar negeri, mau sholat saja merasa was-was. Kita seharusnya, lebih giat pergi ke Masjid.

Jaga persatuan. Jangan sampai, beda ‘pilihan’ atau beda pendapat menjadikan ‘malas’ pergi ke Masjid. Malu, dengan suadara kita yang disana mau beribadah saja, merasa ketakutan. Waallahu ‘alam.

Semarang, 10 Rojab 1440

Mengecek

Mengecek
Oleh Agung Kuswantoro

Alhamdulillah, kita sudah memasuki tanggal 9 Rojab. Kurang 51 hari lagi menuju Ramadhan.

Mari, kita mengecek persiapan batin kita. Ada beberapa pertanyaan seperti berikut:

“Apakah puasa tahun kemarin terlaksana semua?”Jika tidak, sudahkah kita mengqodho/menggantikan dihari lain?”.

Ingatkan istri, saudara perempuan kita terkait hal itu. Karena, mereka ada fase khaid. Dimana, ada “tamu” tiap bulannya.

Lalu, bisa juga saudara laki-laki atau siapa pun yang pernah tidak berpuasa pada bulan Ramadhan dikarenakan sakit atau dalam perjalanan.

Mumpung masih ada waktu untuk mengqodho puasa. Tujuannya agar kita pantas masuk bulan Ramadhan. Waallahu ‘alam.

Semarang, 9 Rojab 1440

Mujizat Alqur’an (2)

Mukjizat Alqur’an (2)
Oleh Agung Kuswantoro

Menurut Shihab (2014:27) kata mukjizat berasal dari kata a’jaza yang artinya melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Pelaku yang melemahkan disebut mu’jiz. Sedangkan, kemampuan melemahkan pihak lain sehingga mampu membungkam lawan disebut mu’jizat. Ada tambahan huruf ta marbutoh pada akhir kata, yang berarti bermakna mubalaghoh (superlatif).

Menurut KBBI mujizat diartikan kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan untuk akal manusia.

Para pakar mengatakan mujizat bertujuan untuk membuktikan kenabian. Berarti ada yang meragukan kenabiannya, sehingga turunlah mujizat. Wallahu ‘alam.

Semarang, 9 Rojab 1440

Mukjizat Alqur’an (1)

Mukjizat Alqur’an (1)
Oleh Agung Kuswantoro

Khusus bab iman kepada kitab Allah, ada yang perlu kami bahas lebih mendalam pada kitab yang bernama Alqur’an.

Fokus kajian mengenai Alqur’an adalah kemukjizatannya.

Kita mengetahui bahwa Alqur’an adalah diantara sekian mukjizat yang diterima oleh Nabi Muhammad. Satu-satunya mukjizat yang bersifat nonfisik.

Kebanyakan mukjizat bersifat fisik. Seperti, Nabi Ibrohim dibakar api tidak ‘mempan’, tongkat nabi Musa bisa berubah menjadi ular, kapal besar Nabi Nuh, dan mukjizat lainnya.

Jadi, bisa dikatakan mukjizat yang berupa tulisan atau buku/kitab adalah Alqur’an. Hingga, sekarang umatnya masih bisa merasakan mukjizat Nabi Muhammad. Dengan catatan, bagi yang membacanya. Waallahu ‘alam.

Semarang, 7 Rojab 1440

Iman Kepada Kitab (10): Alqur’an

Iman Kepada Kitab (10): Alqur’an
Oleh Agung Kuswantoro

Cara mengimani Alqur’an berikutnya

3. Mengamalkan. Melakukan atas apa yang ia telah dibaca dan dipahami.

Berarti tahapannya yaitu membaca, lalu memahaminya. Bukan, paham dulu, baru membaca. Iqro/bacalah dulu, baru bertanya “ma “ana biaqori/apa yang saya baca?”

Misal, ada kalimat “segala puji milik Allah”. Pahamilah, apakah memuji kepada sesama manusia itu termasuk pujian yang dimaksud?

Lalu, saat kita dapat nikmat, siapa yang akan kita puji pertama kali?

Pertanyaan tersebut, wajib kita renungkan dan pikirkan. Jika jawabnya, Allah yang pertama kali kita puji. Maka, seringlah berkata “Alhamdulillahirobbil ‘alamin”. Itulah contoh sederhana mengamalkan Alqur’an. Itu baru, satu ayat.

Mari pelajari ayat-ayat yang lainnya. Waallahu ‘alam.

Semarang, 6 Rojab 1440

Previous Older Entries Next Newer Entries