Mukjizat Alqur’an (1)

Mukjizat Alqur’an (1)
Oleh Agung Kuswantoro

Khusus bab iman kepada kitab Allah, ada yang perlu kami bahas lebih mendalam pada kitab yang bernama Alqur’an.

Fokus kajian mengenai Alqur’an adalah kemukjizatannya.

Kita mengetahui bahwa Alqur’an adalah diantara sekian mukjizat yang diterima oleh Nabi Muhammad. Satu-satunya mukjizat yang bersifat nonfisik.

Kebanyakan mukjizat bersifat fisik. Seperti, Nabi Ibrohim dibakar api tidak ‘mempan’, tongkat nabi Musa bisa berubah menjadi ular, kapal besar Nabi Nuh, dan mukjizat lainnya.

Jadi, bisa dikatakan mukjizat yang berupa tulisan atau buku/kitab adalah Alqur’an. Hingga, sekarang umatnya masih bisa merasakan mukjizat Nabi Muhammad. Dengan catatan, bagi yang membacanya. Waallahu ‘alam.

Semarang, 7 Rojab 1440

Iman Kepada Kitab (10): Alqur’an

Iman Kepada Kitab (10): Alqur’an
Oleh Agung Kuswantoro

Cara mengimani Alqur’an berikutnya

3. Mengamalkan. Melakukan atas apa yang ia telah dibaca dan dipahami.

Berarti tahapannya yaitu membaca, lalu memahaminya. Bukan, paham dulu, baru membaca. Iqro/bacalah dulu, baru bertanya “ma “ana biaqori/apa yang saya baca?”

Misal, ada kalimat “segala puji milik Allah”. Pahamilah, apakah memuji kepada sesama manusia itu termasuk pujian yang dimaksud?

Lalu, saat kita dapat nikmat, siapa yang akan kita puji pertama kali?

Pertanyaan tersebut, wajib kita renungkan dan pikirkan. Jika jawabnya, Allah yang pertama kali kita puji. Maka, seringlah berkata “Alhamdulillahirobbil ‘alamin”. Itulah contoh sederhana mengamalkan Alqur’an. Itu baru, satu ayat.

Mari pelajari ayat-ayat yang lainnya. Waallahu ‘alam.

Semarang, 6 Rojab 1440

Pantaskah Kita Masuk Bulan Ramadhan?

Pantaskah Kita Masuk Bulan Ramadhan?
Oleh Agung Kuswantoro

60 hari lagi bulan Ramadhan menghampiri hambanya. Ramadhan pasti akan datang.

Pertanyaan, “apakah kita bisa menjadi tamunya (baca:menikmati bulan Ramadhan)?”

Jawabnya, belum tentu. Bisa jadi, waktu hidup di dunia yang pendek/meninggal. Atau, pas bulan Ramadhan terkena sakit. Sehingga, tidak bisa berpuasa.

Memantaskanlah mulai dari sekarang. Perbanyak zikir, puasa, sholat sunah, dan amal Sholeh lainnya.

Kencangkan jamaah di Masjid, silaturahmi sesama tetangga, dan perbanyak baca Alqur’an. Cobalah lakukan agar menjadi hamba yang pantas masuk bulan Ramadhan. Wallahu ‘alam.

Semarang, 1 Rojab 1440

60 Hari Menuju Ramadhan

60 Hari Menuju Ramadhan
Oleh Agung Kuswantoro

Mungkin kita belum pantas untuk memasuki bulan Ramadhan. Karena, dosa yang terlalu banyak.

Itulah, semangat kita untuk dapat bertadarus kelak pada bulan Ramadhan. Sehingga, mulai sekarang kita belajar tajwid agar bisa bertadarus.

Sejak Senin (4 Maret), kita berlatih makhorijul huruf hingga bacaan Ikhfa. Dengan tujuan agar Ramadhan dapat bertadarus yang benar sesuai kaidah tajwid.

Tidak muluk-muluk targetnya. Mulai dari surat at-takasur hingga al lahab bagi kelas C dan D. Sedangkan, kelas A dan B fokus pada makhorijul huruf.

Rencana tiap sore hingga menjelang buka puasa kita akan bertadarus. Tujuannya agar kita semua menjadi hamba yang cinta Alqur’an. Cinta pada kitab suci bagi orang Muslim.

Para Ustad Ustadah pun semangat belajar dengan santri. Tak bosan-bosannya, mereka mengingatkan agar sesuai bacaannya.

Itulah cara kita menyambut bulan Ramadhan. Harapannya, kami semua dapat memantaskan diri sebagai tamu Allah pada bulan Ramadhan yang suci. Bukan Ramadhannya yang sebagai tamu Allah. Tetapi, kita sebagai tamunya. Jangan-jangan tamunya tidak pantas masuk ke rumah yang dikunjungi karena ketidak siapan tamu untuk berkunjung di rumah itu. Wallahu ‘alam.

Semarang, malam 1 Rojab 1440

Iman Kepada Kitab (9): Alqur’an

Iman Kepada Kitab (9): Alqur’an

Oleh Agung Kuswantoro

 

Cara mengimani Alqur’an yang berikutnya

  1. mendadabbur/menghayati. Ini adalah tahapan setelah membaca. Seorang muslim dan mukmin tidak sekadar membaca saja, tetapi mengkaji, memahami, dan mempelajari dari pesan tiap ayat Alqur’an.

 

Dibutuhkan ilmu dalam menghayati, sebagaimana materi yang dulu yaitu ilmu-ilmu yang dibutuhkan dalam mempelajari makna (isi/pesan) dari suatu ayat Alqur’an.

 

Contoh lainnya, ada ayat “kutiba alaikumuussyiyam”. Artinya, diwajibkan atas kamu berpuasa. Dalam memahami ayat ini dibutuhkan beberapa ilmu. Ilmu tajwid, “kutiba” memakai huruf kaf, bukan huru qof. “Qutiba”, itu salah.

 

Ilmu bahasa arab. Itu dalam bentuk pasif yaitu mabni majhul, dimana fi’il yang fa’ilnya tidak disebutkan. Jika fi’il madli, maka huruf awal dibaca dhommah dan huruf sebelum akhir dibaca kasroh. Bermakna “di”. Menjadi ayat tersebut bermakna diwajibkan.

 

Lalu, muncul ilmu fiqih. Siapa yang diwajibkan berpuasa? Jawabnya, orang yang mukallaf. Yaitu, orang dewasa dan berakal. Dikuatkan dengan ilmu tauhid. Mukallaf tersebut beriman. Karena, ada orang dewasa tidak berpuasa. Atau, ada orang islam tetapi tidak berpuasa.

 

Kurang lebih seperti itu dalam mentadabbur suatu ayat. Wallahu ‘alam.

 

Bersambung.

 

Semarang, 29 Jumadil Akhir 1440

 

Iman Kepada Kitab (8): Alqur’an

Iman Kepada Kitab (8): Alqur’an
Oleh Agung Ke

Alqur’an bukanlah hiasan. Namun, ia adalah kitab yang harus kita imani. Ada beberapa cara untuk mengimani Alqur’an yaitu

1. Membaca. Tahap ini, seorang muslim baru mengenal Alqur’an. Oleh karenanya, ada sekolah/Madrasah/TPQ yang secara khusus belajar Alqur’an. Tujuannya agar mengenalnya.

Pahala bagi orang yang membaca Alqur’an adalah 1 huruf akan dibalas 10 kebaikan. Misal, kebaikan yaitu menolong orang, mengantarkan anak/istri, mengambil batu di jalan, dan kebaikan lainnya yang berjumlah 10.

Mencari dan mengamalkan 10 kebaikan, bukan perkara mudah. Namun, dengan membacanya, kita akan diberi pahala 1 huruf berupa 10 kebaikan.

Nah, bagaimana jika surat Al ikhlas (qul huwallahu ahad). Berapa hurufnya? Dan, berapa pula banyaknya kebaikan yang didapat dari orang yang membacanya? Wallahu ‘alam.

Berssmbung

Semarang, 28 Jumadil Akhir 1440

Iman Kepada Kitab (7): Alqur’an

Iman Kepada Kitab (7): Alqur’an
Oleh Agung Kuswantoro

Untuk memahami Alqur’an dengan baik dibutuhkan ilmu-ilmu seperti tafsir, tajwid, tauhid, tarekh, fiqih, sorof, nahwu, balaghoh, dan ilmu lainnya.

Mengapa membutuhkan ilmu-ilmu di atas? Karena, Alqur’an bersifat global/ijmaly. Sehingga, dalam memaknainya dibutuhkan ilmu “alat”.

Misal, ada ayat dengan artinya “dirikanlah sholat dan tunaikan zakat”. Pada Alqur’an tidak dijelaskan, bagaimana tata cara sholat, rukun sholat, sunah sholat, hal yang membatalkan sholat, dan perkara mengenai sholat lainnya. Untuk memahami hal diatas diperlukan ilmu fiqih.

Belum lagi, jika kita perhatikan lafal ayatnya. Ada kalimat “aqimus sholah”. Artinya, dirikanlah sholat. Berarti itu fiil amar, yang bermakna perintah. Lalu, kita kaitkan dengan ilmu usul fiqih. Yaitu, apabila bentuk perintah, maka menunjukkan perbuatan tersebut wajib. Jadi, sholat itu perbuatan wajib.

Kurang lebih seperti itu contohnya. Itulah Alqur’an. Dalam memahaminya dibutuhkan banyak ilmu. Belajarlah ilmu-ilmu lain agar dapat mendalami Alqur’an dengan baik. Wallahu ‘alam.

Semarang, 28 Jumadil Akhir 2019

Previous Older Entries Next Newer Entries