Taraweh Kedelapan Belas : Batal dan Sunah Puasa

Pada malam kedelapan belas solat taraweh di musolla Pak Bahrul, saya bertugas sebagai Imam dan khotib kultum. Sebenarnya, saya menggantikan Pak Bahrul yang tidak mengetahui, bahwa malam ini, Beliau bertugas sebagai khotib kultum. Oleh karena, Pak Bahrul belum menyiapkan materi. Beliau meminta saya untuk menggantikannya. Saya pun, memahami posisi saya, sebagai cadangan khotib kultum, maka meng-amin-i permintaan Beliau. Namun, Beliau tetap bertugas sebagai bilal solat.
Materi kultum saya adalah bab yang membatalkan dan sunah puasa, yang sebelumnya mengenai syarat dan rukun puasa. Kitab rujukan saya adalah safinatun najah dan fathul qorib. Dijelaskan, hal yang membatalkan puasa ada sepuluh. Dalam kitab tersebut disebutkan secara detail. Namun, dalam penyampaian khutbah, saya tidak menyampaikan secara vulgar. Saya menggunakan bahasa kias. Hal ini, saya lakukan karena saya juga menjaga norma dalam berbicara. Jangan sampai, saya dikatakan sebagai ustad porno, hanya karena pemaparan yang terlalu vugar.
Misal dikitab, dijelaskan istilah khasafah. Kata tersebut, jika saya maknai, maka terlalu vulgar. Terlebih, penyampaian materi saat kultum, bukan kajian rutin, sebagaimana dalam pengajian. Sehingga, saya membuat kerangka sendiri, bahwa yang membatalkan puasa pada intinya, yaitu memasukkan dan mengeluarkan sesuatu (barang) melalui lubang depan, belakang, atas, dan bawah. Memasukkan sesuatu melalui lubang depan dan posisinya berada di atas, seperti makan, minum, menelan air ludah yang jatuh ke tenggorakan, dan lainnya. Memasukkan sesuatu melalui lubang depan dan posisinya di bawah, seperti memasukkan benda (khasafah) ke alat vital, meskipun hanya sedikit. Demikian juga, memasukkan sesuatu melalui lubang belakang dan posisi di bawah, seperti memasukkan benda ke dubur. Mengeluarkan sesuatu melalui lubang depan dan posisi di atas, seperti muntah dengan sengaja. Demikian juga, mengeluarkan sesuatu melalui lubang depan dan posisi di bawah, seperti khaid, wiladah,dan nifas.
Sedangkan Sunah puasa ada tiga, yaitu menyegerakan buka puasa, mengakhiri sahur, dan tidak berkata buruk (berdusta, menggosib, ngerasi, dan lainnya). Seseorang yang puasa, tetapi menggosib, maka puasa tersebut menjadi sia-sia, karena yang Ia peroleh berupa lapar dan haus.
Mari kita jaga ibadah puasa kita dengan berdikir, tadarus, solat sunah, dan ibadah lainnya. Agar, ibadah kita diterima oleh Alloh, sehingga kita mendapatkan gelar muttaqin di mata Alloh.
Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam kedelapan belas di musolla Pak Bahrul. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin
Agung Kuswantoro, warga perum sekarwangi sekaran semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: