Gentong retak

Oleh : Agung Kuswantoro

Ada seorang pemuda yang bekerja pada majikannya. Pemuda itu adalah pekerja yang bertanggung jawab. Setiap pulang dari rumah majikannya, pemuda itu selalu membawa dua gentong air bersih dari rumah majikannya untuk dibawa ke rumahnya. Sebab di rumah pemuda itu, air bersih sangat sulit.

Pemuda itu memiliki gentong pemberian majikannya. Tapi, hanya satu gentong saja yang bagus. Gentong satunya retak. Tapi walau retak, pemuda itu masih saja mempergunakan gentong itu. Gentong retak itu masih bisa memuat air, meskipun hanya setengah gentong.

Saat perjalanan pulang dari rumah majikannya, air dalam gentong retak menetes di sepanjang jalan. Ketika, pemuda sampai di rumahnya, air dalam gentong retak itu sudah tinggal separuh, begitu seterusnya. Kegiatan ini berlangsung selam dua tahun lamanya.

Hingga sampailah pada suatu hari, gentong yang retak itu menangis. Gentong itu berkata pada pemuda , kenapa ka masih menggunakan jasaku? Padahal, kau tahu aku ini gentong yang retak. Kenapa kau tidak minta atau beli gentong baru yang dapat menampung air banyak?

Mendengar itu, pemuda itu tersenyum. Ikutlah aku kata pemuda itu. Ia pun menenteng gentong retak itu keluar rumah, melewati jalan-jalan yang penuh dengan bunga-bunga.

Apa maksudmu mengajakku ke sini? Tanya gentong retak?

Lihatlah bunga-bunga itu, kata pemuda itu. Mereka bisa tumbuh dengan indah karena tetesan air mata dari wujudmu yang retak itu. Itulah, kenapa aku mempertahankanmu ssampai sekarang, dan berjanji akan terus menggunakanmu.

Melihat dari cerita di atas, bahwa genntong yang retak ada beberapa pelajaran yang diambil. Alangkah naifnya, jika seseorang menilai dari segi lahirnya saja. Apakah kesempurnaan fisik, terjamin ketenteraman hidup seseorang?

Cinta membuat keindahan fisik menjadi tidak prioritas dalam mencapai kebahagiaanya. Keindahan fisik bukanlah fondasi utama, bukanlah sesuatu yang prinsip dan harus ada dalam sebuah  hubungan percintaan dan kasih sayang. Yang menjadi tombak dan tegaknya dan kokohnya terhadap peran dan jasa pasangannya. Semakin tinggi penghargaannya, semakin mantap dan tenang hatinya. Sebaliknya, semakin rendah penghargaannya, semakin tidak puas dan kecewa hatinya.

Penulis  Orang yang lagi belajar masalah hati, ide di dapat dari buku pengorbanan kupu-kupu

8 Komentar (+add yours?)

  1. Ikha prima
    Des 30, 2011 @ 07:28:48

    Tiada gentong yang tak retak peribahasanya ya pak😉
    Tapiii..kereeenn kereennn… d^.^b

    Balas

  2. dani
    Des 30, 2011 @ 08:03:45

    tak ada manusia yang sempurna,,,kesempurnaan hanyalah milik Sang Khalik,,,

    Balas

  3. dani
    Des 30, 2011 @ 08:06:44

    Salut untuk sang pemuda yang bisa melihat sisi baik dari suatu ketidaksempurnaan,,,,

    Balas

  4. latife
    Jan 11, 2012 @ 13:51:24

    sippp…
    “jgn prnh tkut mnggapai ksmpurnaan, krn qt tdk akn mncapainya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: