Sarana Menuju Ke Surga (2)

Sarana Menuju Ke Surga (2)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Setelah Nabi Muhammad SAW menyampaikan tentang pintu-pintu surga, kemudian Nabi Muhammad SAW bertanya kepada Mu’adz, “Hai Mu’adz, maukah saya tunjukkan pokok dari segala perkara, tiang, dan puncaknya?” Nabi Muhammad SAW melanjutkan dengan jawabannya, yaitu “pokok sebuah perkara adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad”.

 

Perbincangan antara Mu’adz dan Nabi Muhammad pun belum selesai. Kemudian, Nabi Muhammad SAW berkata kepada Mua’adz “Maukah saya beritahu sesuatu yang jika kalian laksanakan akan dapat memiliki semuanya?” Maksud dari memiliki semua itu yaitu Islam, sholat, dan jihad. Nabi Muhammad SAW langsung memegang lisannya. Lalu, mengatakan “Jagalah ini dari perkataan kotor/buruk”.

 

Jawaban Nabi Muhammad SAW menegaskan, bahwa pentingnya menjaga lisan, menjaga lisan dapat mengantarkan kepada perbuatan baik. Sebaliknya, akibat dari tidak menjaga lisan menyebabkan seseorang dapat terjungkal wajahnya di neraka di atas hidungnya.

 

Jika saya runtutkan dari hadist yang kemarin kita bicarakan, bahwa hadist ini maknanya, bisa dikatakan, Nabi Muhammad SAW memberikan dalil mengenai sholatul lail. Hadist ini belum selesai, masih ada lanjutannya. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 19 November 2017

Iklan

Akhir Cerita Pemilik Kebun

Akhir Cerita Pemilik Kebun

Oleh Agung Kuswantoro

 

Pembahasan kita telah masuk pada tahap akhir dari kisah pemilik kebun yang dikisahkan dalam surat Alkahfi. Akhirnya, Allah menghancurkan kebun milik orang kafir yang sombong, dengan mendatangkan hujan lebat disertai petir. Hujan dan petir memporak-porandakan kebun milik orang Kafir. Air hujan surut dan membanjiri kebunnya. Pohon-pohon yang ada di kebun tersebut pun tersambar petir. Kurang lebih gambarannya seperti itu.

 

Kalimat yang diucapkan oleh pemilik kebun tersebut yaitu “Aduh, sekiranya dulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan seorang pun”. Jika kita perhatikan, kalimat tersebut adalah bentuk penyesalan orang kafir atas tindakannya yang melupakan Allah. Ia lebih memilih kekayaan dan “perhiasan” dunia dibanding dengan beribadah kepada Allah. Ia lupa akan karunia Allah. Ia tergoda oleh kenikmatan dunia. Namun, penyesalan itu sudah tidak ada artinya. Karena Allah sudah memberikan azab padanya.

 

Allah tidak bisa menolongnya. Dan tidak ada seorang atau makhluk satupun yang bisa menolongnya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Alkahfi ayat 43 yaitu, “Dan tidak ada bagi dia segolong pun yang akan menolongnya selain Allah, dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.

 

Ayat di atas menunjukkan ketegasan Allah terhadap sikap orang kafir (baca: pemilik kebun) yang telah lalai akan perintah Allah di dunia. Bahkan, menghina pemilik kebun orang muslim. Inti dari pembahasan tentang kebun adalah (1) manusia harus bersyukur terhadap nikmat Allah, (2) jangan lalai terhadap nikmat Allah, (3) peringatan (baca: azab) Allah pasti akan datang bagi hamba yang lalai akan nikmat Allah, (4) hanya Allah-lah penolong yang paling hak, bukan manusia. Penolong dalam keadaan apapun.

 

Semoga pembelajaran mengenai pemilik kebun bisa kita ambil hikmahnya. Dan, semoga kita bukan termasuk bagian dari kisah pemilik kebun orang kafir. Amin

 

 

Semarang, 17 November 2017

Sisi Lain Nabi Muhammad SAW

 

Sisi Lain Nabi Muhammad SAW

Oleh Agung Kuswantoro

 

Berbicara sosok Nabi Muhammad SAW, pada akhirnya kita akan kagum akan kepribadiannya. Dalam kitab atau buku, baik dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris mengkaji tentang Nabi Muhammad SAW dengan detail tentang kesolehan dan akhlaknya. Sebagai umatnya, kita wajib mengimaninya. Mengimaninya sebagai bentuk rukun iman kepada Rosulnya. Ini merupakan rukun iman yang ke-4. Lalu adakah sisi lain dari Nabi Muhammad SAW sebagai manusia?

 

Dari beberapa referensi buku yang saya baca, ada beberapa sisi lain mengenai Nabi Muhammad SAW. Pertama, Nabi Muhammad SAW waktu lahir dalam keadaan yatim. Nama ayahnya bernama Abdullah, sedangkan ibunya Aminah. Abdullah meninggalkan Nabi Muhammad SAW (anaknya) saat ia dalam kandungan. Abdullah meninggal saat pulang dari negeri Syam. Setelah membawa barang dagangan, kemudian saat pulang, Abdullah sakit dan dimakamkan di desa sekitar Madinah. Usia Abdullah waktu itu adalah 24 tahun.

 

Kemudian, Nabi Muhammad SAW lahir. Pada hari Senin 12 Robiul Awal tahun Gajah. Saat Nabi Muhammad SAW lahir dalam keadaan sudah dikhitan, sebagaimana hadist yang diriwayatkan Aisyah yaitu Rasulullah bersabda, “Termasuk dari kemuliaanku adalah aku dilahirkan dalam keadaan telah dikhitan dan tidak ada seorang pun melihat aurotku”. Hadist ini, sangat jelas, bahwa Nabi Muhammad SAW lahir sudah dalam keadaan dikhitan.

 

Kedua, menikah. Nabi Muhammad SAW itu menikah, layaknya manusia pada umumnya. Istri pertamanya adalah Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu ‘Anha. Khadijah, dalam tarih (sejarah), bahwa Khadijah sebelum menikah dengan Nabi Muhammad SAW pernah menikah dengan Abu Halah dan Atiq. Saat menikah dengan Abu halah dikaruniai dua anak, bernama Hindun dan Halah. Kemudian, saat menikah dengan Atiq, dikaruniai seorang anak bernama Hindun pula.

 

Adapun Putra-Putri Nabi Muhammad SAW bernama Qosim, Zainab, Ruqoyyah, Umi Kulsum, dan Fatimah, sebagaimana dalam Nadhom dalam Kitab ‘Aqidatun ‘Awam

 

Kelima putra-putri tersebut dilahirkan di Mekkah sebelum menjadi Nabi. Sedangkan putra yang dilahirkan setelah menjadi Nabi adalah Abdullah. Dan, ibu yang melahirkan mereka adalah Khodijah. Yang pertama kali meninggal dunia diantara putra-putri Nabi Muhammad SAW adalah Alqosim dan Abdullah.

 

Ketiga, sedih ditinggalkan (baca:wafat) Khadijah. Nabi Muhammad SAW sangat berduka dengan wafat Khodijah. Karena, pada tahun yang sama Nabi Muhammad SAW sedang ada permasalahan situasi yang tidak mendukung yaitu pembekotan. Bahkan, di tahun yang sama, Abu Tholib pun meninggal dunia, dalam tarih disebutkan 2 bulan setelah Khodijah meninggal, Abu Tholib pun meninggalkan Nabi Muhammad SAW.

 

Ketiga peristiwa ini, mari kita kaji dari sisi kemanusiaan seorang Muhammad SAW. Point pertama yaitu Nabi Muhammad SAW seorang manusia “murni”. Ia bukan “dewa” atau “titisan dewa”. Ia bukan orang yang “sakti”. Bahkan, posisi kelahirannya sudah dalam keadaan yatim. Umumnya manusia lahir, lengkap dengan orang tua dan orang tuanya menyambut kelahiran anaknya dengan bahagia. Tetapi, Nabi Muhammad SAW, justru seorang yatim. Namun, keadaan yang demikian, tidak membuat Nabi Muhammad SAW “hati”nya menjadi kecil. Terbukti Nabi Muhammad SAW, bisa menjadi seorang pemimpin dan Rasul. Orang yang lahir dengan kedua orang tua  (Bapak-Ibu) saja, belum tentu bisa sukses. Maknanya, dalam diri Nabi Muhammad SAW penuh dengan perjuangan.

 

Mau bicara warisan? Jelas, tidak ada, karena ia lahir sudah yatim. Mau bicara jabatan? jelas tidak ada, karena saat lahir kedua orang tuanya sudah meninggal. Lalu, apa yang ia dapat? Yang ia dapat adalah diri dan Allah untuk selalu optimis dalam menjalani kehidupan.

 

Ia menjadi pemimpin karena ditunjuk oleh Allah dan dibesarkan oleh lingkungan. Saat berumur 7 tahun, sudah belajar menggembala kambing atau angon. Saat masih muda, sudah belajar berwirausaha. Saat usia 25 tahun sudah menikah dengan mahar dari uangnya sendiri. Menarik hidupnya. Tidak ada catatan “harta turun dari langit”. Semua proses dilalui dengan usaha dan tawakal.

 

Point kedua, adalah Nabi Muhammad SAW manusia yang juga menikah. Naluri seksualnya ada. Jangan berpikiran Nabi Muhammad SAW itu seperti Malaikat. Tidak! Nabi Muhammad SAW punya nafsu, sebagaimana manusia lainnya. Nabi Muhammad SAW pun bisa sakit. Bahkan, Nabi Muhammad SAW memiliki putra putri (anak). Maknanya, ada perkawinan dengan perempuan. Ada naluri seksual. Wajar sebagaimana manusia lainnya, sebagaimana dalam Nadhom dalam kitab ‘Aqidaul ‘Awam berikut:

 

Point ketiga, adalah Nabi Muhammad SAW merasakan sedih, sama halnya manusia lainnya. Wajarnya, manusia jika ditinggalkan oleh orang yang tercinta, yaitu istri (Khadijah) dan Pamannya (Abu Tholib) meninggal dunia, Nabi Muhammad SAW pun berduka, sehingga tahun tersebut diberi nama Yaumul Khazan atau hari berduka.

 

Melihat keadaan seperti itu, Allah pun tak tega, melihat hambanya larut dalam bersedih, sehingga di tahun tersebut ada peristiwa Isro’ Mi’roj, yang juga sarana menghibur Nabi  Muhammad SAW dengan terbang menembus batas, sekaligus menerima wahyu berupa sholat.

 

Ada beberapa catatan dari ketiga point tersebut, sosok Nabi Muhammad SAW, yaitu berjuang, ulet, sabar, dan tidak balas dendam. Karakter it muncul pada diri beliau. Dapat dilihat darimana karakter itu?

 

 

Pertama, karakter tidak balas dendam. Ternyata Nabi Muhammad SAW pun pernah luka, hingga berdarah. Bahkan giginya pun lepas. Sakit? Pasti! Namun, Nabi Muhammad SAW tidak dendam dengan suku Quraisy. Malah berdoa, semoga keturunannya bisa menjadi hamba yang beriman.

 

Kedua, karakter “guyup” atau kebersamaan. Terlihat saat “sayembara” membawa Hajar Aswad. Yang menang adalah Nabi Muhammad SAW, karena Ia datang paling awal ke masjid untuk Sholat. Berarti dialah yang berhak membawanya, namun ada empat qabilah yang membawa dan mengangkut Hajar Aswad. Justru Nabi Muhammad SAW melepaskan sorbannya untuk membawa Hajar Aswad, lalu pemuka suku (qabilah) yang lainnya ikut membawa hajar aswad di ujung sorbannya.

 

Ketiga, karakter “sabar’. Tampak saat Nabi Muhammad SAW tidak membalas air ludah yang ia terima saat akan sholat. Ia selalu menerima air ludah saat akan ke masjid, hingga ia meninggal dunia. Jadi, peristiwa itu berlangsung lama. Ia sama sekali tidak membalas perlakuan orang meludahi tersebut.

 

Dari pembicaraan di atas, intinya ada dua garis besar yaitu :

  • Nabi Muhammad SAW sama halnya manusia biasa. Ia merasakan sedih, senang, sakit, dan sehat. Nafsu seksualitas pun beliau tetap ada.
  • Yang membedakan antara manusia lainnya, dengan sosok Nabi Muhammad SAW adalah akhlaknya, contoh teladan akhlak terbaik untuk level manusia adalah Nabi Muhammad SAW. Pilihlah contoh yang paling tepat untuk teladan kehidupan, yaitu Nabi Muhammad SAW. Jangan sampai keliru. Karena “tokoh” manusia yang selama ini kita kagumi, belum tentu memiliki akhlak, sebagaimana Nabi Muhammad SAW. Waallahu’alam.

 

Semarang, 16 November 2017

 

 

Ingin Buat Diaroma UNNES

Ingin Buat Diaroma UNNES

Oleh Agung Kuswantoro

 

Diaroma adalah sejenis benda miniatur tiga dimensi untuk menggambarkan suatu pemandangan atau adegan (Wikipedia). Misalnya, diaroma dalam Monumen Jojga Kembali, yang menggambarkan suasana gedung agung (Istana Kepresidenan RI tahun 1959).

 

Itulah pesan yang saya tangkap selama workshop SIKD, kunjungan di arsip UGM dan museum Soeharto di desa Kemusuk, Yogyakarta. Acara ini diselenggarakan ole ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). Selama acara tersebut, dalam hati, saya bertanya pada diri sendiri. Adapun pertanyaannya, “Apakah kita bisa membuat diaroma UNNES? Dimana, metamorfosis UNNES  sangat panjang, dimulai sejak tahun 1965?

 

Itulah, tantangan saya dan teman-teman UPT Kearsipan. Membuat diorama, bahannya harus kuat dulu dan mendiskripsikan sebuah arsip harus valid. Berarti, arsipnya harus ada dulu. Diaroma tidak bisa ada, kalau arsipnya hilang.

 

Saatnya, untuk mengumpulkan arsip-arsip statis UNNES untuk menyusun diaroma UNNES. Menarik menurut saya. Meruntut dan membuat sejarah perjalanan UNNES. Menantang? Pasti. Namun itulah salah satu tugas UPT Kearsipan UNNES.

 

Yogyakarta, 10 November 2017

 

 

 

 

Buku Metodologi Penelitian Yang Enak “Dicemil”

Buku Metodologi Penelitian Yang Enak “Dicemil”

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Judul Buku       : Metodologi Penelitian: Penelitian Bisnis & Pendidikan

Penulis             : Agus Wahyudin

Penerbit          : UNNES Press

Tahun              : 2015

ISBN                 : 978 602 285 063 2

 

 

Membaca buku Metodologi Penelitian: Penelitian Bisnis & Pendidikan, karya Dr. Agus Wahyudin, M.Si, saya merasakan begitu enak dan nyaman. Mengapa? Karena, penulis seakan-akan menuntun saya untuk memahaminya, dengan cara “ramuan” yang sederhana.

 

Penulis yang saya kenal kuat pada filsafat ilmunya. Terbukti pada bab I Pendahuluan. Penulis begitu “menggebu” memaparkan mengenai filsafat ilmu. Saya pun hanyut dalam pemaparannya. Inilah dasar dan gaya yang khas dibawakan olehnya. Namun, pemaparannya sangat jelas dengan bahasa  yang renyah. Kepiawaiannya dalam merangkai kata dan kalimat, begitu mengena. Namun, dalam hal ini, penulis tidak mengungkapkan rasa puitisnya, karena penulis punya kelebihan dalam hal bahasa puitis.

 

Kelebihan dari buku ini adalah contoh-contohnya. Terlihat sekali, konsep dan contohnya. Runtut. Dan, yang dicontohkannya adalah penelitian-penelitian yang terjadi disekitar kita. Saya yang awam metodologi penelitian pun, jadi tahu dan belajar konsep-konsep dalam metodologi penelitian.

 

Buku ini cenderung ke penelitian kuantitatif. Saya yang “penggemar” penelitian kualitatif, merasa dituntun agar mengetahui penelitian kuantitatif. Buku ini sangat cocok untuk dosen, mahasiswa, dan peneliti dalam memahami metodologi penelitian. Memang ada beberapa, salah ketik, kurang huruf, atau tanda baca yang kurang sesuai dalam buku tersebut. namun, itu semua tidak mengurangi rasa untuk mempelajari isi ‘konteks” buku ini. Sekali lagi, buku ini enak dan renyah untuk dibaca. Cocok untuk “cemilan” bagi orang yang ingin belajar metodologi penelitian seperti saya. Terima kasih Dr. Agus Wahyudin.

 

Yogyakarta, 9 November 2017

Apa Itu Dosa dan Kebaikan?

Apa Itu Dosa dan Kebaikan?

Oleh Agung Kuswantoro

 

Kita sering mendengar kata dosa dan kebaikan. Namun, apakah kita tahu, apakah itu kebaikan. Dan, apakah itu dosa? Hadist ke-27 dari kitab, hadis Arbain Nawawi, diterangkan bahwa, kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah yang terasa menganggu jiwamu dan saat pekerjaan itu terlihat oleh orang lain, maka engkau tidak suka. (HR. Muslim).

 

Hadist diatas, diperjelas dengan hadist yang diriwayatkan oleh Wabishah bin Ma’bad yaitu kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, sedangkan dosa apa yang terasa mengganggu jiwa dan menimbulkan keragu-raguan dalam dada, meskipun orang memberi fatwa kepadamu, dan membenarkannya.

 

Dari kedua hadis tersebut, ada beberapa ciri kebaikan yaitu (1) akhlak yang baik, (2) pekerjaan jika dilakukan terasa jiwa dan hati tenang. Sedangkan ciri dosa adalah (1) pekerjaan tersebut jika dilakukan terasa terganggu jiwa/hati, (2) pekerjaan tersebut jika terlihat orang lain, kita merasa tidak suka, (3) hati merasa ragu, meskipun orang sudah mengingatkannya.

 

Kata kunci baik dan dosa ada pada hati. Hati atau “jiwa” menjadi kunci dalam menentukan mana pekerjaan yang baik dan dosa. Hati menjadi kekuatan untuk menentukannya. Jika, kita melakukan pekerjaan dengan hati tenang, berarti itu kebaikan, sedangkan kita melakukan pekerjaan dengan hati tergesa-gesa atau ragu, berarti itu dosa. Mari kita bentengi hati kita, agar selalu berbuat kebaikan. Amin.

 

 

Yogyakarta, 9 November 2017

Nasihat Rasulullah Yang Membuat Hati Gemetar

Nasihat Rasulullah Yang Membuat Hati Gemetar

Oleh Agung Kuswantoro

 

Rasulullah SAW memberikan kepada kami nasehat yang membuat kami bergetar dan air mata bercucuran. Kami berkata, “Ya rasulullah, seakan-akan ini nasihat perpisahan, berilah kami wasiat’. Rasulullah SAW bersabda, “Saya wasiatkan kalian untuk (1) bertakwa kepada Allah SWT, (2) tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian, meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Sebab, diantara kalian yang hidup setelah ini akan menyaksikan banyaknya perselisihan”..

 

Ucapan Rasul diatas merupakan inti dari hadis ke-28 dari Kitab hadist Arbain Nawawi. Isinya sangat jelas, pentingnya takwa dan taat kepada pimpinan. Saat khutbah jumat, khotib selalu mengingatkan dengan takwa. Tujuan berpuasa dalam Alqur’an juga takwa. Takwa juga ciri-ciri orang yang beriman. Itulah takwa.

 

Ternyata takwa menjadi nasihat Nabi Muhammad SAW juga yang membuat hati gemetar bagi umatnya. Maknanya takwa itu adalah suatu tujuan dari harapan setiap muslim. Kalimatnya, sederhana. Bahkan definisinya orang bisa memaknai yaitu menjalankan dan menjauhi perintah dan larangan Allah. Tapi, cobalah melakukannya tiap detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun. Dalam kondisi apa pun.

 

Lalu nasihat mengikuti perintah pemimpin. Uniknya dalam hadist ini adalah pemimpin budak. Maknanya kebanyakan oang tidak menghormati budak. Apalagi budak menjadi  pemimpin. Saya memaknai budak yaitu orang yang berasal dari kalangan bawah dan miskin. Orang yang berasal dari kalangan bawah (baca: biasa) dan miskin, tetapi bisa menjadi budak. Inilah tantangan bagi pengikut, dimana pengikutnya adalah orang mampu dan merasa lebih dari pemimpinnya. Dengan seperti itu, berarti pengikutnya tidak tunduk pada pemimpin yang berasal dari budak.

 

Disinilah, hadis mengajarkan untuk mengikutinya tunduk terhadap pemimpin tidak usah melihat dari mana ia berasal. Ikuti perintah pimpinan. Itulah pesan Nabi Muhammad SAW. Mari, ingat pesan Rasul untuk bertakwa dan  taat terhadap pemimpin meskipun ia berasal dari kalangan budak.

 

 

Yogyakarta, 10 November 2017

Previous Older Entries Next Newer Entries