Taraweh Kedua Dua : Naik Kelas dan Sedih

Pada taraweh kedua puluh dua, secara jadual Bilal adalah Pak Bahrul, khotib kultum adalah Pak Sidik, dan Imam adalah saya. Namun, karena Pak Sidik tidak berangkat digantikan oleh ustad Amin.

Ada yang berbeda dalam taraweh malam itu, yaitu tempat yang biasanya dilakukan di musolla Pak Bahrul. Tetapi, taraweh malam itu dilakukan di rumah Pak Wisnu. Para jamaah diundang oleh beliau, untuk buka puasa bersama, solat magrib, isya, taraweh, dan witir berjamaah di rumah beliau. Hal ini dilakukan dalam rangka tasyakuran anak beliau yang kedua yaitu mba Sasa.

Sore hari, jamaah musolla berangkat ke rumah pak Wisnu untuk menghadiri undangan beliau. Anak-anak seperti Pamor, Khalisa, Noval, Della, Mubin, dan lainnya pada datang ke rumahnya. Mereka didampingi oleh orang tuanya. Selain dari warga perumahan dan sekitarnya, juga ada dari teman-teman, serta Saudara-saudara Pak Wisnu yang turut meramaikan acara tersebut.

Saya pun mendatang dan bergabung dengan jamaah lainnya yang sudah berangkat duluan. Saya duduk bersama dengan Pak Dian, Pak Slamet, dan bapak-bapak yang lain (tamu Pak Wisnu).

Kultum buka puasa oleh ustad Amin dari Ngalian, Semarang. Saya mendengarkan kultum beliau mengenai berubah menjadi lebih baik. Beliau menjelaskan secara detail dari segi psikologi. Saya mencoba mencari informasi mengenai latar belakang beliau. Saya bertanya kepada Pak Dian, ternyata beliau mengenalnya, bahwa beliau adalah seorang motivator. Beliau biasa mengisi di acara-acara kantor dan sekolahan. Kedudukan beliau masih asisten motivator. Pak Dian mengenalnya, dikarenakan Pak Dian pun seorang motivator di kantornya. Jadi, beliau mengenal ustad Amin, karena pernah bertemu dengan beliau.

Azan magrib berkumandang. Maknanya adalah buka puasa. Para tamu pun berbuka puasa. Mereka minum teh anget dan minuman es buah blewah yang telah disediakan Tuan rumah. Terlihat juga, ada yang langsung makan nasi kuning yang tersaji di depan mereka.

Setelah mereka selesai makan dan minum. Kita semua solat magrib berjamaah. Saya dimintai tolong untuk memimpin solat magrib.

Tiba saatnya, solat isya. Jamaah bersiap untuk solat isya, taraweh, dan witir. Saya datang ke rumah Pak Wisnu. Jamaah sudah kumpul, sehingga iqomah. Petugas solat taraweh sebagaimana di atas.

Saya meng-imam-i, sebagaimana saya memimpin solat di musolla Pak Bahrul. Artinya, kebiasaan yang selama ini dengan jamaah, saya jaga. Seperti setelah solat isya, saya dan mereka berdikir hingga berdoa secara bersama-sama. Kemudian, solat suna ba’diah, bila mengumumkan petugas solat taraweh, berdoa setiap empat rokaat, berdoa setelah solat taraweh, kultum, berdikir setelah witir, dan niat puasa untuk esok, serta solawat Nabi disertai dengan bersalaman, sebagai tanda bahwa kegiatan solat berjamaah telah usai.

Kebiasaan ini saya jaga, karena tujuan kita saat awal adalah belajar. Alhamdulillah, hingga saat ini masih terbentuk pola tersebut. Saya menyadari, bahwa rintisan kegiatan solat taraweh berjamaah dalam rangka untuk memfasilitasi para warga perumahan dan sekitarnya untuk solat bersama-sama. Karena, tempat kami jauh dari tempat ibadah.

Demikian juga, sebagai sarana pembelajaran buat kita. Sebelumnya saya sendiri, belum menjadi imam secara continue di suatu tempat. Pak Bahrul belum pernah menjadi Bilal dan khotib kultum. Demikian juga Pak Wiwid, Wisnu, Lukman, Anom, dan Dian yang memiliki pengalaman belum pernah tampil di depan.

Sehingga, komitmen itulah yang benar-benar saya jaga dengan mereka. Konsep belajar dan memfasilitasi sebagai prinsip utama dalam kegiatan ini. Konsep belajar, dimaknai sebagai wadah pembelajaran buat tiap individu yang menjadi imam, khotib, bilal, makmum, doa, dan dizir. Konsep memfasilitasi, dimaknai sebagai tempat musolla yang dapat menjadikan mudah kita dalam beribadah kepada Alloh, tanpa harus mencari tempat ibadah yang jauh.

Materi khutbah kultum malam itu adalah naik kelas dari abangan (pengikut), belajar, dan ulama. Untuk yang kedua saya mencatatnya belajar (saya lupa istilahnya, untuk mempermudahkannya, saya mencatat itu). Beliau memaparkan beberapa ciri dari masing-masing kelas. Ciri kelas abangan yaitu tidak mengetahui dasar, konsep, dalil mengenai suatu masalah. Ia hanya ikut-ikutan dari orang yang dilihatnya. Misal, ada pernikahan, Ia menikah. Tetapi, Ia tidak mengetahui dalil yang menganjurkan menikah, syarat, rukun, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan menikah. Ciri kelas belajar yaitu ia mengetahui dalil, konsep, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan itu. Misal pernikahan. Ia mengetahui dalil di alquran dan hadis mengenai anjuran menikah, bahaya, syarat, rukun, dan lainnya yang berkitan dengan menikah. Ciri ulama yaitu menjadi sumber pertanyaan bagi orang lain. Ia mahir dan mengaplikasikan nilai-nilai ajaran di agama Islam,sehingga ia menjadi rujukan bagi orang awam dan pembelajar dalam mengkaji agama Islam. Harapannya kita dapat naik kelas. Sehingga, kita dalam memahami Islam dapat secara utuh dengan mengetahui dalil-dalil di alquran dan hadist. Wallahu ‘alam

Sedih

Keberadaan tempat, tidak menjadi masalah. Asalkan, prinsip belajar dan memfasilitasi terpenuhi. Namun, jika kelak ada musolla baru, maka prinsip tersebut dapat gugur. Karena, diserahkan pada takmir yang mengelola musolla.

Hal itulah yang menjadi kesedihan saya, saat di tempat baru. Saya memperhatikan jamaah, terutama ibu-ibu tidak bisa hadir di malam tersebut. Saya memang belum menanyakan kepada mereka tentang alasan mereka berhalangan hadir berangkat solat. Justru, yang banyak adalah jamaah tamu dari tuan rumah. Meskipun, yang hadir banyak dari luar jamaah yang biasanya hadir (tamu). Saya dalam memimpin solat, melakukannya, sebagaimana saya melakukan di tempatnya Pak Bahrul. Hal ini saya lakukan, agar kebisaan dan pembelajaran sejak awal Romadlon tidak hilang. Pola mereka sudah terbentuk. Jadi tamunya yang mengikuti pola jamaah sebagaimana solat seperti biasanya.

Pada malam itu, saya sedih karena beberapa hal. Pertama, jamaah perempuan (Ibu-ibu) sedikit yang hadir, seperti Bu Rina, Tuti, Adi, dan Lu’lu’. Padahal disaat buka bersama, mereka hadir. Demikian anak-anak yang biasa solat juga sepi, seperti Pamor, Mubin, Della, dan Nopal. Padahal, saat buka puasa bersama, mereka pun hadir. Meskipun, anak-anak saat solat, mereka ramai. Namun, bagi saya itu adalah pembelajaran dalam mengenalkan ibadah (solat). Pada malam itu, justru saya kangen dengan terikan atau suara mereka, yang biasanya saya dengar setiap menitnya. Bahkan, dari diantara Ibu-ibu ada yang membatalkan dan mengemong anaknya, agar tidak ramai dan mengganggu jalannya solat. Hal ini demi mengenalkan solat kepada anak.

Kedua, mengubah prinsip. Salah satu prinsip kita menyelenggarakan solat taraweh berjamaah adalah belajar dan memfasilitasi. Prinsip belajar menjadi hilang. Saya menyadari kelemahan saya saat menjadi Imam masih membuat catatan kecil dalam membacakan ayat-ayat tertentu dan berdoa dengan membawa teks (doa solat taraweh). Pak Bahrul, saat mengisi kultum, beliau menyiapkannya dengan matang. Ia meluangkan waktu pada siang harinya untuk searching materi di google. Setelah dapat beliau mencatatnya di HP, kemudian Ia bacakan saat menyampaikan materi. Demikian juga Pak Lukman, ia mencatat materi di HP, dan dibacakan materi tersebut saat di depan jamaah. Artinya, mereka mau belajar. Belajar itu berproses. Para jamaah pun menyadarinya, bahwa kita semua adalah pembelajar. Jika ada yang salah, mereka tidak akan menertawakan.

Jika kita memanggil orang luar. Bukan berarti kita, tidak belajar. Justru dengan adanya orang luar, kita dapat minta tolong untuk dikoreksi. Sehingga, kita tetap belajar. Hal yang menjadikan saya sedih, pada malam itu adalah pola pembelajaran tidak ada. Artinya, kita pasif sebagai pendengar dari materi pembicara dari luar.

Saya berpendapat, kita dalam pelaksanaan salah. Namun, setelah kita mengetahui akan kesalahannya, akan kita perbaiki. Dengan cara itu, ada usaha dalam diri kita. Jika ada pembicara dari luar, maka seharusnya yang mengisi kegiatan adalah orang kita sendiri. Bukan dari luar, orang dari luar yang menyesuaikan dengan keadaan kita.

Prinsip memfasilitasi juga hilang, karena dengan adanya beda tempat jamaah menjadi berkurang. Untuk prinsip ini, menurut saya harus dikaji terlebih dahulu, karena banyak factor yang mempengaruhinya.

Demikian teman-teman cerita taraweh saya di hari malam kedua puluh dua di musolla Pak Wisnu. Semoga cerita ini menjadi motivasi kita untuk berbuat baik. Dan, jauhkan rasa kesombongan diri kita. Saya menuliskan cerita ini sebagai doa, tidak bermaksud ria atau pun yang lainnya. Apa yang dituliskan berdasarkan pendapat subjetif dari saya, yang belum tentu benar. Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia pembelajar di lingkungan kita. Semoga Alloh mengampuni dosa kita semua di bulan yang penuh berkah. Amin
Agung Kuswantoro, warga perum sekarwangi sekaran semarang, email : agungbinmadik@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: