Panas Terasa Adem

Panas Terasa Adem

Oleh Agung Kuswantoro

Pembelajaran Madrasah tingkat wustho dan ulya di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang dimulai jam 14.00 WIB hingga 17.00 WIB. Semua orang tahulah, bahwa siang – terlebih jam dua siang – pasti panas suasananya.

“Bagaimana, jika Anda jalan atau naik sepeda ontel selama dua atau tiga kilometer pada jam tersebut selama enam hari dalam enam tahun?” Jawabnya: “panas dan capek. Atau, melelahkan”.

Ada “pemandangan” yang berbeda saat saya pulang kampung ke Pemalang. Saya melihat santri-santri Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang dari arah pantai Widuri, dimana pada jam tersebut sedang mengayuh sepeda ontel di jalan menuju Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang, tepat jam dua siang. Cuaca yang panas itu, berlaku bagi semua yang ada di jalan tersebut.

Menurut saya, santri-santri tersebut tidak merasa “sumuk”, panas, dan capek. Mereka justru, bersemangat mengayuh sepedanya. Mengapa mereka bersemangat? Karena, dalam diri mereka sudah menyadari bahwa ilmu itu wajib dicari. Ilmu “agama” dengan tingkatan wustho dan ulya di Pemalang itu hanya di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang.

Jika adanya di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang, maka yang dituju hanya Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang saja. Tidak ada tempat yang lainnya. Mengingat tempatnya, hanya di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang saja, maka menjadi wajib dituju di tempat tersebut.

Sahabat saya, namanya Tasihin, rumahnya Bungin Danasari, jarak dari Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang ke tempat tinggalnya kurang lebih 8 kilometer. Ia selama 6 tahun mengayuh sepedanya pulang pergi pada jam dua siang. Jika ditanya: “Apakah panas saat naik sepeda pada jam dua siang menuju Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang?” Pasti dia jawabnya: “panas”. Tapi, dalam suasana panas, ada dingin dan ketenangan batin yang dirasakan.

Santri-santri tersebut menurut saya itu, pilihan Allah untuk meninggikan derajat bagi seorang hamba-Nya. Bisa jadi, banyak orang yang dekat di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang atau orang yang dilewati saat santri itu menuju Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang, namun tidak “terpanggil” untuk belajar di Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang tingkat wustho dan ulya. Jadi, tidak sembarang orang bisa menikmati suasana pembelajaran di Pondok Pesantren yang terletak di jatung kota berjulukan Ikhlas tersebut.

Saya sebagai alumni Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang, jika boleh berpesan kepada santri yang sedang menuntut ilmu, hanya bisa berkat: ”sabar dan tetap semangat, Insya Allah nanti Allah akan mempermudah urusan para santri”. “Lihatlah masa depan Anda 10 tahun lagi, Insya Allah sukses.” Masa Allah membiarkan hamba-Nya yang sudah membela di jalan dan melakukan kewajibannya dalam mencari ilmu. Wallahu ‘alam.

Semarang, 30 Juni 2021

Ditulis di Rumah, jam 05.30-05.40 WIB.

Tulisan ini sudah seizing oleh Tasihin. Gambar yang tertera belum seizing dari yang ada di gambar, karena posisi saya dalam perjalanan dan yang bersangkutan, juga sedang di jalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: