Kajian Arbain Nawawi (39): Berkata Baik Atau Diam?

Kajian Arbain Nawawi (39): Berkata Baik Atau Diam?

Oleh Agung Kuswantoro

Hadist ke-15 dari kitab Arbain Nawawi menyebutkan “Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah berkata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka muliakanlah tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka muliakanlah tamunya”.

Hadist tersebut mengandung empat akhlak penting. Yaitu, pertama, kualitas iman seseorang terhadap Allah SWT dan hari Akhir ditentukan oleh sikapnya terhadap dirinya – yaitu berkata baik atau diam – dengan manusia lain khususnya sesama Muslim.

Kedua, berkata yang baik lebih utama dibandingkan diam. Namun, jika tidak bisa berkata baik, diam lebih utama. Ini yang berbeda dengan pemahaman budaya “orang barat” yang menyebutkan silent is gold (diam itu emas). Imam al-Nawawi rahimahullah berkata: “Kami telah meriwayatkan dari Ustadz Abu al-Qasim al-Qusyairi rahimahullah, dia berkata, “Diam membawa keselamatan dan itulah hal yang menjadi dasar.

Menurut Kiai Hasan (2020) mengatakan: diam pada waktunya adalah sifat kesatria laki-laki sebagaimana berbicara pada tempatnya merupakan di antara perangai paling mulia.” Dia (al-Qusyairi) berkata, “Aku mendengar Abu Ali ad-Daqaq berkata, “Barangsiapa yang diam dari kebenaran maka dia adalah setan bisu.”

Bersambung.

Semarang, 1 Oktober 2022

Ditulis di Rumah jam 18.00-18.12 Wib.

Sumber rujukan:

Kitab Azwadul Musthofawiyah karangan KH Bisri Mustofa, Rembang.

Kitab Majalis Saniah, Karangan Syeikh Ahmad Bin Syeikh Al-Fasyaini.

Hasan, F.N. 2020. Syarah Hadist Arba’in An-Nawawi. Depok: Gema Insani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: