Madinku Sepi?

Madinku Sepi?

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Adanya full day atau sekolah selama 8 jam menjadi mengenang masa lalu saya, dimana saya pernah merasakan belajar di Madrasah Diniah Wustho (4 tahun), di madrasah Hidayatus Sibyan, dan diniah Wustho dan Ulya (6 tahun) di Ponpes Salafiah Kauman.

 

Sepulang dari sekolah (SMP – SMA) saya langsung ke Salafiah. Pulang (SMP – SMA) jam 13.30 WIB, kemudian jam 14.00 WIB langsung ke Salafiah. Demikian juga, sepulang SD, yaitu jam 12.30 WIB, langsung ke madrasah jam 14.30 WIB.

 

Pembelajaran di madrasah terstruktur dengan menggunakan kitab sesuai dengan mata pelajarannya, seperti Tauhid dengan Aqidatul Awam, akhlak dnegan Akhlaqul Lilbanin, Tajwid dengan Hidayatus Sibyan, Nahwu dengan Jurmiyah, hadis dengan Arbain Nawawi, Shorof dengan Amsilatit Tasrif, dan pelajaran yang lain.

 

Setiap mata pelajaran atau beberapa mata pelajaran diampu oleh satu ustad. Ustad memiliki pendekatan yang intens dengan santrinya. Komunikasinya pun enak dijalin. Terbuka dalam menyampaikan materi. Sesekali menjelaskannya dengan bahasa Jawa.

 

Esuk mangan padung, sore mangan dupan. Itu, kalimat yang diucapkan oleh KH. Abdullah. Selalu menyemangati saya untuk selalu mengaji dan berkata kepada saya yaitu IKHLAS. Dalam hati saya, ternyata poin ikhlaslah yang paling penting. Gimana nanti, kalau tidak ikhlas saat panas-panas malah mengaji di madrasah? Itulah poin IKHLAS.

 

Ustad Tohir pun selalu menyemangati kepada saya dengan kalimat, Insya Allah dapat HIDAYAH apabila kita mengaji. Hidayah berupa berkumpul dengan orang-orang berilmu.

 

Sekarang, apakah madrasah itu dalam ancaman, karena full day? Saya bukanlah ahli dalam pendidikan. Namun, sayang kalau madrasah itu tutup, karena kurikulumnya bagus dan mampu menghasilkan mental yang kuat bagi santri-santrinya. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 4 Agustus 2017

Mahasiswa Mengaji Aktif Lagi

Mahasiswa Mengaji Aktif Lagi

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Meskipun masa liburan perkuliahan, Mahasiswa Mengaji tetap berjalan. Pengalaman saya, yang namanya mengaji tidaklah banyak. Nabi Nuh AS saja, istrinya tidak ikut ke kapal. Justru , orang lain (bukan istrinya) yang naik ke kapal bersama hewan-hewan. Itu maknanya, dakwah itu tidaklah mudah.

 

Alhamdulillah, 3 Agustus 2017, Kajian Mahasiswa Mengaji aktif lagi. Setelah vakum ujian semester. Ada 5 orang mahasiswa yang mengaji. Bertempat di Majid Nurul Iman, Gang Pete Selatan, pukul 17.00 – 17.40 WIB. Kajian untuk kali ini menggunakan kitab tafsir “Jalallain”, dilanjut dengan membaca Al qur’an juz 30. Membaca Alqur’an dilakukan untuk membiasakan (baca: membumikan) di lingkungan saya agar membaca Alqur’an, bukan MP3 Alqur’an, tetapi suara manusia asli.

 

Selain itu, juga untuk mengingatkan pentingnya belajar Alqur’an. Siapa pun orangnya. Dan, berapa pun usianya, bahwa belajar Alqur’an itu suatu kewajiban. Bukankah, mempercayai adanya kitab suci itu termasuk rukun Iman?

 

Silakan bagi yang ada waktu, gabung tiap hari Rabu di Kajian Tafsir Jalallain. Semoga bermanfaat bagi lingkungan masjid dan sekitarnya. Amin.

 

 

Semarang, 4 Agustus 2017

 

Peserta Sangat Antusias dan Paham

Peserta Sangat Antusias dan Paham

Oleh Agung Kuswantoro

magetan

Semangat para peserta perlu diajungi Jempol. Peserta berasal dari Madiun, Magetan, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri, Bojonegoro, Tuban, dan Jombang. Mereka berkumpul di Aula SMK Negeri 1 Magetan. Antusias sekali mereka. Mereka kebanyakan berusia empat puluhan hingga lima puluhan tahun.

 

Acara dibuka oleh Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Magetan. Kesan saya dalam kegiatan ini sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB yaitu mereka sangat semangat dalam belajar. Saya menyampaikan konsep-konsep kearsipan, kemudian praktik. Acara pembukaan yang agak lama, saya harus berpikir ulang dalam manajemen waktu, sehingga pembagian waktu bisa efektif dan efesien.

 

Langsung saya memaparkan kaidah kearsipan dalam bahasa saya disebut dengan “mantra”. Setiap peserta yang akan menggunakan E Arsip Pembelajaran harus menggunakan “mantra” saya agar selamat dan benar sesuai dengan petunjuk kearsipan. Ada delapan “mantra” yang harus peserta kuasai. Tanpa memahami “mantra” mereka akan kebingungan dalam menggunakan E Arsip Pembelajaran tersebut.

 

Alhamdulillah mereka memahami “mantra” saya, sembari saya selingi dengan praktik e arsip tersebut. simulasi, istilahnya. Pesan dari peserta atas produk tersebut katanya mudah dan tidak njilemet. Langsung pada pointnya dan kental dengan kaidah kearsipan.

 

Magetan terima kasih telah memberikan ruang untuk saya untuk bisa berbagi. Saya ucapkan terima kasih secara khusus kepada Bapak Agus dan Ibu Riful yang berkenalan di udara (internet) melalui membaca tulisan-tulisan saya, sehingga atas izin Allah dari tulisan tersebut bisa silaturahmi di darat melalui pelatihan ini. Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada para peserta yang datang tidak hanya dari Magetan saja, tetapi juga kota-kota lainnya. Jaga semangatnya. Doakan, semoga saya bisa berbagi atas ilmu arsip ini keseluruh Nusantara. Amin

 

Magetan, 29 Juli 2017

Tol Fungsional dan MacQueen

Tol Fungsional dan McQueen

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Tol fungsional Pemalang – Batang saat mudik 2017 telah digunakan. Ada catatan yang menarik bagi saya yaitu ada korelasi antara film kartun McQueen dan tol fungsional. Dalam benak ingatan saya, bahwa dalam film McQueen, ada sebuah perkampungan  yang bernama Radiators Springs. Di situlah “sekolah”, McQueen dididik. Desa tersebut adalah desa yang sangat damai. Lalu lintas orang berkendara dipastikan melewati desa tersebut. Desa tersebut sangat strategis, sehingga di tempat tersebut lengkap dengan sarana dan prasarananya, seperti pom bensin, bengkel roda, bengkel mesin, rumah makan, dan wisata dengan pemandangan air terjun. Menarik siapa pun orang yang bepergian melewati tempat tersebut. Pasti ingin singgah.

 

Sayang, semenjak ada pembangunan tol, dimana daerah tersebut tidak dilalui menjadikan sepi dari pengunjung. Tol memutuskan akses menuju desa tersebut. orang yang melewati tol untuk menuju kota, lebih cepat dibandingkan yang melewati desa tersebut. nyaris, desa tersebut sepi dari pengunjung. Bengkel, pom bensin, toko roda, cat mobil menjadi sepi. Desa tersebut seperti kuburan yang tidak ada kehidupan.

 

Kisah fiktif tersebut saya langsung membayangkan tol fungsional kemarin. Dampaknya, saya rasa sama. Tetapi belum tentu merugikan banyak pihak. Buktinya lalu lintas orang yang memilih tol fungsional tidak semua mobil memilih jalur itu. Karena, namanya saja fungsional, jadi berfungsi belum secara maksimal. Debu dan pasir masih banyak berhamburan di jalan tersebut. sehingga orang memilih jalur Pantura.

 

Namun, saat tol tersebut sudah berfungsi harus diperhatikan faktor-faktor ekonomi daerah yang dilewatinya. Daerah yang dilunta dilewati (Pantura) akan terasa sepi, saat tol ini berfungsi. Kendaraan lebih memilih tol. Bayangkan Batang hingga Pemalang dengan tol, pasti cepat Batang yang terkenal dengan tempat peristirahatan warung makan dan degan di Plelen menjadi kurang pengunjung. Menjadi ancaman bagi mereka.

 

Menurut saya itulah hidup. Harus inovasi. Pembangunan tol jangan disalahkan. Mobilitas orang sekarang tinggi. Pembangunan tol tidak bisa dipungkiri lagi. Saatnya kita harus berinovasi. Atau bertahan hidup. Hidup tak selamanya kaya dan sebaliknya, hidup juga tak selamanya miskin melulu. Jadikan tol fungsional ini “tantangan”, bukan hambatan. Maju saja dan berkreasi untuk tetap bertahan hidup. Itu saja. Semoga bermanfaat.

 

 

Semarang, 27 Juli 2017

Yuk, Sholat Jamaah

Yuk, Sholat Jamaah

Oleh Agung Kuswantoro

 

Masjid adalah tempat untuk sholat. Masjid adalah tempat berkumpulnya orang Islam untuk menunaikan ibadah. Dan, masjid adalah simbol kemakmuran suatu masyarakat. Namun, keberadaan masjid ditempat tertentu tidak ramai atau seramai saat bulan Ramadhan.

 

Dalam pengamatan saya, ada beberapa masjid yang ramai sekali, saat sholat lima waktu dengan berjamaah. Saya pun pernah mengalaminya. Terasa sholat Idul Fitri. Walaupun sholat Dhuhur. Saya merasakan itu di masjid Pondok Pesantren di Tengaran Salatiga, Jawa Tengah. Bahkan, shaf-nya hingga serambi masjid penuh dengan jamaah. Rakhat dan nikmat rasanya.

 

Kondisi tersebut menjadikan saya ngiler untuk mendambakan masjid tersebut di dekat rumah saya. Minimal adzan tepat waktu ada imam yang memimpin sholat tersebut. Selama ini, Alhamdulillah sholat maghrib dan Isya sudah bisa berjalan dengan sendirinya. Ada Imam tetap dan jamaahnya juga banyak, mulai dari orang kampung, perumahan, dan mahasiswa. Demikian juga sholat Subuh. Tetapi, untuk sholat Dhuhur dan Ashar belum ada Imam yang tetap dan jamaahnya hampir kebanyakan adalah mahasiswa.

 

Menurut Muhammad H. Bashori (2016) ada beberapa faktor mengapa masjid sepi saat sholat jamaah. Pertama, iman yang kurang tebal. Faktor utama yang menyebabkan malas untuk jamaah ke masjid adalah ketidaktebalan iman dan takwa kepada Allah SWT. Sholat jamaah sebagai konsekuensi melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bayangkan, suara adzan – mungkin – akan dicuekin oleh orang yang belum terbuka hatinya (baca: beriman). Jadi, belum tentu semua orang terpanggil akan suara adzan. Hanya orang yang berimanlah yang akan bergetar hatinya. Kedua, keterbatasan pengetahuan ilmu agama. Ilmu adalah pokok aau dasar dalam menjalankan ibadah. Hampir setiap masalah membutuhkan ilmu untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Katakanlah sholat lima waktu sebagai ibadah rutin akan bermakna jika didasari dengan ilmu. Kebanyakan orang beribadah tanpa didasari oleh ilmu.

 

Ketiga, beda madzhab, seperti di masjid menggunakan qunut, kemudian ada beberapa jamaah yang tidak menggunakan qunut. Atau, juga penetapan sholat Idul Fitri yang berbeda, dan contoh yang lainnya.

 

Keempat, sholat jamaah di masjid relatif lama. Bisa juga, terlalu lama menunggu imamnya, sehingga sholawatan (baca: pujiannya) panjang. Padahal, para jamaah ada keperluan pada waktu tersebut.

 

Masih ada beberapa faktor lainnya menurut Muhammad H. Bashori, mengapa seseorang malas berjamaah ke masjid seperti lebih suka melaksanakan sholat di rumah, sibuk, masjid jauh dari rumah, ada perseteruan dengan beberapa jamaah, sakit hati terhadap pengurus masjid.

 

 

Bagi saya, faktor terpenting adalah iman dan ilmu. Iman dan ilmu sebagai dasar seseorang agar bersemangat jamaah ke masjid. Masalah beda mazhab, jarak jauh, sholat terlalu lama, dan masalah lain menurut saya itu teknis saja yang terpenting adalah perkuat iman dan ilmu, agar jamaah di masjid tetap ramai.

 

Sudahlah bangun dan makmurkan masjid dengan sholat berjamaah lima waktu saja. Modalnya ada yang jadi imam, makmum, an ada orang yang meng-adzani. Itu saja. Butuh konsisten. Wallahu’alam.

 

 

Surakarta, 21 Juli 2017

Fardu Mandi (3)

Fardu Mandi (3)

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Meratakan air – saat   mandi – air pada bagian dalam pada bisul cacar yang pucuknya ternganga. Tidak termasuk disini bagian dalam bekas koreng yang menonjol keluar dan tertutup rapat sehingga tidak tampak bagian dalamnya. Haram membelah anggota tubuh yang tergandeng asli, termasuk juga (meratai/ mengaliri air) pada – bagian di bawah (maaf) kepala dzakar bagi orang yang zakarnya masih berkulit kepala (belum sunat). Ia wajib membasuh bagian dalamnya, sebab semestinya kulit glans penis itu harus dibuang (disunat).

 

Tidak termasuk harus dibasuh (diratai air) pada dasar rambut yang tumbuh dengan sendiri (ditempat yang tidak biasa), sekalipun banyak. Berkumur dan menyesap air ke dalam hidung tidak wajib dilakukan saat mandi. Namun, jika tidak dilakukan hukumnya makruh. Saat membasuh ke anggota badan menggunakan air yang suc mensucikan. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 21 Juli 2017

 

 

Kesunahan Mandi Wajib (1)

Oleh Agung Kuswantoro

 

 

Sunah mandi wajib yaitu, (1) Diawali dengan basmallah, (2) Membuang kotoran yang suci, semisal (maaf) mani dan lendir hidung dan kotoran yang najis seperti (maaf) madzi, walaupun mencuci najis dan menyingkirkan hadas dapat sekaligus satu basuhan, (3) Kencing sebelum mandi bagi orang yang wajib mandi sebab inzal (ejakulasi sebab mengeluarkan mani), agar sisa-sisa mani ikut keluar bersama air kencing tersebut, (4) Berkumur, menyeser air  ke dalam hidung dan berwudhu dengan sempurna, setelah selesai membuang kotoran. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Bukhori Muslim.

Allah Menjadi Tempat Bertanya

Allah Menjadi Tempat Bertanya

Oleh Agung Kuswantoro

 

Saat kita bingung, kepada siapa kita akan bertanya? Hampir dipastikan jawabannya kepada  orang terdekat, seperti sahabat, Bapak/Ibu, teman, pasangan hidup, guru/ustad, dan orang yang dikasihi lainnya. Namun, saat saya membaca surat Al Kahfi ayat ke-19 ada yang menarik.

 

Sahabat Kahfi – sahabat yang ditidurkan oleh Allah di Gua – terbangun dari tidurnya. Kemudian, diantara mereka bertanya, “Sudah berapa lamakah kamu berada disini (gua)?” diantara mereka menjawab, “Kita berada disini sehari atau setengah hari”, berkata (teman yang lain): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada disini”. Maka menyerulah diantara mereka untuk pergi ke kota dengan membawa uang perak.

 

Uang perak sebagai tanda waktu kapan ia tertidur hingga terbangunnya. Biasanya, setiap kepemimpinan atau beberapa pemimpin mengeluarkan jenis-jenis uang baru pada periode kepemimpinannya. Misal, pada era Jokowi mengenalkan uang dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu, lima puluh ribu, dan seratus ribu yang terbaru.

 

Sangat tepat, jika salah satu diantaranya (Sahabat Alkahfi) untuk keluar dari Gua untuk mengetahui berapa lama ia tertidur di dalam Gua. Ternyata mereka tertidur selama 309 tahun. Wow lama sekali.

 

Dalam lanjutan ayat tersebut, mereka diperintahkan untuk membeli makanan yang halal, dan baik, serta berkata yang lemah lembut. Allah memang membimbing dan memberi petunjuk bagi yang dekat pada-Nya. Sampai masalah makanan saja untuk membeli makanan yang halal dan baik. Tidak semua makanan, mereka makan. Biasanya orang habis tidur (atau bangun tiur) dalam keadaan lapar. Apalagi tidurnya bertahun-tahun. Jelas lapar. Namun, Allah memberikan pelajaran kepada kita yaitu sabar dalam mencari makan.

 

Tidak cukup dalam masalah makanan, tutur kata pun harus dijaga. Allah mengatakan dengan kalimat “lemah lembut” atau “walyatalattof”. Bicara saja lemah lembut, padahal posisi lapar. Bayangkan orang lapar, biasanya emosi, perkataannya keras – kadang kotor -, bahkan saat makan lupa tidak berdoa.

 

Pembelajaran dari satu ayat ini adalah (1) jika punya pertanyaan atau masalah bertanyalah langsung kepada Allah, jangan ke manusia, nanti banyak kecewanya, (2) carilah makanan yang halal dalam kondisi apa pun, meskipun terdesak. Apalagi kita sebagai suami dalam mencari nafkah. Uang yang diperoleh benar-benar halal, (3) tetap berkata lemah lembut dalam keadaan susah. Akhlak haru dijaga dalam kondisi apa pun. Senang dan susah, perkataan seseorang harus diperhatikan. Waallahu’alam.

 

 

Semarang, 20 Juli 2017

Previous Older Entries Next Newer Entries