Taraweh Hari Kelima : Ada Lafal yang Tertinggal

Solat taraweh di hari keempat, ada yang spesial yaitu dengan kehadiran anak saya (Muhammad Fathul Mubin) dan istri (Lu’lu’ Khakimah). Yang sebelumnya, “penyemangat jiwa” saya sedang diberi nikmat yaitu istri sedang haid, sehingga belum bisa datang ke musolla pak Bahrul.

Ada yang tidak sreg di hati saya saat membacakan doa setelah solat taraweh di rokaat keempat yaitu subbukhun robbuna malaikati warruhu. Demikian juga pada doa setelah rokaat kedelapan yaitu subbukhun robbuna malaikatu warruhu. Kemudian, saya mengkaji berdasarkan ilmu yang pernah dulu saya pelajari.

Pada kata malaikati warruhu, sangat aneh (janggal), karena lafalnya diakhiri dengan bacaan kasroh. Tetapi di doa berikutnya (setelah rokaat kedelapan) dibaca malaikatu warruhu. Dibaca dengan harokat dhomah.

Setelah saya pelajari, ternyata ada satu kalimat yang tertinggal dari tulisan yang saya bagikan kepada jamaah yaitu kalimat robbuna sebelum kata malaikati warruhi. Dengan tambahan kalimat robbuna menjadikan struktur kata secara nahwu dan pemaknaan tepat.

Saat saya melafalkan saya menambahkan kalimat robbuna, jamaah pun mengikutnya. Alhamdulillah, terasa nikmat sekali mendengar jamaah mengikuti kalimat tambahan yang sebelumnya tidak ada.

Di hari itu, saya belum memberitahukan kepada jamaah tentang penambahan satu kalimat tersebut. Saya berharap akan menyampaikannya, ketika menjadi khotib kultum, sehingga dalam pemaparannya akan lebih jelas, termasuk makna dari doa tersebut per kalimat. Yang terpenting bagi saya, saat itu, jamaah mampu mengikuti tambahan satu kalimat tersebut.

Taraweh Hari Keenam : Memaparkan Makna Doa yang Dilafalkan

Pada taraweh hari kelima, alhamdulilah pak Wid, selaku inisiator dapat bergabung dengan kami dalam jamaah solat isya dan taraweh berjamaah. Kebetulan beliau juga pada taraweh di hari keenam, beliau menjadi khotib kultum. Pada hari sebelumnya (taraweh hari kelima) beliau menyampaikan belum siapnya menjadi khotib pada besok, sehingga posisi beliau diganti oleh saya, sebagaimana dalam jadual cadangan khotib kultum.

Kultum saya mengenai makna doa yang dibacakan saat solat taraweh dan witir. Saya memaknai per lafal, dengan tujuan jamaah memahami filsofi yang ada dalam doa tersebut. Doa yang jamaah ucapkan, sebagaimana doa dalam hadis, yang telah saya catat dalam kertas folio sejumlah tujuh halaman.

Biasanya, jamaah membacakan doa perlafal sesuai dengan lafal yang telah diucapkan oleh imam. Misal, Imam mengatakan subhanalloh, makmum akan menjawab subhanalloh. Demikian juga, saya memaknainya berdasarkan lafal, seperti doa yang saya tulis kepada jamaah. Format doa yang saya tuliskan kepada jamaah adalah urutan mulai bilal memulai solat taraweh, hingga selesai solat witir.

Dalam kultum saya juga menyampaikan mengenai niat puasa yang biasanya dibacakan setelah doa solat witir. Saya memaparkan bahwa niat puasa di bulan romadhon, menurut ulama dilafalkan pada malam hari, karena puasanya hukumnya wajib, sebagaiman dalam lafal niat nawaitu shauma ghodin an ada’i fardi syahri domadhoni lillahi taala.

Dari niat itu ada dua penekanan yang saya sampaikan kepada jamaah. Pertama, kata ghodin artinya besok. Maksudnya bahwa saya brepuasa untuk hari esok. Berarti niat puasa yang dilafalkan pada malam mini, berlaku untuk esok pagi. Sehingga, ada pendapat bahwa itulah ciri khusus puasa wajib, yaitu niatnya harus dilafalkan pada malam harinya. Sebagai imam harus mampu mengajak jamaah untuk mengingatkan setelah solat witir untuk mambaca bersama-sama niat puasa.

Kedua, kata romadhoni dibaca kasroh. Berdasarkan ilmu yang pernah saya dapatkan dulu waktu di pondok pesantren salafiah, bahwa kata romadhoni adalah mudhof ilaih sehingga akhirnya harus dibaca kasroh. Untuk mengetahui lebih jelasnya alasan ini, dapat mengkajinya dalam kitab imrity atau alfiah.

Kemudian saya menyampaikan juga mengenai sholawat saat salaman antar jamaah di akhir doa penutup yaitu shollaalloh ala Muhammad, shollaalloh alaihi wasallam, salloalloh ala Muhammad, ya robbi solli wa sallim. Hal yang perlu diperhatikan bahwa saat melafalkan sholla, maka diakhirnya menjadi wa sallam. Karena kata sholla memakai tanda fathah, sehingga kata sallam pun memakai tanda fathah. Demikian juaga kata sholli memakai tanda kasroh, sehingga kata sallim pun memakai tanda kasroh.

Saya menutup kultum dengan meminta maaf kepada jamaah atas tulisan yang saya bagikan kepada jamaah atas kurangnya lafal robbuna. Setelah itu saya ajak jamaah berdoa agar di bulan penuh berkah kita bisa selalu memuji dan mohon ampunan kepada Alloh SWT.

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari keenam. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungannya. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan berkah. Amin

Agung Kuswantoro, warga perum sekarwangi sekaran semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: